Showing posts with label selisik batik. Show all posts
Showing posts with label selisik batik. Show all posts

Saturday, September 24, 2016

Kompas Edisi Minggu 25 September 2016

Kompas Edisi Minggu 25 September 2016
Kompas Edisi Minggu 25 September 2016

Jaga Kedamaian Pilkada 2017

Ekonomi Jangan Terganggu


JAKARTA, KOMPAS — Semua pasangan bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai tanggung jawab untuk menjaga Pemilihan Kepala Daerah 2017 berjalan aman dan damai. Pilkada jangan sampai malah menggerogoti pembangunan ekonomi yang sudah mulai terjaga.

Pembakaran tiga sepeda motor, sebuah kendaraan roda empat, dan penyerangan posko tim pemenangan milik bakal calon bupati Mappi, Papua, Stefanus Kaisma, di Jalan Kalimantan, Distrik Obaa, Jumat (23/9) malam, menjadi peringatan bagi setiap pasangan bakal calon kepala daerah yang akan berlaga pada Pilkada 2017.

Terkait kondisi di Kabupaten Mappi, Kepolisian Resor Mappi, Sabtu, menetapkan status Siaga Satu agar konflik pada awal tahapan pilkada itu tidak semakin meluas. Kepala Polres Mappi Ajun Komisaris Besar Wartono mengatakan, pihaknya menyiagakan 200 personel untuk mengantisipasi konflik dalam pilkada.


DEWAN KEAMANAN PBB

RI Calonkan Diri sebagai Anggota Tidak Tetap 2019-2020


NEW YORK, KOMPAS — Indonesia kembali menegaskan keinginannya untuk menjadi mitra sejati perdamaian dunia. Untuk itu, Indonesia memutuskan mencalonkan diri sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa periode 2019-2020.

 Keputusan Indonesia itu secara resmi disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat berpidato pada sesi debat umum Sidang Majelis Umum PBB, Jumat (23/9) atau Sabtu pagi WIB.

”Dalam kesempatan ini, izinkan saya untuk mengumumkan pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2019-2020,” kata Kalla, sebagaimana dilaporkan wartawan Kompas, Anita Yossihara dan Kris Razianto Mada, dari New York, Amerika Serikat.


SELISIK BATIK

Batik Larangan Penguasa Mataram


”Abdi Ningsun kang kasebut ing dhuwur ora susah ngenteni dhawuh ingsun, wenang anglarangi wong-wong mau lumebu ing Kraton, utawa andhawuhi metu saka ing sajrone Kraton....” (Abdiku yang tersebut di atas, tidak perlu menunggu perintahku untuk menegur orang-orang yang mau masuk ke keraton atau meminta mereka keluar dari keraton....)

 Diambil dari Rijksblad van Djokjakarta atau Undang- Undang Keraton Yogyakarta Tahun 1927 yang memuat aturan pemakaian busana, penggalan kalimat di atas merupakan titah dari Sultan Hamengku Buwono VIII untuk ”mengusir” siapa saja yang salah berbusana di Keraton Yogyakarta. Angka 19 pada Rijksblad 1927 jelas-jelas memuat judul: larangan panganggo (larangan berbusana).

Ditulis dalam bahasa Belanda dan Jawa, undang-undang yang diberi cap asmo dalem dengan persetujuan Tuan Residen Ngayogyakarta Y.e. Yasper dan diundangkan oleh Papatih Dalem Pangeran Haryo Hadipati Danurejo ini menyebut delapan motif batik larangan: parang rusak barong, parang rusak gendrek, parang rusak klithik, semen gedhe sawat grudha, semen gedhe sawat lor, udan riris, rujak senthe, dan parang-parangan yang bukan parang rusak.

Sunday, September 11, 2016

Kompas Edisi Minggu 11 September 2016

Kompas Edisi Minggu 11 September 2016
Kompas Edisi Minggu 11 September 2016

Hari Ini Puncak Ibadah Haji

Petugas Melakukan Penyisiran


JAKARTA, KOMPAS — Hari Minggu (11/9) ini, bertepatan 9 Zulhijah 1437 Hijriah, jutaan orang umat Islam dari berbagai penjuru dunia menjalani wukuf di Padang Arafah, Arab Saudi. Sekitar 168.800 anggota jemaah asal Indonesia pun bersiap-siap melakoni puncak rangkaian ibadah haji tersebut.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ahmad Dimyati mengatakan, petugas menyisir areal sekitar Masjidil Haram untuk memastikan semua jemaah calon haji berangkat ke Arafah sebagai syarat sahnya haji.

