Thursday, August 13, 2015

Kompas, Edisi, Kamis, 13 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Kamis, 13 Agustus 2015

Ekonomi Menjadi Ujian

Perombakan Kabinet Tidak Mengganggu Stabilitas Politik


JAKARTA, KOMPAS — Pemulihan ekonomi menjadi tantangan utama Kabinet Kerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, khususnya lima menteri dan satu pejabat setingkat menteri yang dilantik, Rabu (12/8). Sinergi dan kerja yang optimal menjadi kunci untuk menjawab tantangan itu.

Hadir dalam acara pelantikan itu antara lain Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemimpin lembaga negara, menteri Kabinet Kerja, dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Hadir pula sejumlah pemimpin partai yang ada di pemerintahan Jokowi-Kalla, yaitu Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, dan Ketua Umum PPP hasil Muktamar Surabaya Romahurmuziy.

Sementara itu, dari enam orang yang diganti, hanya Sofyan Djalil yang hadir saat pelantikan. Kemarin, ia dilantik menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.

Surya Paloh memahami keputusan Presiden merombak kabinet untuk meningkatkan kinerja pemerintah meski kader partainya, Tedjo Edhy Purdijatno, dilepas dari jabatannya sebagai Menko Polhukam.


Kongres Diaspora

Perantau Tetap Bisa Mengabdi pada Bangsa


JAKARTA, KOMPAS — Dalam konteks dunia global, nasionalisme tidak lagi hanya bergantung pada selembar kertas penanda status kewarganegaraan. Mereka yang pergi merantau ke luar negeri, baik tinggal menetap maupun sementara, tetap bisa menyumbangkan manfaat bagi Tanah Air.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan hal itu saat membuka Kongres Diaspora Indonesia III bertema "Diaspora Bakti Bangsa", di Jakarta, Rabu (12/8). "Kalau dulu, orang yang memilih kewarganegaraan lain nasionalismenya dinilai turun. Kini, memilih kewarganegaraan lain bukan berarti nasionalismenya turun. Mereka yang memiliki paspor Indonesia tidak berarti lebih baik (nasionalismenya) dibandingkan dengan mereka yang tidak punya," tuturnya.

Wapres mengatakan, warga negara Indonesia (WNI) ataupun keturunan Indonesia yang berdiaspora (menyebar) ke luar negeri tetap bisa mengabdi kepada bangsa Indonesia. Dukungan itu bisa diberikan mereka dalam bentuk pengalaman, jaringan, modal, dan akses ke pasar luar negeri.


Perombakan Kabinet

Memanfaatkan Momentum "Reshuffle"


Pergantian menteri adalah momentum. Awalnya, peristiwa penting ini diharapkan menjadi counter-cycle yang mampu membalikkan arah perekonomian menjadi lebih baik. Namun, masuknya 4 orang baru ini justru terjadi dalam situasi regional dan global begitu buruk, setelah Tiongkok mengubah nilai referensi mata uangnya.

Momentum pergantian menteri seakan tenggelam oleh momentum yang lebih besar. Bahkan, menteri baru harus menghadapi perkembangan baru yang lebih rumit. Ada gejala semakin meningkatnya perang nilai tukar antarnegara besar di dunia.

Menko Perekonomian Darmin Nasution sudah harus berhadapan dengan kemerosotan nilai tukar dan pelemahan pasar. Pada hari pelantikan, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia meluncur ke level 4.400-an, sementara nilai tukar terus melemah ke kisaran Rp 13.800. Namun, patut dipahami, keduanya tak berhubungan satu sama lain dalam jangka pendek. Pasar keuangan (regional) tengah bergolak sejak kemarin, menyusul kebijakan Tiongkok memperlemah mata uangnya.