Sunday, July 17, 2016

Kompas Edisi Minggu 17 Juli 2016

Kompas Edisi Minggu 17 Juli 2016
Kompas Edisi Minggu 17 Juli 2016

Publik Mendukung Demokrasi

Kudeta Militer di Turki Digagalkan, 161 Warga Sipil Tewas


ANKARA, SABTU — Pemerintah Turki, Sabtu (16/7), berhasil menggagalkan kudeta militer dan menguasai keadaan. Keberpihakan pada demokrasi dan kurangnya dukungan publik menjadi faktor penentu kegagalan kudeta militer itu. Sedikitnya 2.839 tentara yang diduga terlibat ditahan. "Situasi telah terkendali," kata Perdana Menteri Turki Binali Yildirim, di Ankara.

Namun, kudeta yang meletus pada Jumat malam itu menyebabkan setidaknya 161 warga sipil tewas dan 1.440 lainnya luka-luka. Sebanyak 104 tentara pemberontak tewas dalam usaha mereka menggulingkan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Menurut Yildirim, kudeta itu menjadi noda hitam bagi demokrasi Turki.

Kudeta yang dipimpin sejumlah kolonel tersebut meletus pada Jumat (15/7) malam. Sejumlah jet tempur F-16, yang dikuasai pemberontak, terbang rendah di atas Ankara. Pada saat yang sama, tank-tank Leopard A4 pemberontak memblokir jalan utama dan jembatan yang melintasi Selat Bosphorus di Istanbul. Mereka berhadapan dengan massa yang marah. Sejumlah saksi mata mengatakan, mereka melihat tentara pemberontak melepaskan tembakan ke arah warga dan melukai mereka.


VAKSIN PALSU

Warga Bisa Gugat Rumah Sakit


JAKARTA, KOMPAS — Kemarahan orangtua yang anak-anaknya diduga memperoleh vaksin palsu kembali terjadi di Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta Timur, Sabtu (16/7). Kemarahan dipicu tuntutan mereka terkait verifikasi data anak balita penerima vaksin palsu itu tak dipenuhi manajemen rumah sakit.

Wali Kota Jakarta Timur Bambang Musyawardana yang memberikan alternatif pengaduan ke tiap puskesmas di kecamatan diprotes para orangtua. Hadir juga saat itu Direktur Utama RS Harapan Bunda, Finna.

”Kami tidak mau puskesmas. Kami mau Rumah Sakit Harapan Bunda bertanggung jawab penuh atas penggunaan vaksin palsu terhadap anak-anak kami,” kata beberapa orangtua.


SELISIK BATIK

Batik Tujuh Generasi di Atas Bantal Using


Bagi penduduk asli Banyuwangi, orang using, batik tak sekadar sandang. Mereka punya penghargaan dan penghormatan mendalam terhadap batik, terutama ketika hari Lebaran. Batik ditempatkan sebagai pusaka warisan leluhur yang dirawat dengan sepenuh hati dan Lebaran menjadi puncak merayakan penghormatan terhadap batik sebagai representasi kehadiran leluhur.

 Di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang dihuni masyarakat using, lembaran kain batik diwarisi turun-temurun. Sehari sebelum Lebaran, Mbah Surem (85) dan suaminya, Basir (95), membuka blek atau wadah kaleng yang disimpan di kamar di lantai dua rumah putrinya, Hj Susiati (62). Dari tujuh blek itu, pasangan sepuh ini memilih beberapa lembar batik berusia ratusan tahun.

Batik tertua dengan motif complongan dan garuda mungkur dipegang dengan hati-hati oleh Surem. Batik itu diwarisi dari mbah canggahnya, tiga generasi di atas Surem. Kini, Surem memiliki cucu buyut dari cucunya, Ibu Lurah Kemiren Lilik Yuliati (38), sehingga batik itu diperkirakan dimiliki keluarga itu selama lebih dari 7 generasi.