Tuesday, July 12, 2016

Kompas Edisi Selasa 12 Juli 2016

Kompas Edisi Selasa 12 Juli 2016
Kompas Edisi Selasa 12 Juli 2016

WNI Jadi Target Abu Sayyaf

Panglima TNI: Apa Pun Caranya, Pembebasan Akan Dilakukan


JAKARTA, KOMPAS — Tindakan kelompok Abu Sayyaf di Filipina yang menyandera tiga nelayan Indonesia, dan melepaskan empat warga negara Malaysia, menunjukkan jika warga negara Indonesia menjadi target kelompok itu. Hal ini dinilai sangat keterlaluan, terlebih karena aksi yang terjadi Sabtu lalu itu berlangsung di perairan Malaysia yang aman.

Tiga nelayan Indonesia yang disandera adalah Lorence Koten, Teo Dorus Kopong, dan Emanuel.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Senin (11/7), di Jakarta, mengatakan, tiga warga negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang disandera perairan Felda Sahabat, tak jauh dari Lahad Datu, Sabah, Malaysia, itu sudah dibawa ke perairan Tawi- Tawi di wilayah Filipina selatan. Penyandera juga menghubungi pemilik kapal berbendera Malaysia yang sebelumnya dinaiki tiga nelayan Indonesia itu.


MIGRASI

Daerah Kekurangan Tenaga Kerja Terampil


JAKARTA, KOMPAS — Migrasi ke kota besar di Indonesia, terutama Jakarta, bisa ditekan dengan investasi besar-besaran dan perbaikan birokrasi di daerah. Akan tetapi, meski investasi besar sudah masuk, ketersediaan tenaga kerja terampil menjadi kendala di daerah. Banyak peluang menjadi sia-sia. Untuk itu tenaga terampil perlu disiapkan di daerah.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng), misalnya, meminta warganya tidak lagi bekerja di Jakarta dan sekitarnya. Mereka harus meningkatkan keterampilan, terlebih kontribusi Jateng tahun 2015 setara 56 persen dari total investasi tekstil di Indonesia.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Senin (11/7), di sela-sela halalbihalal dengan jajaran pejabat dan pegawai negeri sipil di Kantor Gubernur Jateng, mengatakan, nilai investasi selama 2015 di bidang tekstil tercatat mencapai Rp 4,6 triliun dengan jumlah proyek sebanyak 188. "Dengan proyek sebanyak itu, serapan tenaga kerja bisa di atas 80.000 orang. Investasi tidak berhenti, tetapi akan terus mengalir. Dengan demikian, warga yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri tidak perlu lagi urbanisasi ke Jakarta, cukup bekerja di daerahnya," ujarnya.


KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Gema Toleransi dari Pinggiran Bekasi


Hari raya Idul Fitri telah lewat. Namun, kenangan indah ketika menyaksi-kan bagaimana warga Kampung Sawah, Kota Bekasi, merayakan hari kemenangan itu dan menghormatinya masih kuat melekat.

Hari itu, suasana hangat menyelimuti rumah pasangan Aroh (68) dan Richard Karde Napiun (74) yang berada di bawah pohon rindang di Kampung Sawah, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Rabu (6/7). Di tengah kebahagiaan menyambut hari kemenangan, toleransi bersemi indah dalam semangat silaturahim antara sanak saudara dan kerabat.

Aroh dan Kar, panggilan Richard Karde, adalah salah satu pasangan suami-istri yang berbeda agama di Kampung Sawah. Aroh memeluk agama Islam, sementara Kar beragama Katolik. Mereka dikaruniai sembilan anak, empat di antaranya beragama Islam dan lima beragama Katolik.