Showing posts with label pariwisata. Show all posts
Showing posts with label pariwisata. Show all posts

Tuesday, September 27, 2016

Kompas Edisi Selasa 27 September 2016

Kompas Edisi Selasa 27 September 2016
Kompas Edisi Selasa 27 September 2016

85 Tahun Jakob Oetama


Hari ini, 27 September 2016, genap 85 tahun usia Bapak.... Mari, Pak, kita jumpa lagi sambil menyeruput secangkir teh. Lalu bicara tentang pers, tentang politik, jagat yang Bapak fasih menguraikannya. Juga tentang Indonesia yang maju, makmur, dan sejahtera, tetapi masih terus jadi impian.

 Bapak putra asal Jowahan, di dekat Candi Borobudur, yang pintar. Semula ingin jadi guru, tapi Romo Oudejans mengatakan, ”Guru sudah banyak, wartawan belum.”

Lalu jadilah Bapak wartawan par excellence, yang suka mengajak junior agar gumunan, agar ’menunggangi gelombang berita’ (riding the news), dan agar menjadikan berita sebagai kapstok untuk menumpahkan pengetahuan dan empati. Bapak juga mengingatkan agar wartawan selalu mengetuk (frapper toujours), juga tak melupakan untuk apa kemerdekaan pers yang kini digenggam. Ya, freedom for apa setelah freedom from tirani.


Biaya Pilkada Picu Korupsi

Pencalonan Butuh Dana Besar


JAKARTA, KOMPAS — Biaya yang dibutuhkan pasangan calon pada Pilkada 2017 umumnya akan lebih besar dibandingkan dengan pendapatan resmi mereka sebagai kepala daerah jika menang dalam pilkada. Tanpa pengawasan yang ketat, kondisi ini dapat menjadi awal dari korupsi di daerah.

 Data Litbang Kementerian Dalam Negeri atas pendanaan pilkada serentak 2015 menunjukkan, biaya yang dikeluarkan pasangan calon untuk pilkada tingkat kota/kabupaten bisa mencapai Rp 30 miliar. Sementara uang yang dikeluarkan pasangan calon untuk pemilihan gubernur berkisar Rp 20 miliar-Rp 100 miliar.

Biaya itu diperkirakan makin besar di Pilkada 2017. Pasalnya, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada yang menjadi dasar pelaksanaan Pilkada 2017 menyebutkan, pasangan calon kepala daerah diizinkan menambah bahan dan alat peraga kampanye dengan batasan yang sudah ditentukan, selain yang sudah ditanggung negara.


Indeks Pariwisata Indonesia

Denpasar Menjadi Acuan


 Litbang ”Kompas” bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata mengembangkan Indeks Pariwisata Indonesia (IPI) mengacu pada Travel and Tourism Competitive Index untuk mengukur kesiapan daerah tujuan pariwisata menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Laporan jurnalistik terhadap 25 kabupaten/kota yang lolos seleksi data sekunder telah dimuat Agustus lalu. Hasil pengukuran indeks dilaporkan berikut ini, bersamaan dengan Hari Pariwisata Nasional, 27 September.

Tingkat daya saing tertinggi industri pariwisata Indonesia masih didominasi kota-kota besar. Kota Denpasar menduduki peringkat tertinggi dalam Indeks Pariwisata Indonesia (IPI) dengan skor 3,81 dari rentang skala indeks 0 hingga 5. Aspek lingkungan pendukung bisnis, tata kelola, dan infrastruktur menjadi penopang utama keunggulan ibu kota Provinsi Bali itu.

Kesiapan infrastruktur, dukungan lingkungan bisnis, dan nama Bali yang sudah terkenal di dunia menjadi fondasi kokoh pengembangan pariwisata Denpasar. Sementara dalam aspek potensi wisata alam dan buatan, posisi kota ini tidak setinggi beberapa daerah lain.

