Sunday, April 17, 2016

Kompas Edisi Minggu 17 April 2016

Petugas Berpacu Selamatkan Korban

Puluhan Orang Terperangkap


KUMAMOTO, SABTU — Petugas penyelamat berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan korban setelah gempa dahsyat kembali menghantam Pulau Kyushu, Jepang, Sabtu (16/4) pagi. Gempa dengan magnitudo 7,3 di Prefektur Kumamoto ini lebih besar daripada gempa yang terjadi di pulau yang sama pada Kamis malam.

 Hujan yang diramalkan mengguyur hingga Minggu dikhawatirkan memperparah longsor di sejumlah tempat dan menambah jumlah korban. Rumah-rumah, jalan, dan rel kereta rusak berat ketika sejumlah bukit ambrol membawa ribuan ton lumpur. Gedung-gedung runtuh menjadi puing, termasuk asrama universitas dan kompleks apartemen yang dihuni banyak orang.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe seusai pertemuan darurat meminta petugas melakukan upaya sekuat tenaga untuk menolong korban. ”Tak ada yang lebih penting daripada jiwa manusia, dan ini berkejaran dengan waktu,” kata Abe.


KULINER

Pemberontakan di Republik Jengkol


Riwayat jengkol memikul paradoks yang menggelikan. Ia kerap dinista dan dicintai diam-diam. Martabatnya direndahkan, menjadi aib bagi kelas elite. Sang jengkol akhirnya memberontak, lalu mendirikan Republik Jengkol.

 Matahari siang itu tengah garang-garang- nya bersinar di langit Cililitan, Jakarta Timur. Sebuah warung makan sederhana mulai dipenuhi pengunjung yang kegerahan dengan peluh bercucuran. Di muka warung itu salah satu dinding dihiasi tulisan: ”Sensasi Makan Jengkol Enak dan Tidak Bau. Enggeh. Republik Jengkol”.

Inilah warung makan yang menamai dirinya Republik Jengkol. Di RJ, begitu singkatan populernya, menu yang berdaulat adalah jengkol, dengan segala olahannya yang revolusioner. Sebut saja tongseng jengkol, jengkol lada hitam, nasi goreng jengkol, sampai pasta jengkol!


POTENSI DAERAH

Pemerintah Kembangkan Tambora


DOMPU, KOMPAS — Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Kabupaten Dompu berkomitmen terus mengembangkan kawasan Gunung Tambora. Tidak hanya sebagai taman nasional, kawasan gunung api tertinggi kedua di Nusa Tenggara Barat itu ke depan juga diharapkan menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan wilayah di sekitarnya.

 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan hal itu saat hadir mewakili Presiden Joko Widodo pada acara puncak Festival Pesona Tambora 2016 di Doro Ncanga, Dompu, Sabtu (16/4). Acara itu merupakan kelanjutan acara Tambora Menyapa Dunia yang digelar pada 2015 terkait peringatan 200 tahun letusan Gunung Tambora. Selain Siti, hadir pula dalam acara itu Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi, Bupati Dompu Bambang M Yasin, dan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo.

”Seperti yang kita ketahui, tahun 2015 Tambora diresmikan menjadi kawasan taman nasional oleh Presiden Joko Widodo. Tidak berhenti sampai di situ saja, kami hingga saat ini tetap konsisten mengikuti segala sesuatu terkait Tambora dan merencanakan berbagai hal untuk pengembangannya,” kata Siti.