”Jika ada yang tertinggal, kami antar menuju ke Arafah,” kata Dimyati, Sabtu (10/9).

Selain menyisir di sekitar Masjidil Haram, petugas kesehatan juga menyiapkan berbagai fasilitas bagi jemaah calon haji yang sakit, termasuk menyediakan bus-bus yang dimodifikasi, agar jemaah yang sakit bisa ke Arafah dengan safari wukuf.


KRISIS SURIAH

Kesepakatan AS-Rusia Dorong Perdamaian


GENEVA, SABTU — Kesepakatan antara Pemerintah Amerika Serikat dan Rusia diharapkan mendorong perdamaian di Suriah. Hal itu hanya memungkinkan jika langkah tersebut dapat dipatuhi kedua pihak sekaligus didukung pihak-pihak yang saling berseberangan di negeri itu, khususnya pemerintah, kelompok oposisi, serta kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah.

Kesepakatan tentang Suriah itu bakal dimulai dengan penghentian permusuhan semua pihak di negeri itu sejak matahari terbenam hari Senin (12/9). Merujuk pada hasil pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan sejawatnya dari Rusia, Sergei Lavrov, di Geneva, Swiss, pada Jumat (9/9) waktu setempat, pemerintah rezim Damaskus bakal mengakhiri misi tempur di daerah-daerah tertentu yang dikuasai oposisi di negeri itu.

Hal itu akan diikuti dengan rencana Rusia-AS mendirikan pusat bersama guna memerangi sejumlah kelompok bersenjata, terutama kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). ”Kami bersepakat untuk bersama-sama menghentikan teroris melalui Angkatan Udara Rusia dan AS. Kami bersepakat membagi zona-zona di mana serangan akan dilakukan,” kata Lavrov.


Selisik batik

Masa Depan di Ujung Canting


Nun jauh di Papua yang tak memiliki tradisi membatik, batik lahir menjadi sebuah cara berkesenian baru. Kala modernitas mulai menggerus ruang-ruang berkesenian yang sejak dulu telah menjadi bagian hidup orang Papua, batik dibangun sebagai oase yang memberi harapan baru.

Harum bau malam yang dipanaskan di atas kompor minyak kecil menyusup di antara temaram sore yang berganti petang. Wanginya mengiringi jemari tua Martina Iwo (68) menuntun ujung canting, seperti detik yang tengah melukis senja.

Tenang ia menarik napas, mengembuskannya perlahan sambil terus memandangi lembar kain putih yang sebagian telah dilukisnya dengan malam. "Membuat batik tulis motif khas Papua tak berbeda dengan membuat batik motif-motif lain di Jawa. Kami tak hanya dituntut teliti, tetapi juga sabar. Sabar, seperti sehari-hari hidup dalam keluarga," kata Martina.

Sunday, August 21, 2016

Kompas Edisi Minggu 21 Agustus 2016

Kompas Edisi Minggu 21 Agustus 2016
Kompas Edisi Minggu 21 Agustus 2016

Hasil Poros Maritim Tak Sesuai Harapan

Karnaval Pesona Toba Digelar


PARAPAT, KOMPAS — Presiden Joko Widodo mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap implementasi konsep poros maritim yang sudah dicanangkan hampir dua tahun lalu. Menurut Presiden, keseriusan mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia belum sesuai harapan.

Presiden menginginkan pembangunan pelabuhan dilengkapi kawasan industri pengolahan ikan terpadu beserta galangan kapal kelas dunia di sepanjang pantai strategis, terutama Selat Malaka. Konektivitas antarpulau dengan pelabuhan pemandu pelayaran internasional juga menjadi prioritas pemerintah.

"Sudah hampir dua tahun kita berbicara masalah poros maritim dan sampai saat ini implementasinya masih banyak yang belum berjalan. Kita tahu dua pertiga wilayah Indonesia merupakan laut yang harus kita manfaatkan posisi strategis Indonesia di antara Samudra Hindia dan Pasifik," ujar Presiden saat membuka rapat terbatas tentang poros maritim, Sabtu (20/8) malam di Parapat, Sumatera Utara.