Saturday, September 10, 2016

Kompas Edisi Sabtu 10 September 2016

Kompas Edisi Sabtu 10 September 2016
Kompas Edisi Sabtu 10 September 2016

Wapres: Negara Belum Optimal

Indonesia Belum Berhasil Penuhi Janji Kemerdekaan


JAKARTA, KOMPAS — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, kehadiran negara dalam sejumlah persoalan belum sepenuhnya optimal. Janji-janji kepada rakyat pun belum bisa dipenuhi semuanya. Butuh kebersamaan, konsistensi kebijakan, dan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat terlebih dahulu.

”Negara sudah hadir, tetapi belum optimal dalam cara kerja dan cara menangani persoalan. Walaupun kementerian dan lembaga negara sudah berusaha menangani dengan baik, hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan rakyat,” kata Wapres Jusuf Kalla kepada Kompas di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (9/9).

Pada masa mendatang, kata Wapres Kalla, pemerintah bukan hanya harus mendengar suara rakyat, melainkan juga merespons dan bekerja cepat sehingga hasilnya dirasakan masyarakat.


Obat Ilegal

Apotek Rakyat Akan Dihapus


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah pelanggaran praktik kefarmasian dilakukan pengelola apotek rakyat di beberapa tempat. Selain menjual bebas obat-obatan yang seharusnya memakai resep dokter, apotek rakyat juga menjadi tempat peredaran obat ilegal. Untuk itu, keberadaan apotek rakyat diusulkan ditiadakan.

 \Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto, Jumat (9/9), mengatakan, usulan apotek rakyat dibubarkan dan pencabutan peraturan menteri kesehatan (permenkes) tentang apotek rakyat sudah disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta. ”Usulan pencabutan akan disampaikan kepada Menteri Kesehatan,” ujarnya.

Usulan pencabutan permenkes itu disebabkan pelaku apotek rakyat melakukan banyak pelanggaran aturan. Selain menjual bebas obat yang seharusnya menggunakan resep dokter, ditemukan pula obat kedaluwarsa dan obat ilegal yang dijual.


Promosi Pariwisata

Keringat ”Buto” untuk Tanah Air


Tiga buto atau raksasa mengepung seekor macan hitam yang berusaha sekuat tenaga melarikan diri. Buto-buto itu marah besar karena macan hitam tersebut merusak lahan mereka. Tak bisa berkutik akibat dikepung, macan hitam itu pun menyerah dan dibawa pergi oleh para buto.

Orang-orang yang berkerumun di trotoar di depan pusat perbelanjaan Lot 10, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (3/9) malam, pun bertepuk tangan ketika tari Jaranan Buto itu usai. Kemudian gantian ketiga orang berkostum buto itu yang diburu dan dikepung penonton untuk diajak foto bersama. Meski masih terengah- engah, buto-buto itu melayani setiap permintaan penonton dengan antusias.

Ketiga buto dan semua pendukung tarian itu adalah warga Banyuwangi, Jawa Timur, yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Malaysia. Komunitas ini merupakan kumpulan warga Banyuwangi yang bekerja dan tinggal di Malaysia. Anggotanya 200 orang, 40 orang di antaranya aktif berkesenian.

Friday, September 9, 2016

Kompas Edisi Jumat 9 September 2016

Kompas Edisi Jumat 9 September 2016
Kompas Edisi Jumat 9 September 2016

Negara Belum Sepenuhnya Hadir

Keteladanan Elite Ditunggu


JAKARTA, KOMPAS — Berbagai persoalan yang belakangan ini menerpa bangsa Indonesia mengindikasikan negara belum sepenuhnya hadir di tengah masyarakat. Negara belum mampu melindungi masyarakat dan belum bisa menegakkan supremasi hukum.

 Padahal, kehadiran negara ini menjadi poin pertama dari sembilan agenda prioritas Joko Widodo-Jusuf Kalla yang disebut dengan Nawacita. Poin pertama dari Nawacita itu adalah menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara.

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra, Kamis (8/9), mengatakan, negara sebenarnya sudah hadir, tetapi belum signifikan dan belum cukup mampu menegakkan nilai-nilai penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pejabat publik yang seharusnya memberi teladan justru menunjukkan adanya persoalan integritas dan persoalan kejujuran.


