Showing posts with label pengasuhan anak. Show all posts
Showing posts with label pengasuhan anak. Show all posts

Friday, July 29, 2016

Kompas Edisi Jumat 29 Juli 2016

Kompas Edisi Jumat 29 Juli 2016
Kompas Edisi Jumat 29 Juli 2016

Kucuran APBN Belum Efektif

Pengampunan Pajak Momentum Menambah Penerimaan Negara


JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah menganalisis sejumlah program yang ditujukan kepada rakyat miskin. Selama ini, anggaran telah dikucurkan, tetapi masalah kemiskinan dan ketimpangan tidak bergerak. Ke depan, program-program itu harus bisa dirasakan rakyat banyak.

 ”Bappenas akan melakukan analisis secara mendalam tentang dampak sejumlah program dan kebijakan kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro seusai serah terima jabatan dari Sofyan Djalil di Jakarta, Kamis (28/7).

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah kementerian agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi instrumen efektif untuk menunjang pembangunan.


RAPIMNAS GOLKAR

Presiden Meminta Konsistensi Dukungan


JAKARTA, KOMPAS — Penutupan Rapat Pimpinan Nasional I Partai Golkar menjadi ajang deklarasi partai itu untuk mendukung pemerintah dan mengusung Presiden Joko Widodo di Pemilihan Presiden 2019. Menanggapi langkah Golkar ini, Presiden mengapresiasi dan meminta partai itu konsisten menyokong penuh program dan kebijakan pemerintah meski tidak populis.

 ”Saya meminta Golkar betul- betul konsisten mendukung pemerintah ketika ada kebijakan yang memerlukan percepatan meskipun mungkin kadang pahit dan tidak populis. Tetapi, untuk kepentingan rakyat banyak, kadang kita harus memutuskan sebuah keputusan yang sulit,” kata Presiden dalam pidato penutupan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (28/7) malam.

Penutupan Rapimnas I Golkar juga dihadiri sejumlah elite politik. Mereka antara lain presiden kelima RI yang juga Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, presiden ketiga RI BJ Habibie yang juga Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, Ketua MPR yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan, serta Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Turut hadir juga sejumlah pemimpin partai politik pendukung pemerintah dan sejumlah menteri anggota Kabinet Kerja.


Pengasuhan

Para Pemberi Harapan Anak-anak Telantar


Sejumlah lembaga berusaha untuk menggantikan posisi orangtua dalam memberi kasih sayang kepada anak-anak telantar. Mereka berupaya sekeras mungkin memastikan kesejahteraan dan kebahagiaan anak-anak.

Matahari bersinar cerah pada Kamis pekan lalu. Meskipun demikian, udara di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, tidak terasa panas. Udara malah terasa sejuk karena angin berembus sepoi-sepoi.

Suara tawa anak-anak terdengar dari teras Yayasan Sayap Ibu (YSI) cabang Banten. Di bawah teduhnya atap, berjejer meja dan kursi berwarna-warni. Delapan anak duduk menghadap piring berisi nasi dan lauk-pauk.

Monday, July 25, 2016

Kompas Edisi Senin 25 Juli 2016

Kompas Edisi Senin 25 Juli 2016
Kompas Edisi Senin 25 Juli 2016

Hak-hak Anak Masih Diabaikan

Motif Eksploitasi Terus Mengintai


JAKARTA, KOMPAS — Negara belum optimal memenuhi hak-hak anak untuk tumbuh kembang secara wajar. Minimnya perlindungan dari pemerintah pusat hingga daerah membuat warga yang berusia 0-17 tahun rentan terhadap kekerasan fisik, seksual, psikis, sosial, dan ekonomi.

Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli cenderung hanya berupa seremonial karena tidak ada perbaikan terhadap perlindungan hak anak.

Rentetan kasus yang menempatkan anak sebagai korban selama ini mengonfirmasi masih terjadinya pengabaian terhadap hak-hak anak.

Anak korban kejahatan berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, misalnya, pada tahun 2014 tercatat 247.610 anak.

Kementerian tersebut juga mencatat pada tahun 2014 ada 3.372 narapidana anak.


KRISIS TURKI

Erdogan Tutup Ribuan Sekolah dan Yayasan


ANKARA, MINGGU — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Sabtu (23/7), memerintahkan penutupan ribuan sekolah swasta, badan amal dan yayasan, serta puluhan lembaga medis, dan belasan universitas. Ini merupakan dekrit pertama Erdogan setelah memberlakukan status darurat selama tiga bulan di Turki pasca upaya kudeta yang gagal, 15 Juli lalu.

Otoritas Turki juga menahan kemenakan ulama karismatis Fethullah Gulen, Muhammed Sait Gulen, di kota Erzurum, Turki timur laut. Kantor berita Anadolu melaporkan, Sait Gulen akan dibawa ke ibu kota Ankara untuk menjalani pemeriksaan. Gulen, yang tinggal di Amerika Serikat, dituding Erdogan menjadi otak di balik upaya kudeta yang gagal. Tuduhan itu dibantah Gulen.

Sait Gulen merupakan keluarga dekat Gulen pertama yang ditangkap setelah upaya kudeta. Pejabat kepresidenan Turki juga mengatakan, Pemerintah Turki menangkap pembantu utama Gulen, Halis Hanci, yang diperkirakan memasuki Turki dua hari menjelang upaya kudeta.


PENGASUHAN

Tumbuh Kembang di Luar Kasih Sayang Ayah-Bunda


Seorang anak laki-laki berumur enam tahun menatap malu-malu. Ia menyembunyikan tubuhnya di balik Ike Mustika, pembimbing psikologi di Panti Sosial Marsudi Putra Handayani di Jakarta.

Ia lalu tersenyum dan mau bersalaman. Saat ditanya namanya, ia menjawab lirih dengan menyebut sebuah nama berinisial N.

Sudah dua bulan ini N tinggal di rumah perlindungan milik Kementerian Sosial itu. Siang itu ia tengah asyik bermain dengan C (11), anak laki-laki yang juga tinggal di panti tersebut. Kedua bocah itu mengalami pengalaman yang menyakitkan untuk sampai di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani.