Friday, April 22, 2016

Kompas Edisi Jumat 22 April 2016

Kompas Edisi Jumat 22 April 2016

Perburuan Aset Jadi Target

Samadikun Hartono Ditahan di Rutan Salemba


JAKARTA, KOMPAS — Pemulangan buron perkara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, Samadikun Hartono, ke Tanah Air oleh tim satuan tugas pemburu koruptor patut diapresiasi. Perburuan aset Samadikun dan terpidana BLBI lainnya menjadi target selanjutnya aparat hukum.

Berdasarkan rekapitulasi barang rampasan yang ditangani Pusat Pemulihan Aset periode Januari-Desember 2015, tercatat ada sejumlah aset milik bekas buron perkara BLBI, yaitu Komisaris Bank Harapan Santosa Hendra Rahardja dan Direktur Utama Bank Umum Servitia David Nusa Wijaya.

Sebagian dari aset itu sudah dilelang lewat Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang. Meski belum ada data pasti, jumlah aset yang dilelang belum mampu mengembalikan potensi kerugian keuangan negara akibat penyalahgunaan dana BLBI yang besarnya hingga Rp 138,4 triliun.


CALON PERSEORANGAN

Presiden Tak Ingin Persyaratan Dipersulit


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo tidak ingin syarat dukungan calon perseorangan pada pemilihan kepala daerah dipersulit. Presiden pun meminta Kementerian Dalam Negeri bertahan dengan syarat dukungan yang sudah ada, yaitu minimal 6,5-10 persen dari jumlah pemilih dalam daftar pemilih tetap pemilu terakhir di daerah terkait.

Upaya mayoritas fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat untuk menambah syarat dukungan bagi calon perseorangan, yaitu menjadi 11,5-15 persen dari jumlah penduduk atau minimal 10 persen dari jumlah penduduk di sebuah daerah, justru akan merugikan partai politik. Partai akan makin ditinggalkan rakyat karena dinilai hanya memikirkan dirinya sendiri.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mengingatkan, ide awal dibukanya kesempatan bagi calon perseorangan dalam pillkada adalah agar calon yang diusulkan dari aspirasi masyarakat, tetapi tidak mempunyai kekuatan parpol, tetap bisa berlaga.



Daerah Terisolasi

Ketangguhan Warga di Pulau Serua


Dari Pulau Serua, Maluku, Edo Ritiau (53) menyapa temannya melalui radio single- sideband. Suara dari pulau kecil di tengah Laut Banda itu merambat cepat lewat udara, menembus jarak 200 mil laut atau 370,4 kilometer. Suaranya menjangkau Pulau Seram, Maluku.

Beberapa detik berselang, suara Edo disambut "Wiski Papa", nama radio  single-sideband (SSB) di Waipia, Pulau Seram. Edo langsung membuka percakapan dengan menyebut nama stasiun SSB miliknya, "Mori." Pagi itu, ia menanyakan jadwal keberangkatan kapal perintis dari Pulau Seram ke Serua.

Radio SSB menjadi satu-satunya alat komunikasi keluar pulau. Radio yang dibeli Edo seharga Rp 8 juta itu dipakai bersama warga Serua. Aliran daya untuk radio menggunakan aki yang dicas dengan listrik tenaga surya. Radio membuat Serua dan Waipia serasa lebih dekat.