Sunday, April 24, 2016

Kompas Edisi Minggu 24 April 2016

Kompas Edisi Minggu 24 April 2016

Penjara Terus Bermasalah

Kasus Banceuy, Kerusuhan Ke-4 dalam Sebulan


JAKARTA, KOMPAS — Kerusuhan di sejumlah penjara di Tanah Air seperti bom waktu yang sewaktu-waktu siap meledak. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa sejumlah pembenahan yang dilakukan di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan belum berjalan baik.

Pada Sabtu (23/4) pagi, sejumlah narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banceuy, Bandung, Jawa Barat, mengamuk dan membakar bangunan lapas. Para narapidana itu marah karena menduga rekannya, yaitu Undang Kosim (54), tewas akibat dianiaya petugas lapas. Sementara petugas mengatakan, Undang, terpidana empat tahun penjara yang dua bulan lagi akan bebas, meninggal karena gantung diri.

"Berapa (dana) yang harus dikeluarkan untuk membangun ini kembali. Pusing saya jadinya," kata Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly saat berdialog dengan narapidana yang ditahan di Lapas Banceuy.


PARIWISATA

Transformasi ke Digital Jadi Kunci


DENPASAR, KOMPAS — Untuk memenangkan persaingan pasar global, setiap pelaku usaha dan institusi terkait industri pariwisata harus segera bertransformasi dalam bentuk digital. Industri pariwisata juga perlu memastikan keberlanjutan ekosistem pariwisata dengan melibatkan warga lokal.

Hal itu mengemuka dalam Dialog Teras Kita edisi khusus bertema "Lompatan Paradigma Pariwisata: Masyarakat Ekonomi ASEAN, Quality Tourism, dan Sumber Daya Manusia Pariwisata Indonesia", Sabtu (23/4), di Kantor Cabang BNI Denpasar, Bali. Acara itu merupakan kerja sama Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) dengan harian Kompas dan Radio Sonora.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala Pusat Kajian Pariwisata Universitas Udayana Anak Agung Suryawan Wiranatha, dan pegiat wisata ekologi berbasis desa Made Suarnata sebagai pembicara dengan moderator wartawan senior harian Kompas, Banu Astono. Diskusi juga dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kepala Polda Bali Irjen Sugeng Priyanto, serta para regulator dan pelaku pariwisata.


Komedi

Memanggungkan Masalah ala Komika


Komedi menjadi cara alternatif mengungkapkan masalah. Mengkritik sekaligus juga menertawakannya. ”Stand up comedy” kini menjadi tren anak muda untuk menyampaikan rasa gundah dan resah.

Ning nong ning nong ning gong. Juminten kuliah di Washington. Kalau malam main ke Las Vegas. Lewat lagu ini, Kangen Band ingin menunjukkan bahwa kami warga dusun juga berhak mendapatkan pendidikan tinggi. Kalian ga ada yang tahu, kan, kalau ternyata Juminten itu tetangga saya,” kata Sadana Agung membuka komedinya dalam panggung Stand Up Comedy Indonesia 6 (SUCI6) KompasTV.

Dengan memakai persona orang dusun, Dana memutar, mematahkan persepsi orang tentang dusun. Misalnya, dia membawa penonton pada situasi konser dangdut yang identik dengan nyawer. Lantaran warga dusun adalah penduduk agraris, mereka menyawer dengan hasil bumi. Memakai kangkung, setandan pisang, atau sekarung beras. Membayangkan nyawer dengan setandan pisang saja memantik tawa.

No comments:

Post a Comment