Wednesday, February 3, 2016

Kompas Edisi Rabu 3 Februari 2016

Kompas Edisi Rabu 3 Februari 2016

Darurat Global Hadapi Serangan Virus Zika

WHO: Tidak Perlu Larangan Perjalanan


JAKARTA, KOMPAS — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin (1/2) malam, mengumumkan status darurat global menghadapi serangan virus Zika. Status darurat diberlakukan menyusul besaran dan cepatnya sebaran serangan serta lonjakan angka kasus mikrosefalus atau bayi lahir dengan gangguan perkembangan otak akibat infeksi virus Zika.

Di Brasil, sejak Oktober 2015, diperkirakan ada 4.000 kasus kelahiran bayi dengan mikrosefalus. Meski belum ada bukti ilmiah biang mikrosefalus adalah virus Zika, WHO, berdasarkan rekomendasi para ahli independen, memutuskan darurat global.

Direktur Jenderal WHO Margaret Chan menyebut sebaran virus Zika sebagai kejadian luar biasa dan mensyaratkan respons yang terkoordinasi.

”Sesuai agenda global, kita harus menyikapi seruan WHO itu dengan langkah pencegahan, deteksi dini, dan merespons serangan virus Zika. Ini harus dilakukan secara kolaboratif, dengan mengerahkan seluruh sumber daya,” kata Deputi Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Herawati Sudoyo, di Jakarta, Selasa (2/2).


ASIAN GAMES 2018

Menanti Nasib Sepak Bola dan ”Garuda Muda”


JAKARTA, KOMPAS — Berlarut-larutnya konflik sepak bola di Tanah Air mengancam status keberadaan cabang ini di Asian Games Jakarta-Palembang 2018. Tim nasional sepak bola Indonesia juga turut terancam kehilangan ”panggung” lebih lama di ajang internasional, termasuk dalam pekan olahraga antarnegara Asia tersebut.

Aktivitas tim nasional sepak bola lumpuh setelah terbitnya skors FIFA, Mei 2015. Sanksi tersebut dikeluarkan menyusul pembekuan PSSI oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, yang membuat Indonesia terkucil dari berbagai aktivitas sepak bola internasional.

Apabila konflik itu dibiarkan berlarut-larut, Indonesia terancam hanya menjadi penonton jika sepak bola dipertandingkan di Asian Games 2018. Sejumlah pemain muda Indonesia, seperti Evan Dimas, Maldini Pali, dan Dimas Drajat, kehilangan peluang besar untuk mengibarkan Merah Putih di rumah sendiri.


GERHANA MATAHARI TOTAL 9 MARET 2016

Berburu Kesempatan Langka Seumur Hidup


Gerhana matahari total adalah fenomena alam biasa. Menjadi langka dan istimewa karena tidak semua wilayah Bumi dapat menyaksikannya. Rata-rata, gerhana matahari total bisa disaksikan sekali dalam 375 tahun di titik yang sama di muka Bumi.

Lamanya rata-rata perulangan waktu terjadinya gerhana matahari total (GMT) membuat banyak orang berburu gerhana. Perburuan sering kali dilakukan dengan cara yang tidak biasa, mulai dari mendatangi lokasi-lokasi terpencil di berbagai belahan Bumi hingga mengamati gerhana dari ketinggian stratosfer Bumi.

Alasan berburu gerhana pun beragam, mulai dari hanya ingin menyaksikan dan merasakan sensasi perubahan suasana saat piringan Matahari tertutup sepenuhnya oleh piringan Bulan, melakukan berbagai penelitian ilmiah atau membuktikan teori baru, hingga melepaskan hasrat berkelana.