Tuesday, February 16, 2016

Kompas Edisi Selasa 16 Februari 2016

Kompas Edisi Selasa 16 Februari 2016

Bersihkan Praktik Mafia di Peradilan

Suap Pegawai MA Berulang


JAKARTA, KOMPAS — Penangkapan Andri Tristianto Sutrisna, pejabat di Mahkamah Agung, diyakini hanya fenomena puncak gunung es di badan peradilan. Sesungguhnya, banyak masalah lain terkait teknis yudisial atau administrasi yang perlu dibersihkan dari praktik-praktik mafia peradilan.

 Terkait hal itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) siap membantu Mahkamah Agung (MA) melakukan sejumlah perbaikan dan mendorong pengetatan standar pengawasan internal.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, Senin (15/2), di Jakarta, mengatakan, pihaknya tengah mempelajari usulan-usulan yang dapat diberikan ke MA agar kasus suap pegawai MA tak terulang.


PILKADA SERENTAK

Kepala Daerah Siap Tinggalkan Pola Lama


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah kepala daerah, yang terpilih melalui pemilu kepala daerah serentak Desember lalu, menyatakan siap meninggalkan kepemimpinan pola lama. Gagasan untuk pendampingan agar terhindar dari jebakan korupsi disambut baik. Masyarakat pun lebih menyukai pemimpin yang bekerja untuk rakyat, bukan dengan pemerintahan yang mempunyai konsep muluk-muluk.

Temuan itu merupakan hasil pengamatan dan wawancara dengan kepala daerah terpilih Kabupaten Kendal, Jawa Tengah; Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur; dan Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat; serta masyarakat Bandung, Jawa Barat; dan Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Bupati Kendal terpilih Mirna Annisa siap meninggalkan pola lama kepemimpinan daerah yang tidak transparan dan kerap disusupi kepentingan. Pemerintah Kabupaten Kendal harus profesional dan kompeten sehingga pelayanan kepada masyarakat optimal. Agar tidak terjerat menjadi pemerintahan yang koruptif, ia berkomitmen menjalankan tugas tanpa kepentingan apa pun.


Problem Kota

Sepenggal Malam di Tepian Kalijodo


Praang...! Seorang perempuan belia bersetelan tank top dan hot pant warna merah, beralas kaki wedges, menjatuhkan gelas birnya. Ia berteriak sambil menunjuk seorang remaja di antara 10 remaja lainnya. Suara musik terhenti.

 Lampu besar menyala, memudarkan kerlap-kerlip lampu warna-warni yang bergerak dari lantai ke plafon. Entah apa yang memicu pertengkaran antara pekerja seks komersial (PSK) itu dan tamunya. Namun, kegaduhan di ruang diskotek seluas 7 meter x 10 meter itu hanya berlangsung beberapa menit.

Seorang pria pengelola tempat itu dengan tenang datang melerai. Disjoki kembali menghidupkan musik. Lampu besar dipadamkan. Lampu warna-warni kembali ”menari” di antara pengunjung yang juga kembali berjoget. Seorang pengasong masuk ke lantai dansa menawarkan kerupuk kulit. Pengasong lainnya datang menawarkan bermacam camilan goreng.