SELISIK BATIK

Rentang Batik di Dua Negeri


Tidak hanya di Jawa, di Pulau Suwarnadwipa pun batik tidak kalah lekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Seperti di Jambi dan Bengkulu, kain yang dibuat dengan perintang malam ini tidak hanya dipakai dalam kehidupan keseharian, tetapi juga turut menyertai proses kehidupan sejak lahir hingga mati.

Pagi itu Nenek Sonah (70) keluar dari rumahnya untuk ke ladang. Terselip di bawah lengannya selembar kain batik jambi motif tampuk manggis. Baju dasternya juga bermotif batik yang pada bagian bawah dilapisi sarung batik bermotif durian pecah dengan tumpal pucuk rebung. "Dari dulu, tiap hari ya begini. Pakai kuluk (tudung kepala) biar tak panas," katanya.

Di huma sebelahnya, Sukiyah (58) tengah sibuk mencabuti rumput di sela tanaman kacang panjang. Di kepalanya bertengger kuluk, juga dari sarung batik.


Pendidikan Islam

Pesantren Jadi Pusat Peradaban


PONOROGO, KOMPAS — Umat Islam di dunia mulai kehilangan pusat-pusat peradaban setelah konflik dan perang melanda sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu, pusat-pusat peradaban baru perlu diciptakan agar umat Islam tidak kehilangan tempat untuk menimba ilmu. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, Indonesia berpeluang menjadi pusat peradaban Islam baru.

Wakil Presiden M Jusuf Kalla saat menghadiri perayaan ulang tahun ke-90 Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (20/8), mengatakan, upaya untuk menciptakan peradaban Islam baru itu bisa dilakukan lembaga pendidikan Islam, termasuk pondok pesantren. Apalagi, banyak pondok pesantren di Indonesia yang bertaraf internasional.

Salah satunya, Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor yang sudah berusia 90 tahun. Bukan hanya santrinya yang berasal dari dalam dan luar negeri, melainkan pandangan dan pemikirannya pun berprespektif global.

Sunday, August 7, 2016

Kompas Edisi Minggu 7 Agustus 2016

Kompas Edisi Minggu 7 Agustus 2016
Kompas Edisi Minggu 7 Agustus 2016

Pesan Lestari dari Olimpiade Rio

Warga Brasil Kurang Antusias, Temer Dicemooh


RIO de JANEIRO, KOMPAS Dengan anggaran terbatas, pembukaan Olimpiade Rio de Janeiro 2016 tak bisa dibandingkan dengan kecanggihan dan kemegahan Olimpiade London 2012 dan Beijing 2008. Namun, pembukaan Olimpiade Rio membawa pesan membumi tentang alam dan kemanusiaan.

Harian Kompas dari Rio de Janeiro, Brasil, melaporkan, pembukaan Olimpiade Rio berlangsung di stadion kebanggaan Brasil, Maracana, Jumat (5/8) malam waktu setempat atau Sabtu pagi di Indonesia. Sejak awal, mereka yang terlibat dalam tim upacara pembukaan menjanjikan membuat acara yang meninggalkan kesan di hati meski dengan anggaran terbatas.

Media internasional memberitakan, anggaran untuk upacara pembukaan Rio itu 10 kali lebih kecil daripada anggaran upacara pembukaan Olimpiade London 2012 yang mencapai 41,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 546 miliar.


KEAMANAN REGIONAL

Terorisme Ancaman Besar ASEAN


JAKARTA, KOMPAS — Terbongkarnya rencana serangan kelompok teroris Katibah Gonggong Rebus ke Singapura semakin menguatkan dugaan bahwa terorisme merupakan ancaman besar bagi negara-negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Oleh karena itu, negara anggota ASEAN akan terus meningkatkan koordinasi dalam pencegahan terorisme, antara lain di bidang intelijen.

Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengemukakan hal itu seusai membuka Muktamar Nasional Rabithah Alawiyah di Jakarta, Sabtu (6/8). ”Selain itu, tiap-tiap negara juga mempunyai tugas memperkuat masyarakat, terutama dalam bidang perekonomian dan pendidikan,” kata Kalla.

Seperti diberitakan, Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri menangkap enam terduga teroris Katibah Gonggong Rebus (KGR) di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (5/8). Mereka adalah GRD (31), TS (46), ES (35), TAR (21), HGY (20), dan MTS (19). GRD merupakan bagian kelompok teror asal Solo, Jawa Tengah, yang memiliki hubungan baik dengan Bahrun Naim, salah seorang pemimpin sayap militer Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) asal Indonesia (Kompas, 6/8).


