Thursday, June 2, 2016

Kompas Edisi Kamis 2 Juni 2016

Kompas Edisi Kamis 2 Juni 2016
Kompas Edisi Kamis 2 Juni 2016

Kesenjangan Jadi Tantangan Besar

Perwujudan Sila V Pancasila Amat Ditunggu


JAKARTA, KOMPAS — Megawati Soekarnoputri, mewakili keluarga Soekarno, mengucapkan terima kasih atas langkah Presiden Joko Widodo menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila. Masih banyak pekerjaan rumah untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila di masyarakat.

 Kesenjangan sosial dan ekonomi menjadi tantangan terbesar dalam membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

”Kita harus optimistis bahwa kita bisa mengatasi semua persoalan yang ada untuk memenangi kompetisi global,” kata Presiden dalam pidatonya pada Peringatan Pidato Bung Karno (presiden pertama RI), Rabu (1/6), di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat.


PERANCIS

AS Ingatkan Teror Ancam Piala Eropa


WASHINGTON, RABU — Amerika Serikat mengeluarkan peringatan kepada warganya yang ingin bepergian ke Eropa, khususnya di saat penyelenggaraan Piala Eropa 2016 di Perancis. Turnamen sepak bola ini dinilai ”potensial” menjadi sasaran serangan teroris.

Imbauan Pemerintah AS ini semakin mempersulit posisi Pemerintah Perancis yang saat ini menghadapi pemogokan besar- besaran di bidang transportasi dan industri. Direncanakan, Piala Eropa dimulai 10 Juni dan akan berlangsung selama sebulan, serta dilaksanakan di beberapa kota di Perancis.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby, menekankan, peringatan itu bukan untuk menghalangi warga AS bepergian ke Eropa, melainkan untuk mengingatkan mereka agar selalu waspada. ”Peringatan ini, seperti biasanya, dibuat berdasarkan akumulasi informasi dan apa yang menjadi interes kelompok-kelompok teroris dalam menyerang sasaran-sasaran Barat, khususnya warga Amerika,” kata Kirby, Selasa (31/5).


JAKARTA KOTA SUNGAI

Nyanyi Sunyi Para Pembersih Kali


Saung kecil berangka besi dan berdinding tripleks itu berdiri di bantaran Kali Grogol yang rindang, bersih, dan asri di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di depannya ada sejumlah bangku dari batang-batang bambu dan meja-meja kecil warna merah yang ditaruh di atas tumpukan ban bekas.

 Dari kejauhan, saung, bangku, dan meja-meja itu ditata seperti restoran atau kafe yang memanfaatkan keasrian bantaran kali untuk menarik pengunjung. Permukaan air sungai yang bersih, rumput hijau di seberang kali, dan rindang rumpun bambu di tempat itu membuat orang betah berlama-lama di sana.

Namun, baru beberapa menit Kompas berada di tempat itu, Selasa (31/5) sore, tiba-tiba berdatangan satu demi satu orang berkaus seragam oranye. ”Kami mau absen sore. Setiap hari kami ke sini,” ujar Andi (28), satu dari mereka.