Tuesday, April 26, 2016

Kompas Edisi Selasa 26 April 2016

Kompas Edisi Selasa 26 April 2016

Penjara Penuh Napi Narkoba

Rehabilitasi Pencandu Jadi Solusi Kelebihan Penghuni LP


JAKARTA, KOMPAS — Lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di Indonesia dipenuhi narapidana dan tahanan kasus narkoba. Ketiadaan perbedaan perlakuan hukum antara pengguna atau pencandu dan bandar narkoba membuat penjara kelebihan penghuni dan rawan terjadi kerusuhan.

Lonjakan jumlah napi dan tahanan dalam empat bulan terakhir hampir sama dengan penambahan jumlah napi dan tahanan per tahun sejak 2012. Rata-rata, kenaikan jumlah napi dan tahanan per tahun dari 2012 sampai 2015 adalah 10.000 hingga 13.000 orang. Sementara lonjakan jumlah napi dalam empat bulan terakhir mencapai lebih dari 11.000 orang.

Data dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) per 25 April 2016 menunjukkan, jumlah tahanan dan napi kasus narkoba mencapai 81.360 orang. Sementara total tahanan dan napi seluruh Indonesia 187.701 orang. Padahal, kapasitas total lembaga pemasyarakatan (LP) dan rumah tahanan (rutan) di seluruh Indonesia idealnya hanya untuk 119.269 tahanan.


LIGA CHAMPIONS

Harmoni Orkestra Raksasa Sepak Bola


MANCHESTER, SENIN — Pelatih Manchester City Manuel Pellegrini merasakan aura tidak bersahabat saat dirinya tiba di markas Real Madrid tujuh tahun silam. Dia tahu, gelar juara Liga Spanyol pun tak akan kuasa melindungi dirinya dari "sabda" pemecatan. Pelatih yang mengagungkan permainan agresif itu hanya semusim bertahan di kuil sepak bola Santiago Bernabeu.

Pellegrini melanjutkan petualangannya. Dia menyemai filosofi permainan menyerang di Malaga, dan tiga musim terakhir di Manchester City. Di klub terakhirnya itu, Pellegrini bisa bersuara dalam transfer pemain, kekuasaan yang dilucuti Presiden Real Madrid Florentino Perez saat membangun "Los Galacticos" episode kedua.

"Saya tidak memiliki suara atau hak pilih di Madrid. Mereka mengontrak para pemain terbaik, tetapi bukan pemain terbaik yang dibutuhkan di posisi tertentu," ujar Pellegrini. "Tidak bagus memiliki orkestra dengan 10 gitaris terbaik jika saya tidak memiliki seorang pianis," lanjut pelatih asal Cile itu.


KEHIDUPAN PENJARA

Bersua "Mamah" dan "Ayah" di Rutan


Yuliana melambaikan tangannya. Seorang perempuan muda berkaus hitam melihat lambaian itu, lalu setengah berlari mendekati Yuliana. Sesampainya di depan Yuliana, ia pun membungkuk dan mencium tangan Yuliana.

"Ke mana tadi, kok, tidak kelihatan? Kenapa tidak ikut fashion show?" tanya Yuliana.

"Iya Mah, saya enggak ikut," kata perempuan berusia 20-an itu. Obrolan dua perempuan itu berlanjut. Gadis itu lalu memamerkan celananya yang sobek-sobek di bagian lutut sembari bertanya, "Gimana Mah, bagus, ya?"

Sekilas, obrolan itu seperti terjadi antara seorang anak gadis dan ibunya. Namun, jangan salah. Obrolan itu terjadi di Rumah Tahanan Negara Kelas IIA Pondok Bambu, Jakarta Timur, antara Kepala Pengamanan Rutan (KPR) Yuliana dan salah satu narapidana (napi) kasus narkotika. Akhir pekan lalu, Rutan Salemba menggelar lomba peragaan busana antarnapi dan pegawai rutan.