Showing posts with label vaksin palsu. Show all posts
Showing posts with label vaksin palsu. Show all posts

Thursday, July 21, 2016

Kompas Edisi Kamis 21 Juli 2016

Kompas Edisi Kamis 21 Juli 2016
Kompas Edisi Kamis 21 Juli 2016

Korban dan Rumah Sakit Kebingungan

Perkuat Pengawasan Vaksin


JAKARTA, KOMPAS — Imunisasi ulang anak-anak yang mendapat vaksin palsu dinilai tidak cukup menenangkan warga dan rumah sakit yang memakai vaksin palsu. Pemerintah didesak agar lebih hadir memberikan informasi dan panduan yang jelas apa yang harus dilakukan masyarakat dan rumah sakit.

 Sejauh ini, para orangtua korban vaksin palsu masih kebingungan karena tidak mendapatkan kejelasan siapa saja anak yang harus diimunisasi ulang. Orangtua yang anaknya tak direkomendasikan untuk melakukan imunisasi ulang juga ingin tahu apakah kekebalan tubuh pada anak mereka terbentuk atau tidak. Hal ini disebabkan anak mereka diimunisasi di rumah sakit yang disebutkan memakai vaksin palsu.

Selain itu, sejak nama rumah sakit yang memakai vaksin palsu dipublikasikan, manajemen rumah sakit bersangkutan mengaku tak pernah mendapatkan arahan apa yang harus dilakukan untuk menindaklanjutinya.


Pengampunan Pajak

25 BUMN Minati Dana Repatriasi


JAKARTA, KOMPAS — Dana repatriasi dari program pengampunan pajak diharapkan dapat diserap sebesar Rp 200 triliun sampai Rp 300 triliun melalui instrumen-instrumen investasi badan usaha milik negara. Sebanyak 25 BUMN berminat menampung dana repatriasi.

Menteri BUMN Rini Soemarno, di Jakarta, Rabu (20/7), mengatakan, ada beberapa skema yang dapat ditawarkan kepada pemilik dana yang mengikuti program pengampunan pajak melalui empat bank BUMN yang menjadi bank persepsi dan melalui manajer investasi, Bahana, Danareksa, Mandiri Sekuritas, dan BNI Sekuritas.

Selain itu, kata Rini, ada beberapa BUMN yang memiliki proyek-proyek yang sudah berjalan. ”Kita bisa ajak mereka di proyek jalan tol, seperti Malang-Pandaan yang sudah selesai dan sudah ada pendapatannya. Jadi, kita ajak berpartner sehingga dananya bisa kita manfaatkan untuk membangun jalan tol yang lain,” katanya.


Karaoke "Sewuan"

”Hepi-hepi” sampai Lupa Utang di Rumah


Wis tau isun riko sayangi, wis tau isun riko welasi
 yo wis gedigu... yo wis gedigu

yo gedigu baen….

(Sudah pernah aku kau sayangi, sudah pernah aku kau cintai, ya sudah begitu.. ya sudah begitu, ya begitu saja….)

Headset di telinga dan mikrofon di tangan kanan, Risanggeni (37) menyanyi sepenuh hati. Lagu ”Riko Sing Kanggo Maneh” (Engkau yang Tak Berarti Lagi) jadi lagu kelima yang ia bawakan di radio karaoke Arif Kafilah FM, di Rogojampi, Banyuwangi.

Suara Risanggeni memang tak seperti artis rekaman, tetapi enaklah untuk didengar. Yang jelas, ia terlihat happy saat menyanyi. ”Hayo nyanyi sama saya. Mau lagu apa? Nanti saya yang bayarin,” katanya.

Wednesday, July 20, 2016

Kompas Edisi Rabu 20 Juli 2016

Kompas Edisi Rabu 20 Juli 2016
Kompas Edisi Rabu 20 Juli 2016

Waspadai Sel Teroris Baru

Kematian Santoso Tidak Mengakhiri Operasi Tinombala


JAKARTA, KOMPAS — Tewasnya pemimpin kelompok teroris Santoso diyakini belum akan menghentikan aksi teror. Kelahiran sel teroris baru setelah kematian Santoso harus tetap diwaspadai. Pengawasan di wilayah yang menjadi kantong kelompok teror perlu diperketat.

 Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Tito Karnavian di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Selasa (19/7), memastikan dua teroris yang tewas dalam baku tembak dengan anggota Satuan Tugas Operasi Tinombala di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Senin lalu adalah Santoso alias Abu Wardah dan Mukhtar alias Kahar.

