Wednesday, August 19, 2015

Kompas, Edisi, Rabu, 19 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Rabu, 19 Agustus 2015

Dua WNI Jadi Korban Bom

11 dari 20 Korban Meninggal Warga Negara Asing


BANGKOK, KOMPAS — Pemerintah RI mengonfirmasi dua WNI korban ledakan bom di pusat kota Bangkok, Thailand, Senin (17/8) malam, adalah pasangan suami istri Hermawan Indradjaja (61) dan Lioe Lie Tjing (61). Mereka berasal dari Jakarta dan sedang berwisata di Thailand.

Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha C Nasir, Selasa, keduanya berada di lokasi ledakan saat peristiwa itu terjadi. "Sang istri (Lioe Lie Tjing) tewas. Jenazahnya dibawa ke rumah sakit. Adapun sang suami (Hermawan Indradjaja) terluka di kepala dan tengah dirawat di Rumah Sakit Hua Chiew Bangkok," paparnya.

Wartawan Kompas, Subur Tjahjono, dari Bangkok, melaporkan, Kedutaan Besar RI di Bangkok mengetahui keberadaan dan kondisi Hermawan Indradjaja dan Lioe Lie Tjing pada Selasa pagi. Berdasarkan penjelasan Koordinator Fungsi Sosial dan Budaya KBRI di Bangkok Subandrio, kedutaan meminta warga Indonesia yang berwisata dan tinggal di Bangkok kini sebaiknya menghindari keramaian.


HUT ke-70 RI

Parpol Menjadi Bagian dari Persoalan Bangsa


JAKARTA, KOMPAS — Hingga 70 tahun usia kemerdekaan Indonesia, partai politik belum bisa berperan optimal dalam mengupayakan terwujudnya cita-cita bangsa. Parpol justru menjadi bagian dari persoalan, bukan solusi bagi bangsa.

Pada saat yang sama, menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Selasa (18/8), politik juga menjadi sangat transaksional dan garang. Ini menunjukkan politik mulai kehilangan bingkai keadaban dan spiritualitas.

Pengajar STF Driyarkara, Jakarta, Franz Magnis-Suseno, menilai, kini parpol malah jadi beban bagi kehidupan demokrasi.

"Parpol seperti hanya terdiri atas orang-orang yang mencari kesempatan berpolitik, bahkan kadang untuk memperkaya diri. Jadi, dari demokrasi kita, unsur yang paling lemah justru parpol dan kalau itu tidak bisa diperbaiki, kita akan mengalami masalah dengan demokrasi kita," tuturnya.


Kecelakaan Trigana Air

"Pesawat Bapak Hilang Kontak Bu..."


Sebuah foto pesawat dengan bingkai berukuran 60 cm x 80 cm terpajang di ruang tamu kediaman Hasanuddin, pilot pesawat Trigana Air yang jatuh di Papua. Selasa (18/8) malam, puluhan kerabat dan tetangga menyampaikan dukacita ke rumah Hasanuddin di Desa Kadu Jaya, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Banten.

Dua bendera kuning terpancang di pagar rumah dua lantai tersebut. Malam itu, keluarga mengadakan pengajian atas kepergian Hasanuddin, pilot pesawat ATR 42-400 bernomor registrasi PK-YRN milik maskapai Trigana Air dengan nomor penerbangan IL-267.

Susana duka menyelimuti kediaman Hasanuddin. Kerabat yang datang pun tak kuasa menahan tangis.

"Ibu (Siti Zaenab, istri Hasanuddin) sudah beberapa kali pingsan," ujar Ridwan Iskandar (36), keponakan Hasanuddin.

Baru sekitar lima tahun Hasanuddin dan keluarga mendiami rumah tersebut. Sebelumnya, keluarga Hasanuddin bermukim di Karawaci, Tangerang.