Friday, June 3, 2016

Kompas Edisi Jumat 3 Juni 2016

Kompas Edisi Jumat 3 Juni 2016
Kompas Edisi Jumat 3 Juni 2016

Infrastruktur Menjadi Solusi

Pemerintah Fokus di Dua Program untuk Atasi Kesenjangan


JAKARTA, KOMPAS — Berbagai kalangan menilai persoalan kesenjangan yang masih lebar di Tanah Air bisa dikurangi dengan pembangunan infrastruktur yang terkait dengan logistik dan konektivitas. Kesenjangan juga perlu diatasi dengan perbaikan sektor pendidikan dan kesehatan.

Guru Besar (Emeritus) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Emil Salim dalam acara penganugerahan penghargaan Wirakarya Adhitama di FEB UI, Depok, Kamis (2/6), mengatakan, pembangunan infrastruktur ekonomi, pendidikan, dan kesehatan akan mengurangi kesenjangan.

Sebelumnya diberitakan, persoalan kesenjangan masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan dan membumikan nilai-nilai Pancasila. Perdebatan ini muncul terkait hari lahir Pancasila yang ditetapkan pemerintah pada 1 Juni 1945.


RUU PILKADA

Pencegahan Politik Uang Setengah Hati


JAKARTA, KOMPAS — Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah masih setengah hati untuk memperketat pencegahan praktik politik uang dalam pemilihan kepala daerah.

Di satu sisi, Rancangan Undang-Undang tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota yang disetujui menjadi UU, Kamis (2/6), mengatur sanksi berat bagi pelaku politik uang. Di sisi lain, didapati aturan yang melegalkan pemberian uang dan hadiah untuk peserta kampanye terbatas.

Sanksi berat hingga pembatalan calon kepala daerah-wakil kepala daerah diatur dalam Pasal 73 Ayat (2) UU Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota. Prosedur penjatuhan sanksi bagi pelaku politik uang juga dipermudah.


KAMPUNG PANCASILA

Menggapai Kesetaraan di Kampung Lengkong


Kesenjangan sosial nyata terlihat dengan semakin terdesaknya warga kampung oleh permukiman-permukiman mewah bertembok tinggi dan eksklusif. Namun, dengan akses pendidikan yang memadai, pendampingan, dan edukasi, warga di Kampung Lengkong, Kelurahan Lengkong Wetan, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, kini berjuang untuk menjadi setara.

 Muhammad Lailatul Qodar (23), seorang pemuda setempat yang baru saja lulus dari Politeknik Geologi dan Pertambangan Bandung, Kamis (2/6), bercerita, sejak pembangunan permukiman marak di sekitar kawasan itu, warga tidak lagi punya banyak pilihan.

Warga yang sebelumnya bertani kini menjadi anggota satuan pengamanan (satpam), petugas kebersihan, pelayan restoran, dan paling bagus, petugas pelayanan pelanggan (customer service) di kawasan bisnis dan permukiman yang mendadak muncul mengepung mereka.