Thursday, April 21, 2016

Kompas Edisi Kamis 21 April 2016

Kompas Edisi Kamis 21 April 2016

Parpol Mengancam Demokrasi

Syarat Dukungan bagi Calon Perseorangan Akan Dinaikkan


JAKARTA, KOMPAS — Fraksi-fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat bersikukuh menaikkan syarat dukungan untuk pasangan calon yang akan berlaga dalam pemilihan kepala daerah dari jalur perseorangan. Upaya itu merupakan ancaman bagi demokrasi karena akan mempersulit seseorang maju dari jalur perseorangan.

Upaya mempersulit calon perseorangan ini makin terlihat karena pada saat yang sama syarat bagi pasangan calon dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) yang diusung partai politik akan diturunkan.

Usulan itu disepakati mayoritas fraksi dalam rapat internal Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang (Panja RUU) tentang Pilkada di Komisi II DPR, Rabu (20/4), di Jakarta. Dalam rapat itu, Panja merumuskan dua alternatif persentase minimal dukungan untuk calon perseorangan.


ALAT KESEHATAN

Produk Dalam Negeri Tekan Biaya Pengobatan


JAKARTA, KOMPAS — Penggunaan alat kesehatan produksi dalam negeri bisa menekan biaya pengobatan hingga 30 persen. Namun, sekitar 94 persen dari pangsa pasar alat kesehatan di Indonesia dikuasai produk impor. Untuk mendorong produksi alat kesehatan dalam negeri, pemerintah menyusun peta jalan pengembangan alat kesehatan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2015, nilai pasar alat kesehatan mencapai Rp 12 triliun. Sekitar 94 persen dari pasar alat kesehatan itu dikuasai produk impor, sisanya diisi produk dalam negeri. Dari data nomor izin edar alat tahun 2011-2015, ada 35.536 alat kesehatan impor, sedangkan alat kesehatan dalam negeri hanya 2.575 izin edar.

Hingga 2015, ada 193 pelaku industri alat kesehatan dalam negeri yang mampu memproduksi 278 jenis alat kesehatan. Adapun produk yang bisa diproduksi antara lain ranjang rumah sakit, kursi roda, sarung tangan, benang bedah, dan tensimeter. Sementara produk alat kesehatan yang banyak diimpor adalah alat elektromedis yang belum bisa diproduksi Indonesia, seperti mesin sinar-X dan stent jantung.


REFLEKSI HARI KARTINI

Beban Menjadi Ibu Saat Masih Remaja


Siti Muslihah (17) duduk melantai di beranda rumah sambil menimang Vina (5 bulan). Sekilas, keduanya seperti kakak dan adik yang sedang bercengkerama. Padahal, Lili, panggilan akrab Siti Muslihah, adalah ibu dari bayi perempuan yang dia pangku. Pemandangan seperti ini lumrah di Cirebon, Jawa Barat.

Lili lahir dan mengenyam pendidikan menengah pertamanya di Jakarta, tepatnya di kawasan Pulogadung. Setamat dari madrasah tsanawiyah, ia dimasukkan ke pesantren tradisional di Kabupaten Kuningan, Jabar, oleh orangtuanya. Menjelang usia 17 tahun, Lili dinikahkan dengan Syamsudin (31), guru mengaji dari Benda Kerep, Kelurahan Argasunya, Kabupaten Cirebon. Dusun itu adalah kampung halaman orangtua Lili. Syamsudin masih terbilang kerabatnya.

"Saya sudah menempuh pendidikan di pesantren. Sudah mandiri, bisa masak, dan mencuci sendiri. Jadi, sudah siap nikah," kata Lili ketika ditemui di dusun itu, Sabtu (16/4).