Wednesday, July 20, 2016

Kompas Edisi Rabu 20 Juli 2016

Kompas Edisi Rabu 20 Juli 2016
Kompas Edisi Rabu 20 Juli 2016

Waspadai Sel Teroris Baru

Kematian Santoso Tidak Mengakhiri Operasi Tinombala


JAKARTA, KOMPAS — Tewasnya pemimpin kelompok teroris Santoso diyakini belum akan menghentikan aksi teror. Kelahiran sel teroris baru setelah kematian Santoso harus tetap diwaspadai. Pengawasan di wilayah yang menjadi kantong kelompok teror perlu diperketat.

 Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Tito Karnavian di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Selasa (19/7), memastikan dua teroris yang tewas dalam baku tembak dengan anggota Satuan Tugas Operasi Tinombala di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Senin lalu adalah Santoso alias Abu Wardah dan Mukhtar alias Kahar.

Menurut Tito, berdasarkan pengenalan tanda-tanda fisik jenazah, seperti tahi lalat, dan juga pemeriksaan terhadap anggota jaringan Santoso yang dulu pernah ditangkap, 95 persen adalah Santoso. Adapun 5 persennya menunggu kepastian dari sidik jari dan pemeriksaan DNA (deoxyribonucleic acid) Santoso.


Pembangunan

Manfaat Migrasi Bergantung Pemda


JAKARTA, KOMPAS — Secara independen kaum profesional yang memilih kembali ke kampung halaman atau kota kecil telah menggerakkan ekonomi dan komunitas setempat. Namun, manfaat lebih besar dari kehadiran mereka bagi daerah bergantung pada respons pemerintah daerah.

Bupati Bojonegoro Suyoto, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, dan Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo ketika dimintai komentar di sejumlah tempat, Selasa (19/7), menyatakan, terkait dengan fenomena kaum profesional yang memilih bekerja di kampung halaman, mereka bisa memberi manfaat lebih kepada daerah.

”Pemda harus memperbaiki iklim produktivitas. Jangan bikin semua inisiatif mentok. Iklim ini menyangkut perizinan, budaya politik dan sosial, dukungan promosi, pengakuan eksistensi dan apresiasi, sistem logistik, dan lain-lain,” kata Suyoto.


Vaksin Palsu

Kepercayaan Itu Korbankan Anak Kami


 ”Kesalahan terbesar kami adalah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada rumah sakit ini, tetapi anak kami yang menjadi korbannya,” kata Septian Adi Nugroho (27), Selasa (19/7), mengungkapkan kekecewaannya terhadap peredaran vaksin palsu.

Anak Septian, Danis (2 bulan), diduga turut mendapatkan vaksin palsu yang diberikan dokter I dan suster I yang praktik di Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta Timur. Sejak awal pekan lalu, dokter dan suster itu ditahan di Mabes Polri.

Septian bersama para orangtua lain yang memvaksinasi anak-anaknya di RS tersebut membuka Posko Crisis Center untuk menampung semua gugatan orangtua terhadap manajemen rumah sakit dengan dibantu Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.