Saturday, July 30, 2016

Kompas Edisi Sabtu 30 Juli 2016

Kompas Edisi Sabtu 30 Juli 2016
Kompas Edisi Sabtu 30 Juli 2016

Indonesia Menolak Permintaan Turki

Sembilan Sekolah Dilindungi


JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Indonesia tidak akan menutup sejumlah sekolah swasta yang disebutkan Kedutaan Besar Turki di Jakarta terkait kelompok Fethullah Gulen. Sekolah tersebut bahkan akan dilindungi karena berada di wilayah Indonesia dan tunduk sepenuhnya pada aturan hukum RI.

 ”Indonesia tidak pernah ikut campur urusan dalam negeri negara lain. Demikian pula sebaliknya. Negara lain juga harus menghormati urusan dalam negeri Indonesia,” kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dengan tegas saat dihubungi, Jumat (29/7) sore.

Pernyataan Retno menanggapi siaran pers dari Kedutaan Besar Turki untuk Indonesia yang menuding ada sembilan sekolah di Indonesia yang terkait kelompok Fethullah Gulen, musuh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan dituduh sebagai dalang kudeta yang gagal, 15 Juli lalu.


APBN

Belanja Modal Harus Dioptimalkan


JAKARTA, KOMPAS — Untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun ini, pemerintah disarankan agar mengoptimalkan belanja modal. Saat ini, sejumlah kementerian berupaya agar penyerapan anggaran bisa lebih besar.

Dosen ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, di Jakarta, Jumat (29/7), menyatakan, pemerintah sebaiknya fokus mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara agar bisa menstimulasi perekonomian. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi setidaknya bisa diupayakan 5 persen-5,1 persen tahun ini.

”Optimalkan anggaran, terutama belanja modal. Belanja modal terdiri atas berbagai proyek. Tentu harus dilihat tingkat urgensi dan dampaknya. Mesti dipetakan mana-mana proyek yang memiliki implikasi dan efek berganda,” kata Prasetyantoko.


Inovasi

”Si Anti Ribet” yang Membantu Warga Mengurus Tilang


Mardi (40) menghentikan sepeda motornya di depan sebuah warung makan di Jalan Darmokali, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (22/6) siang. Ia kemudian menanyakan alamat yang hendak ditujunya kepada pemilik warung. Ternyata ia salah arah dan harus memutar balik.

 Di depan kios nomor 88, masih di Jalan Darmokali sesuai arah yang ditunjukkan pemilik warung itu, Mardi kembali kebingungan karena tidak menemukan rumah nomor 92 B yang seharusnya ada di dekat kios itu. Mardi pun kembali bertanya kepada warga. Akhirnya Mardi menemukan rumah yang dicarinya, di sebuah gang.

”Selamat siang Pak, saya dari Kejaksaan Negeri Surabaya mau mengantar STNK (surat tanda nomor kendaraan bermotor) Bapak,” katanya ketika bertemu dengan tuan rumah.