Saturday, August 8, 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 8 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 8 Agustus 2015

Perpres Percepatan Akan Terbit

Serapan Anggaran Pemerintah Terus Dipantau


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo segera menerbitkan peraturan presiden dan instruksi presiden untuk mempercepat pembangunan infrastruktur strategis dan realisasi penyerapan anggaran. Kedua peraturan itu akan dikeluarkan sebelum Hari Kemerdekaan Indonesia.

 Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mengumumkan, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2015 sebesar 4,67 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi triwulan I-2015 sebesar 4,71 persen.

”Penyusunan perpres dan inpres terkait percepatan pembangunan infrastruktur strategis kini sudah memasuki tahap akhir. Diharapkan, bisa terbit sebelum tanggal 17 Agustus,” kata Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo, di Jakarta, Jumat (7/8). Kedua produk hukum itu memungkinkan kepala daerah, baik gubernur, bupati, maupun wali kota, lebih percaya diri dalam mempercepat penyerapan anggaran.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, per akhir Juli 2015, realisasi belanja negara mencapai Rp 913,5 triliun atau 46 persen dari pagu belanja dalam APBN-P 2015 sebesar Rp 1.984 triliun. Pemerintah juga menemukan anggaran belanja pemerintah yang ditransfer ke daerah mengendap di perbankan dan belum dimanfaatkan sebesar Rp 273 triliun sampai Juli 2015.

Pilkada Serentak

Presiden: Telah Ada Komitmen Partai


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo menuturkan, telah ada komitmen di antara partai politik untuk mendorong munculnya pasangan calon baru di tujuh daerah yang saat ini masih memiliki satu pasangan calon. Dengan dasar ini, diyakini akan ada perkembangan positif saat Komisi Pemilihan Umum membuka kembali pendaftaran di tujuh daerah yang masih punya satu pasangan calon pada 9-11 Agustus 2015.

 ”Mereka sudah berkomitmen untuk mendorong pasangan calon kepala daerah lebih dari satu,” kata Presiden, di Jakarta, Jumat (7/8).

Tujuh daerah yang saat ini masih memiliki satu pasangan bakal calon adalah Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat), Kota Samarinda (Kalimantan Timur), Kabupaten Timor Tengah Utara (Nusa Tenggara Timur), Kota Mataram (Nusa Tenggara Barat), serta Kabupaten Blitar, Kabupaten Pacitan, dan Kota Surabaya di Jawa Timur.

Terkait dengan komitmen untuk memunculkan pasangan baru di tujuh daerah itu, sejumlah partai terus menjalin komunikasi. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Jawa Timur Soekarwo mengatakan, komunikasi untuk memunculkan calon baru di tiga daerah di Jawa Timur yang kini masih memiliki satu pasang bakal calon tidak hanya dilakukan ke parpol, tetapi juga ke keluarga dan bakal calon yang bersangkutan.

Pusaka Bahari

Besi Luwu, yang Tersisa dari Kehebatan Metalurgi Nusantara


Lima abad silam, masyarakat di Danau Matano, pedalaman Luwu, Sulawesi Selatan, telah mahir menempa batu menjadi perkakas besi. Kini, Luwu masih produsen logam, tetapi dalam bentuk mentah dan seluruhnya diekspor.

Kepandaian menempa logam, menurut sejarawan Anthony Reid (2014), merupakan penciptaan kekuasaan. Sebab, logam terutama dipakai mencipta senjata, baru setelahnya untuk alat pertanian.

Maka, mereka yang memiliki kepandaian mengolah logam, dalam bahasa Jawa disebut pande (pandai), dan bahasa Bugis panre, memiliki posisi penting. Bahkan, bisa menjadi penguasa. Sebagai contoh, raja kedua Bone memakai gelar Petta Panre Besi atau "Tuan Kita Pandai Besi". Adapun dalam tradisi rakyat Jawa Barat dikenal Ciung Wanara, pandai besi yang kemudian merebut takhta Galuh.

Pada masa lalu, kejayaan Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan maritim tak lepas dari dukungan industri senjata logam.

"Majapahit butuh banyak persenjataan kuat, ringan, dan mudah ditempa. Karakter besi Luwu yang kaya nikel mampu memenuhi kriteria itu," kata Iwan Sumantri, arkeolog Universitas Hasanuddin, Makassar.