Menurut Tito, berdasarkan pengenalan tanda-tanda fisik jenazah, seperti tahi lalat, dan juga pemeriksaan terhadap anggota jaringan Santoso yang dulu pernah ditangkap, 95 persen adalah Santoso. Adapun 5 persennya menunggu kepastian dari sidik jari dan pemeriksaan DNA (deoxyribonucleic acid) Santoso.


Pembangunan

Manfaat Migrasi Bergantung Pemda


JAKARTA, KOMPAS — Secara independen kaum profesional yang memilih kembali ke kampung halaman atau kota kecil telah menggerakkan ekonomi dan komunitas setempat. Namun, manfaat lebih besar dari kehadiran mereka bagi daerah bergantung pada respons pemerintah daerah.

Bupati Bojonegoro Suyoto, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, dan Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo ketika dimintai komentar di sejumlah tempat, Selasa (19/7), menyatakan, terkait dengan fenomena kaum profesional yang memilih bekerja di kampung halaman, mereka bisa memberi manfaat lebih kepada daerah.

”Pemda harus memperbaiki iklim produktivitas. Jangan bikin semua inisiatif mentok. Iklim ini menyangkut perizinan, budaya politik dan sosial, dukungan promosi, pengakuan eksistensi dan apresiasi, sistem logistik, dan lain-lain,” kata Suyoto.


Vaksin Palsu

Kepercayaan Itu Korbankan Anak Kami


 ”Kesalahan terbesar kami adalah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada rumah sakit ini, tetapi anak kami yang menjadi korbannya,” kata Septian Adi Nugroho (27), Selasa (19/7), mengungkapkan kekecewaannya terhadap peredaran vaksin palsu.

Anak Septian, Danis (2 bulan), diduga turut mendapatkan vaksin palsu yang diberikan dokter I dan suster I yang praktik di Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta Timur. Sejak awal pekan lalu, dokter dan suster itu ditahan di Mabes Polri.

Septian bersama para orangtua lain yang memvaksinasi anak-anaknya di RS tersebut membuka Posko Crisis Center untuk menampung semua gugatan orangtua terhadap manajemen rumah sakit dengan dibantu Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.

Tuesday, July 19, 2016

Kompas Edisi Selasa 19 Juli 2016

Kompas Edisi Selasa 19 Juli 2016
Kompas Edisi Selasa 19 Juli 2016

Imunisasi Ulang Dijamin

Presiden Joko Widodo: Benahi Tata Kelola Produk Farmasi


JAKARTA, KOMPAS — Imunisasi ulang secara bertahap mulai dilaksanakan hari Senin (18/7) bagi anak-anak yang mendapat vaksin palsu. Selain terus mendata korban kasus pemalsuan vaksin di sejumlah tempat, pemerintah juga menjamin vaksin yang digunakan asli dan stok mencukupi.

 ”Kami ulang agar para ibu tenang, anaknya mendapat vaksin yang benar,” ucap Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Senin (18/7), seusai mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau imunisasi ulang di Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Semua vaksin untuk imunisasi ulang diproduksi Bio Farma, yang mengekspor vaksin ke sekitar 130 negara.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes M Subuh menegaskan, pemerintah menjamin stok vaksin mencukupi untuk imunisasi ulang bagi semua korban yang membutuhkan. Vaksin diambil dari stok untuk imunisasi rutin dan biaya operasional memakai alokasi yang ada. Anggaran vaksin nasional Rp 1,2 triliun.


TERORISME

Santoso Diduga Tertembak Mati


JAKARTA, KOMPAS — Pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur, Santoso, diduga tewas dalam baku tembak di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Senin (18/7) petang. Dugaan itu muncul lantaran salah satu orang yang tewas tertembak memiliki ciri fisik seperti yang dimiliki Santoso.

"Informasi (yang tewas) ada tahi lalat di dahinya. Itu jadi ciri khas Santoso. Lalu ada jenggotnya juga," kata Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal Tito Karnavian seusai mengikuti jamuan makan malam Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Selandia Baru John Key di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin malam.

Meski begitu, Kapolri belum bersedia memastikan bahwa Santoso telah tewas tertembak. Polri akan melakukan identifikasi terlebih dahulu untuk memastikan benar-tidaknya salah seorang yang tertembak itu Santoso. "Saya pikir jangan berspekulasi dulu. Biarkan teman-teman melakukan evakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu, dibersihkan, kemudian orang yang kenal Santoso dibawa untuk ditanya, apakah betul itu Santoso atau bukan," ujar Tito.


PIALA GOTHIA 2016

Perjuangan Melelahkan di Turki


Anak-anak tim Liga Kompas Gramedia-SKF Indonesia, salah satu tim Indonesia di Piala Gothia 2016 di Swedia, melewati perjalanan dan tantangan penuh liku. Mereka telantar di bandara akibat upaya kudeta di Turki. Namun, itu tak merampas mimpi anak bangsa ini.

