Sunday, June 5, 2016

Kompas Edisi Minggu 5 Juni 2016

Kompas Edisi Minggu 5 Juni 2016
Kompas Edisi Minggu 5 Juni 2016

Helikopter Jatuh di Paniai, 1 Tewas

Faktor Cuaca Jadi Penyebab


JAYAPURA, KOMPAS — Jatuhnya helikopter jenis Bell 206 PK-UAF di lokasi pertambangan emas tradisional di Kali Degeuwo, Distrik Dogobaida, Kabupaten Paniai, Papua, Sabtu (4/6), diduga akibat empasan angin kencang sebelum mendarat. Pilot helikopter tewas dan tiga penumpang luka-luka.

 Pilot Komisaris Besar (Purn) Karmana (57) tewas akibat cedera berat di kepala. Adapun tiga korban luka adalah Asmar, Ajo, dan Darwis, petambang emas di Kali Degeuwo. Selain mengangkut tiga penumpang, helikopter tersebut juga mengangkut barang-barang milik petambang seberat 314 kilogram.

Karmana dan Asmar dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah Nabire. Asmar mengalami luka berat karena dadanya terkena benturan sangat keras. "Dua korban lainnya tidak dievakuasi ke Nabire karena hanya mengalami luka ringan," kata Kepala Kepolisian Resor Paniai Ajun Komisaris Besar Leonardus Nabu ketika dihubungi dari Jayapura.


TINJU

Muhammad Ali, Petarung di Ring dan Jagat Kemanusiaan


PHOENIX, SABTU — Awan mendung menyelimuti dunia tinju, bahkan dunia olahraga secara keseluruhan. Petinju legendaris Amerika Serikat, Muhammad Ali, meninggal di usia 74 tahun, Jumat (3/6). Semasa hidup, Ali yang mengklaim diri sebagai "Yang Terbaik" atau "The Greatest" dikenal sebagai petarung sejati yang berjuang demi prestasi di atas ring dan keadilan di atas panggung rasisme yang menimpa warga kulit hitam AS, terutama pada era 1960-1980-an.

Ali dilaporkan meninggal di rumah sakit di Phoenix, Arizona, AS, Jumat. Ia mengembuskan napas terakhir karena komplikasi pernapasan. "Setelah berjuang melawan sejumlah penyakit, terutama parkinson, Ali meninggal di usia 74 tahun, malam ini (Jumat, 3/6)," ujar juru bicara keluarga Ali, Bob Gunnell.

Petarung sejati

Ali dikenal sebagai petarung sejati. Selama bertinju, pemilik nama lahir Cassius Marcellus Clay Junior ini memenangi sejumlah laga bergengsi. Ia pernah meraih medali emas Olimpiade 1960 setelah menang atas petinju Polandia, Zbigniew Pietrzykowski, di Roma, Italia, 5 September 1960. Ia lalu terjun di tinju profesional dan meraih tiga gelar juara dunia tinju kelas berat.


Festival

Noktah Kecil Film Indonesia di Cannes


Kemenangan film "Prenjak (In the Year of Monkey)" besutan sutradara muda Wregas Bhanuteja jadi babak baru kehadiran Indonesia di Festival de Cannes. Isu lokal tentang "permainan" korek api, jika dikemas dalam bingkai sosial, bisa menggetarkan dunia. Kuncinya, kesadaran pada nilai-nilai universal yang membelit sistem kemanusiaan kita sejak dulu sampai kini, mungkin nanti.

Ajang Semaine de la Critique memang bukan ajang utama Festival Film Cannes. Namun, kategori ini dibangun oleh asosiasi kritikus film Perancis, yang gerah oleh eksklusivitas Cannes. Dalam perjalanannya, Semaine de la Critique akhirnya disatukan dengan pelaksanaan Festival Film Cannes. Ia tetap menjadi ajang bergengsi, yang mencuatkan nama Indonesia dalam bursa perfilman dunia.

Nama Indonesia baru tercatat di Festival Film Cannes ketika film Tjoet Nja' Dhien arahan sutradara Eros Djarot lolos mengikuti kompetisi film panjang dalam kategori Semaine de la Critique atau Critic's Week tahun 1989. Film ini juga pernah diajukan pemerintah dalam festival Academy Awards ke-62 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik. Sayangnya tidak lolos dalam babak nominasi.