Monday, August 3, 2015

Kompas, Edisi, Senin, 3 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Senin, 3 Agustus 2015

Muktamar NU Bisa Molor

Perbedaan Pendapat Terjadi dalam Mekanisme Pemilihan


JOMBANG, KOMPAS — Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama terancam molor. Setelah registrasi peserta sempat ricuh, rapat pleno tata tertib yang seharusnya jadi agenda pertama setelah muktamar dibuka Presiden Joko Widodo, Sabtu (1/8) malam, baru dapat dimulai Minggu sekitar pukul 15.00.

Semalam sekitar pukul 23.30, rapat pleno untuk membahas tata tertib ini akhirnya diputuskan diskors untuk kemudian dilanjutkan pada Senin hari ini.

Hal itu terjadi karena adanya perbedaan tajam di antara muktamirin soal mekanisme pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Muktamirin terbelah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mendukung pemilihan dilakukan secara musyawarah mufakat melalui sistem perwakilan ahlul halli wal aqdi (AHWA). Kelompok kedua menolak sistem itu dan menginginkan peserta langsung yang memilih rais aam dan ketua umum.


PILKADA SERENTAK

Hari Ini Batas Akhir Pendaftaran


JAKARTA, KOMPAS — Senin (3/8) menjadi batas akhir perpanjangan pendaftaran pasangan calon kepala daerah di sejumlah daerah dengan jumlah pasangan calon yang mendaftar kurang dari dua. Dari 269 daerah yang dijadwalkan menggelar pemilihan kepala daerah pada Desember 2015, hingga kemarin, masih ada 10 daerah dengan jumlah pasangan calon yang mendaftar kurang dari dua.

Jika hingga hari ini pukul 16.00 waktu setempat pasangan calon yang mendaftar di suatu daerah tetap kurang dari dua, menurut komisioner Komisi Pemilihan Umum, Ferry Kurnia Rizkiyansyah, pilkada di daerah itu akan ditunda hingga 2017.

Saat pendaftaran pilkada 26-28 Juli, ada 13 daerah yang memiliki pasangan calon kurang dari dua. Setelah diperpanjang, Sabtu (1/8), ada pasangan calon yang mendaftar untuk mengikuti pilkada di Kabupaten Serang, Banten, dan di Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat. Kemarin, pasangan Salman-Jana Hamdiana mendaftar mengikuti pilkada di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian, di Serang, Pegunungan Arfak, dan Mataram sudah ada dua pasangan calon yang mendaftar.

KEKERINGAN

Berharap dari Tetes Air Batang Pisang


Markus Antonius Nurak (24), setiap pagi dan sore, meletakkan jeriken isi 5 liter di samping batang pisang yang dilubangi di bagian pangkalnya di ladang. Di lubang itu dipasang belahan bambu untuk mengalirkan tetes demi tetes air ke jeriken.

Satu jeriken air ini diperoleh selama hampir 15 jam. Kalau jeriken diletakkan pukul 18.00 Wita, esok pagi sekitar pukul 09.00 Wita jeriken sudah penuh air, tetapi itu pun tergantung dari besar kecilnya batang pisang. Jika batang pisang kerdil, tidak sampai satu jeriken,” kata Markus, warga Desa Iligay, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, minggu lalu.

Markus sering kali harus meninggalkan pekerjaannya sebagai pengojek untuk menunggui tetesan air dari batang pisang memenuhi jerikennya, dari pagi sampai siang. Dia harus mengontrol posisi jeriken agar tidak miring atau roboh. Dia juga harus menjaga air yang tertampung di jeriken agar tidak diambil orang lain. Setelah jeriken penuh air, barulah anak pasangan Agustinus Nikolaus dan Angelina Mercy itu pulang.

Saat Markus mencari penumpang, adik bungsunya, Maria Florensa (10), yang menggantikannya. Maria pun harus bolos sekolah untuk menunggui tetesan air dari batang pisang memenuhi jeriken.