Sunday, February 14, 2016

Kompas Edisi Minggu 14 Februari 2016

Kompas Edisi Minggu 14 Februari 2016

Banjir Bandang Masih Mengancam

Hujan Lebat Guyur Jawa dan Bali 


SURABAYA, KOMPAS — Masyarakat diingatkan, ancaman banjir bandang harus diwaspadai karena intensitas hujan tinggi diprediksi masih mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia. Karakteristik banjir bandang yang terjadi tiba-tiba dengan aliran air deras sangat membahayakan dan merusak.

 ”Banjir bandang sangat destruktif sebab datang tiba-tiba dan cepat. Akibatnya, selalu ada korban meninggal,” kata Agus Maryono, Ketua Kelompok Kerja Banjir dan Kekeringan Ikatan Ahli Bencana Indonesia di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (13/2).

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Tri Handoko Seto juga memprakirakan hujan lebat mengguyur wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua. Hujan lebat dipicu massa udara dari barat (Samudra Hindia) ke arah timur.


PEMBERANTASAN KORUPSI

Perbaikan Lembaga Peradilan Mendesak


JAKARTA, KOMPAS — Lembaga peradilan kembali tercoreng. Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Kepala Subdirektorat Kasasi Perdata Direktorat Pranata dan Tata Laksana Perkara Perdata Mahkamah Agung Andri Tristianto Sutrisna di rumahnya, di Jakarta, sebagai pengembangan operasi tangkap tangan pada Jumat (12/2) malam.

Penangkapan terhadap Andri menjadi ironis sebab Mahkamah Agung (MA) baru membuat Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani pada Januari lalu (Kompas, 20/1). Peristiwa ini harus menjadi momentum perbaikan pengelolaan lembaga peradilan, terutama MA. ”Tindakan ini menjatuhkan nama baik MA. Apabila sudah dinyatakan bersalah, kami akan memberikan sanksi,” kata Juru Bicara MA Suhadi, di Jakarta, Sabtu.

Hakim Agung Topane Gayus Lumbuun mendukung pembenahan dan perbaikan pengelolaan lembaga peradilan. ”Perlu reformasi organisasi di tubuh MA dengan perbaikan program dan metode kerja,” ujar Gayus di Jakarta.


FENOMENA

Pertarungan Sengit tentang Cantik


Cantik ala Asia Timur sedang digandrungi banyak perempuan urban. Cantik yang lugu, kekanak-kanakan, serta wajah bening seolah-olah natural, seperti bintang drama Korea atau Jepang. Inikah penanda zaman ketika kita dikepung berbagai hal yang serba seolah-olah...?

 Cobalah berkeliling di banyak mal ngetop di Jakarta, juga kafe-kafe yang sedang ”hits”—begitu istilahnya— niscaya kita mudah menjumpai tipe- tipe tampilan perempuan yang senada. Wajah berbentuk hati dengan dagu lancip, pipi tirus, bola mata bulat berbinar bak boneka, alis tebal yang sisi kiri dan kanan begitu presisi, dan tak lupa kulit putih kinclong tanpa cela dengan riasan yang seolah- olah tipis natural.

Menjadi cantik itu cita-cita yang relatif mudah saat ini, selama Anda punya uang. Industri kecantikan menyiapkan segalanya. Tak ada yang tak mungkin.

”Ingin seperti apa? Semuanya bisa. Bahkan, Anda tak perlu operasi plastik untuk bisa membuat kelopak mata Anda lebar. Cukup pasang benang atau selotip mata, maka kelopak mata pun langsung muncul dan siap dirias,” kata Kate San, salah satu beautician produk kecantikan Jepang, Automatic Beauty, di Pekan Kecantikan Jepang, beberapa waktu lalu, di Plaza Senayan, Jakarta.

No comments:

Post a Comment