Monday, July 18, 2016

Kompas Edisi Senin 18 Juli 2016

Kompas Edisi Senin 18 Juli 2016
Kompas Edisi Senin 18 Juli 2016

Sekitar 6.000 Orang Ditahan

Turki Tangkap 34 Perwira Tinggi


ANKARA, MINGGU — Sekitar 6.000 orang ditahan karena diduga terlibat kudeta yang gagal, Minggu (17/7). Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akan terus memburu mereka yang disebutnya "virus" itu di lembaga pemerintah. Sejumlah jaksa dan pejabat militer juga ditahan karena diduga menjadi pengikut musuh bebuyutan Erdogan, Fethullah Gulen.

Bagi Erdogan, tidak ada dalang lain di balik kudeta yang gagal itu selain Gulen. Semua anggota "kelompok teroris" pimpinan Gulen di dalam tubuh militer, kata Erdogan, akan ditangkapi satu per satu karena mereka sudah menggerogoti bahkan menghancurkan angkatan bersenjata Turki.

Para pemimpin negara di dunia mengingatkan Turki untuk mematuhi aturan hukum dalam menangani para tersangka. Imbauan ini berdatangan termasuk dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama setelah foto dan video proses penangkapan ribuan tersangka yang kasar beredar ke publik.


Fenomena Pembangunan

Kaum Profesional Minati Kota Kecil


JAKARTA, KOMPAS — Meski masih banyak orang berbondong-bondong mencari pekerjaan di kota besar, beberapa orang malah memilih kembali ke kampung halaman. Internet yang makin lancar, transportasi yang makin mudah, dan adanya komunitas yang bisa meningkatkan kapasitas intelektual menjadikan mereka memilih kembali tinggal di kota kecil.

Edwin Pranata, seusai studi soal pengelolaan investasi di Amerika Serikat, misalnya, semula ingin bekerja sesuai ilmunya di luar negeri. Namun, ia kemudian memilih kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Ia mendirikan perusahaan berbasis wirausaha sosial dengan nama Realfood. "Saya terpanggil untuk kembali. Saya merasa bisa berbuat sesuatu dan bermanfaat di kampung halaman. Saya kembali tahun 2012 dan saat itu saya yakin keputusan saya benar," kata Edwin.

Fenomena seperti Edwin itu juga tergambar dari beberapa orang dengan berbagai profesi, seperti fotografer, arsitek, pengelola restoran, akuntan, dan mantan buruh migran di sejumlah daerah yang ditemui dan dihubungi Kompas sejak pekan lalu hingga Minggu (17/7).


Inovasi

Ibnu Ciptakan Alat Hemat BBM dari Bahan Seng


Meningkatnya konsumsi bahan bakar dan polusi udara terkait tingginya mobilitas warga berkendara roda dua menginspirasi Ibnu Hafizh Haqiqi (16) untuk berkreasi. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Bulakamba, di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tersebut berhasil membuat alat penghemat bahan bakar sepeda motor secara sederhana, berbahan baku seng.

Karya Ibnu berhasil meraih Juara Nasional Lomba Karya Inovasi SMK Teknik Sepeda Motor Honda yang diselenggarakan di Jakarta, awal Juni lalu. Alat penghemat bahan bakar minyak (BBM) tersebut dikhususkan untuk sepeda motor yang menggunakan sistem injeksi.

Ibnu, pemuda sederhana, warga Desa Lemah Abang, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, saat ditemui di sekolahnya, Rabu (15/6), mengatakan, idenya muncul secara kebetulan dari keseharian hidupnya.