Monday, February 15, 2016

Kompas Edisi Senin 15 Februari 2016

Kompas Edisi Senin 15 Februari 2016

Kepala Daerah Baru Butuh Pendampingan

Mencegah Terjadinya Mala-administrasi Anggaran


JAKARTA, KOMPAS — Mayoritas kepala daerah yang terpilih pada pemilihan kepala daerah serentak Desember 2015 merupakan pemimpin baru. Di sisi lain, dana dari pemerintah pusat ke daerah naik signifikan. Agar dana itu efektif dalam memajukan daerah, kepala daerah tersebut perlu pendampingan.

Kehadiran pendamping asisten nasional diperlukan agar penggunaan dana daerah bisa efektif dalam menyejahterakan masyarakat. Selain itu, kepala daerah juga tidak terjerat mala-administrasi dan penyalahgunaan anggaran atau korupsi.

Demikian kesimpulan utama dari kajian data dan serangkaian wawancara Kompas dengan sejumlah narasumber yang dilakukan sepekan terakhir sampai Minggu (14/2).

Mereka adalah Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Reydonnyzar Moenek, Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah Robert Endi Jaweng, dan dosen senior Jurusan Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Cornelis Lay.


GERBANG TOL RUSAK

Hari Ini Lalu Lintas di Cikunir Dialihkan


BEKASI, KOMPAS — Cuaca buruk pada Minggu (14/2) siang hingga menjelang malam menyisakan kekacauan hebat di Bekasi, Jawa Barat. Selain Gerbang Tol Cikunir 2 yang roboh, banjir hingga ketinggian air setengah meter terjadi di kawasan Cikarang.

Gerbang Tol (GT) Cikunir 2 ditutup sejak kemarin. Lalu lintas di tol dialihkan. Hingga hari ini, Senin, pengguna tol dari arah Cikampek yang menuju Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) TB Simatupang-Pondok Indah dialihkan sementara melalui Halim Perdanakusuma.

Kerusakan parah tepatnya terjadi di pintu 3 dan 4 GT Cikunir. Atap kanopi nyaris ambruk. Hingga Minggu malam, puluhan pekerja masih memperbaiki GT Cikunir 2 yang roboh akibat angin puting beliung, Minggu, sekitar pukul 14.20. Mereka berada di atap gerbang tol untuk membersihkan puing-puing. Dua alat berat turut disiapkan.


MEMBANGUN PANGAN

Upaya Merenda Asa Tetap Bergelora


Sekadar mengandalkan kesuburan tanah vulkanik saja tidak cukup bagi sebagian petani Indonesia untuk unjuk gigi. Dihantam mekanisme pasar yang tidak pasti, mereka mudah limbung hingga hilang konsentrasi saat hendak memperbaiki kualitas dan hasil panennya.

Tahun 2015 menjadi saat paling buruk bagi Endang Mulyadi (48), petani asal Kampung Babakan Cieurih, Desa Margamekar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sejak menjadi petani 35 tahun lalu. Ia dan kelompok tani asuhannya, Putra Cinta Asih, merugi hingga Rp 2 miliar. Keadaan ini mengulang fakta muram empat tahun lalu, kala itu ia rugi Rp 1,7 miliar.

"Setelah susah payah mengembalikan utang, kini kami dapat cobaan lagi," kata Endang di Pangalengan, akhir Januari.

Putra Cinta Asih adalah kelompok tani sayur terbesar di Pangalengan. Selain memanfaatkan lahan sendiri, kelompok tani ini menyewa lahan bekas perkebunan teh tidak produktif dengan total luas 80 hektar. Di atas tanah vulkanik Bandung selatan, 625 tenaga kerja menggantungkan hidupnya.