SELISIK BATIK

Api Kecil dari Ciamis


Batik dari tanah Priangan adalah simbol daya hidup dan keuletan. Pernah mengantarkan Priangan menuju kejayaan, tetapi nyaris lenyap digulung serbuan tekstil motif batik. Meski demikian, generasi penerusnya tetap keras kepala mempertahankan eksistensi batik dari gigitan kepunahan.

Hampir setengah abad setelah keruntuhan batik di Ciamis, daya hidup dan keuletan kini kembali muncul dari sebuah sudut tak terlihat di Ciamis, Jawa Barat. Di sebuah tempat pembuatan batik di kompleks Koperasi Rukun Batik di Jalan Raya Ciamis, pembatik berjibaku demi kebangkitan batik.

Di sana, ada Jojoh (49), warga Sindangsari, yang bersama tiga orang lainnya, khusyuk membatik ditemani dakwah ustazah lewat siaran radio lokal. Panas dan kepulan asap pembakaran malam membuat keringat menetes tanpa henti, tetapi tak pernah menghentikan semangat mereka.

Sunday, July 24, 2016

Kompas Edisi Minggu 24 Juli 2016

Kompas Edisi Minggu 24 Juli 2016
Kompas Edisi Minggu 24 Juli 2016

Anak Tanggung Jawab Bersama

Gerakan Bersama Lindungi Anak Dicanangkan


MATARAM, KOMPAS — Tantangan untuk memenuhi dan melindungi hak-hak anak kian bertambah berat. Maka, pemerintah menyerukan agar semua pihak terlibat dalam upaya perlindungan dan pemenuhan hak anak. Perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

 Seruan tersebut disampaikan pemerintah melalui Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani pada peringatan Hari Anak Nasional di Lapangan Sangkareang, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (23/7). Ia mencanangkan Gerakan Bersama Lindungi Anak.

”Dengan mengangkat tinggi- tinggi payung merah putih ini, mari membangun gerakan bersama lindungi anak. Semoga peringatan ini tak hanya menjadi seremonial, tetapi juga membuat semua lapisan masyarakat mau melindungi anak,” kata Puan dalam acara yang dihadiri sekitar 3.000 anak dari Nusa Tenggara Barat dan perwakilan setiap kabupaten dan kota di Indonesia.


Terorisme

Strategi Persuasif Tetap Dikedepankan


JAKARTA, KOMPAS — Berbagai strategi persuasif tetap dikedepankan untuk menyadarkan para anggota kelompok garis keras agar tidak lagi terlibat terorisme. Namun, operasi keamanan tetap berlanjut untuk mengejar kelompok teroris yang menolak menyerahkan diri.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius, yang dihubungi melalui telepon dari Jakarta, Sabtu (23/7), mengatakan, dengan tertangkapnya istri pemimpin kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso, Umi Delima, maka pengikutnya yang masih tersisa diperkirakan tinggal 18 orang lagi. Pemerintah dan aparat keamanan terus mengimbau mereka segera menyerahkan diri agar mendapat pengampunan.

”Langkah persuasif agar mereka mau menyerahkan diri tetap dikedepankan oleh aparat keamanan gabungan TNI dan kepolisian. Imbauan agar mereka menyerahkan diri juga sudah sering disampaikan. Seperti sudah disampaikan Menko Polhukam dan Kapolri, jika mereka mau menyerahkan diri, justru akan dipertimbangkan keringanan,” kata Suhardi.


Selisik Batik

Keindahan di Kantong Buruh Migran


Menjadi pembatik di wilayah eks Karesidenan Banyumas adalah jalan terakhir. Banyak perempuan muda memilih merantau ketimbang menjadi pembatik. Setelah letih dimakan usia dan menua, barulah mereka kembali melirik batik. Batik tak memberi harapan. Lantaran itulah, mereka memilih menjadi buruh migran.

 Sesungguhnya batik secara turun-temurun menjadi bagian dari irama napas keseharian di pedesaan banyumasan. Rominah (44) pernah merantau ke Pulau Pinang, Malaysia, sebelum kembali menekuni profesi lama sebagai pembatik di Desa Papringan, Banyumas. Kala itu, krisis ekonomi sedang berkecamuk dan berimbas pada kehidupan rumah tangganya. Meski takut, ia memilih meninggalkan batik, lalu bekerja sebagai pekerja rumah tangga selama dua tahun di negeri tetangga.

