Thursday, April 28, 2016

Kompas Edisi Kamis 28 April 2016

Kompas Edisi Kamis 28 April 2016

Polisi Fokus pada Pelaku

Ganjar: Kasus Penembakan Resahkan Masyarakat


JAKARTA, KOMPAS — Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal (Pol) Badrodin Haiti mengatakan, kepolisian memfokuskan pada penangkapan para pelaku. Hal ini menjadi prioritas karena polisi ingin mengungkap motif kejahatan para pelaku penyayatan dan penembakan.

Badrodin telah menginstruksikan Kepolisian Daerah Jawa Tengah membentuk tim untuk membantu tugas jajaran Kepolisian Resor Magelang.

"Untuk menangkap pelaku dan mencegah kejadian serupa semakin meluas, saya telah menugaskan Polda Jateng memberikan tim bantuan untuk mendukung operasi pengungkapan kasus itu di Magelang. Penangkapan pelaku merupakan langkah utama untuk mengetahui motif penembakan," kata Badrodin di Jakarta, Rabu (27/4).


Pengampunan Pajak

Pemerintah Siapkan Payung Hukum Alternatif


TANGERANG, KOMPAS — Pemerintah menyiapkan pilihan payung hukum alternatif mengenai perpajakan jika pembahasan Rancangan Undang-Undang Pengampunan Pajak meleset dari target. Alternatif yang dimaksud adalah dengan menerbitkan peraturan pemerintah tentang deklarasi pajak yang semangatnya selain memperbaiki basis data juga meningkatkan pendapatan dari sektor pajak.

Presiden Joko Widodo mengungkapkan alternatif itu saat di Tangerang, Banten, Rabu (27/4), saat ditanya jurnalis mengenai RUU Pengampunan Pajak.

"Proses pembahasan RUU (Pengampunan Pajak) itu ranahnya ada di DPR. Yang paling penting sudah ada proses ke sana," kata Presiden Jokowi, kemarin.

Namun, pemerintah mengantisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya pembahasan RUU itu gagal atau meleset dari target waktu yang diharapkan. "Kami sudah menyiapkan peraturan pemerintah (PP) kalau pembahasan RUU Pengampunan Pajak ada masalah. PP tentang deklarasi pajak itu bisa. Tak harus tergantung dengan UU Pengampunan Pajak," kata Presiden.


WARGA PERBATASAN

Mereka Juga Ingin "Merasakan" Indonesia


Rulan Malang (39) dan beberapa nelayan asal Pulau Lirang, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku, harus menyeberang ke Dili, Timor-Leste. Hal itu dilakukan untuk membeli es batu yang akan digunakan untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan mereka.

Satu balok es batu dengan bobot sekitar 2 kilogram (kg) itu dibelinya dengan harga 20 sen dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 2.600. Setiap kali ke Dili, Rulan membeli maksimal 300 balok es sekaligus untuk menghemat energi. Waktu tempuh dari Dili ke Lirang 4 jam dengan risiko pelayaran yang tinggi. Jika perahu digulung ombak, tak jarang es balokan itu dikurangi, bahkan dibuang semuanya ke laut untuk menjaga keseimbangan.

Ia terpaksa membeli es balok di Dili karena di Lirang tidak ada produksi es batu atau ruang pendingin penampung hasil tangkapan nelayan. Warga di pulau berpenduduk sekitar 1.300 jiwa itu hanya mengandalkan listrik tenaga surya untuk kebutuhan penerangan.