Mahmud Cahyono dan rekan setimnya di Liga Kompas Gramedia (LKG)-SKF merebahkan diri di lantai selasar Bandara Ataturk di Istanbul, Turki, Minggu (17/7). Tiada selimut atau bantal yang memisahkan mereka dari dinginnya lantai bandara, yang diguncang bom bunuh diri serta serangan teror pada 28 Juni lalu.

Minggu itu, anak-anak dari kelompok usia 14-15 tahun itu semestinya telah tiba di Gothenburg, lokasi Piala Gothia-turnamen sepak bola usia dini terakbar yang diikuti sekitar 1.600 tim dari 80 negara di dunia.

Sunday, July 17, 2016

Kompas Edisi Minggu 17 Juli 2016

Kompas Edisi Minggu 17 Juli 2016
Kompas Edisi Minggu 17 Juli 2016

Publik Mendukung Demokrasi

Kudeta Militer di Turki Digagalkan, 161 Warga Sipil Tewas


ANKARA, SABTU — Pemerintah Turki, Sabtu (16/7), berhasil menggagalkan kudeta militer dan menguasai keadaan. Keberpihakan pada demokrasi dan kurangnya dukungan publik menjadi faktor penentu kegagalan kudeta militer itu. Sedikitnya 2.839 tentara yang diduga terlibat ditahan. "Situasi telah terkendali," kata Perdana Menteri Turki Binali Yildirim, di Ankara.

Namun, kudeta yang meletus pada Jumat malam itu menyebabkan setidaknya 161 warga sipil tewas dan 1.440 lainnya luka-luka. Sebanyak 104 tentara pemberontak tewas dalam usaha mereka menggulingkan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Menurut Yildirim, kudeta itu menjadi noda hitam bagi demokrasi Turki.

Kudeta yang dipimpin sejumlah kolonel tersebut meletus pada Jumat (15/7) malam. Sejumlah jet tempur F-16, yang dikuasai pemberontak, terbang rendah di atas Ankara. Pada saat yang sama, tank-tank Leopard A4 pemberontak memblokir jalan utama dan jembatan yang melintasi Selat Bosphorus di Istanbul. Mereka berhadapan dengan massa yang marah. Sejumlah saksi mata mengatakan, mereka melihat tentara pemberontak melepaskan tembakan ke arah warga dan melukai mereka.


VAKSIN PALSU

Warga Bisa Gugat Rumah Sakit


JAKARTA, KOMPAS — Kemarahan orangtua yang anak-anaknya diduga memperoleh vaksin palsu kembali terjadi di Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta Timur, Sabtu (16/7). Kemarahan dipicu tuntutan mereka terkait verifikasi data anak balita penerima vaksin palsu itu tak dipenuhi manajemen rumah sakit.

Wali Kota Jakarta Timur Bambang Musyawardana yang memberikan alternatif pengaduan ke tiap puskesmas di kecamatan diprotes para orangtua. Hadir juga saat itu Direktur Utama RS Harapan Bunda, Finna.

”Kami tidak mau puskesmas. Kami mau Rumah Sakit Harapan Bunda bertanggung jawab penuh atas penggunaan vaksin palsu terhadap anak-anak kami,” kata beberapa orangtua.


SELISIK BATIK

Batik Tujuh Generasi di Atas Bantal Using


Bagi penduduk asli Banyuwangi, orang using, batik tak sekadar sandang. Mereka punya penghargaan dan penghormatan mendalam terhadap batik, terutama ketika hari Lebaran. Batik ditempatkan sebagai pusaka warisan leluhur yang dirawat dengan sepenuh hati dan Lebaran menjadi puncak merayakan penghormatan terhadap batik sebagai representasi kehadiran leluhur.

 Di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang dihuni masyarakat using, lembaran kain batik diwarisi turun-temurun. Sehari sebelum Lebaran, Mbah Surem (85) dan suaminya, Basir (95), membuka blek atau wadah kaleng yang disimpan di kamar di lantai dua rumah putrinya, Hj Susiati (62). Dari tujuh blek itu, pasangan sepuh ini memilih beberapa lembar batik berusia ratusan tahun.

Batik tertua dengan motif complongan dan garuda mungkur dipegang dengan hati-hati oleh Surem. Batik itu diwarisi dari mbah canggahnya, tiga generasi di atas Surem. Kini, Surem memiliki cucu buyut dari cucunya, Ibu Lurah Kemiren Lilik Yuliati (38), sehingga batik itu diperkirakan dimiliki keluarga itu selama lebih dari 7 generasi.