Ketika ditemui di Galeri Kelompok Usaha Bersama (KUB) Pringmas di Desa Papringan, Banyumas, yang dikelola sesama warga desa dengan bantuan modal awal dari Bank Indonesia, Rominah sibuk menjemur lembaran batik yang baru saja diwarnai. Ia menjemur batik bersama Soimah (39) dan Naryuti (35) yang kini juga membatik. Sebelumnya, mereka bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Malaysia, Singapura, dan Hongkong.

Sunday, July 17, 2016

Kompas Edisi Minggu 17 Juli 2016

Kompas Edisi Minggu 17 Juli 2016
Kompas Edisi Minggu 17 Juli 2016

Publik Mendukung Demokrasi

Kudeta Militer di Turki Digagalkan, 161 Warga Sipil Tewas


ANKARA, SABTU — Pemerintah Turki, Sabtu (16/7), berhasil menggagalkan kudeta militer dan menguasai keadaan. Keberpihakan pada demokrasi dan kurangnya dukungan publik menjadi faktor penentu kegagalan kudeta militer itu. Sedikitnya 2.839 tentara yang diduga terlibat ditahan. "Situasi telah terkendali," kata Perdana Menteri Turki Binali Yildirim, di Ankara.

Namun, kudeta yang meletus pada Jumat malam itu menyebabkan setidaknya 161 warga sipil tewas dan 1.440 lainnya luka-luka. Sebanyak 104 tentara pemberontak tewas dalam usaha mereka menggulingkan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Menurut Yildirim, kudeta itu menjadi noda hitam bagi demokrasi Turki.

Kudeta yang dipimpin sejumlah kolonel tersebut meletus pada Jumat (15/7) malam. Sejumlah jet tempur F-16, yang dikuasai pemberontak, terbang rendah di atas Ankara. Pada saat yang sama, tank-tank Leopard A4 pemberontak memblokir jalan utama dan jembatan yang melintasi Selat Bosphorus di Istanbul. Mereka berhadapan dengan massa yang marah. Sejumlah saksi mata mengatakan, mereka melihat tentara pemberontak melepaskan tembakan ke arah warga dan melukai mereka.


VAKSIN PALSU

Warga Bisa Gugat Rumah Sakit


JAKARTA, KOMPAS — Kemarahan orangtua yang anak-anaknya diduga memperoleh vaksin palsu kembali terjadi di Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta Timur, Sabtu (16/7). Kemarahan dipicu tuntutan mereka terkait verifikasi data anak balita penerima vaksin palsu itu tak dipenuhi manajemen rumah sakit.

Wali Kota Jakarta Timur Bambang Musyawardana yang memberikan alternatif pengaduan ke tiap puskesmas di kecamatan diprotes para orangtua. Hadir juga saat itu Direktur Utama RS Harapan Bunda, Finna.

”Kami tidak mau puskesmas. Kami mau Rumah Sakit Harapan Bunda bertanggung jawab penuh atas penggunaan vaksin palsu terhadap anak-anak kami,” kata beberapa orangtua.


SELISIK BATIK

Batik Tujuh Generasi di Atas Bantal Using


Bagi penduduk asli Banyuwangi, orang using, batik tak sekadar sandang. Mereka punya penghargaan dan penghormatan mendalam terhadap batik, terutama ketika hari Lebaran. Batik ditempatkan sebagai pusaka warisan leluhur yang dirawat dengan sepenuh hati dan Lebaran menjadi puncak merayakan penghormatan terhadap batik sebagai representasi kehadiran leluhur.

 Di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang dihuni masyarakat using, lembaran kain batik diwarisi turun-temurun. Sehari sebelum Lebaran, Mbah Surem (85) dan suaminya, Basir (95), membuka blek atau wadah kaleng yang disimpan di kamar di lantai dua rumah putrinya, Hj Susiati (62). Dari tujuh blek itu, pasangan sepuh ini memilih beberapa lembar batik berusia ratusan tahun.

Batik tertua dengan motif complongan dan garuda mungkur dipegang dengan hati-hati oleh Surem. Batik itu diwarisi dari mbah canggahnya, tiga generasi di atas Surem. Kini, Surem memiliki cucu buyut dari cucunya, Ibu Lurah Kemiren Lilik Yuliati (38), sehingga batik itu diperkirakan dimiliki keluarga itu selama lebih dari 7 generasi.