KTT ASIA TIMUR

Keamanan Kawasan Jadi Perhatian


VIENTIANE, KOMPAS — Masalah keamanan kawasan menjadi perhatian serius para pemimpin ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Vientiane, Laos, yang berakhir Kamis (8/9). KTT berlangsung mulus, dengan diwarnai riak-riak kecil akibat retorika Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang menyita perhatian.

Meski tidak menyebut secara eksplisit sengketa di Laut Tiongkok Selatan, pernyataan Ketua ASEAN menyebutkan, ketegangan di kawasan saat ini menjadi "perhatian serius" pemimpin ASEAN. Masalah itu juga disampaikan Presiden Joko Widodo di KTT Asia Timur (EAS), dengan anggota 18 negara, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia.

"Kita melihat masih terdapat ketidakpercayaan di antara negara-negara anggota EAS. Oleh karena itu, Presiden menekankan, kalau hal ini terus terjadi, kawasan ini sulit mempertahankan sebagai pusat pertumbuhan," kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, seperti dilaporkan wartawan Kompas, MH Samsul Hadi, dari Vientiane.


PARIWISATA

Pebisnis Wisata Bali Bergulat Melawan Bisnis Daring


Mungkin 10 tahun lalu banyak orang hanya bisa bermimpi untuk berlibur ke Bali karena mahalnya biaya. Mereka harus mengeluarkan uang cukup banyak untuk bisa mengunjungi ”pulau surga” itu.

 Namun, kini, dengan modal Rp 2 juta, Anda bisa berwisata ke Bali, menginap selama dua hari, dan mengunjungi sejumlah obyek wisata. Biaya bisa semakin murah jika berangkat berombongan dan pandai mengatur perjalanan.

Rini (39), ibu empat anak asal Jakarta, misalnya, penasaran ingin tamasya ke Bali. Ia tergiur oleh cerita rekannya yang hanya bermodal Rp 2 juta bisa berlibur ke Bali tiga hari dua malam bersama teman-teman. Ia pun segera merencanakan perjalanannya dengan matang.

Wednesday, August 10, 2016

Kompas Edisi Rabu 10 Agustus 2016

Kompas Edisi Rabu 10 Agustus 2016
Kompas Edisi Rabu 10 Agustus 2016

Hasil Kerja Tim Ditunggu

Beberapa Lembaga Menelusuri Informasi Haris Azhar


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah lembaga membentuk tim untuk menindaklanjuti informasi Haris Azhar dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan terkait Freddy Budiman. Hasil kerja tim ini akan menunjukkan keseriusan lembaga terkait dalam memberantas narkoba.

Pembentukan tim ini antara lain dilakukan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Anggota tim independen yang dipimpin Inspektur Pengawasan Umum Polri Komisaris Jenderal Dwi Priyatno ini berasal dari internal Polri ataupun dari luar Polri, yaitu Hendardi dari Setara Institute, komisioner Komisi Kepolisian Nasional Poengky Indarti, dan pemerhati komunikasi Effendi Gazali,

Sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia juga telah membentuk tim untuk mengusut kebenaran isi tulisan Haris.


Salah Strategi, Eko Gagal Raih Emas


Rio de Janeiro, Kompas. Kesalahan strategi menggagalkan lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, meraih medali emas kelas 62 kilogram cabang angkat besi Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Eko meraih perak dengan angkatan total 312 kilogram dalam lomba di Paviliun 2 Riocentro, Rio de Janeiro, Brasil, Senin (8/8) malam waktu setempat. Dia kalah dari lifter Kolombia, Oscar Albeiro Figueroa Mosquera, dengan total angkatan 318 kilogram. Adapun perunggu didapat oleh lifter Kazakhstan, Farkhad Kharki (305 kilogram).

Selasa (9/8) dini hari WIB, kans emas pertama untuk Indonesia di Rio 2016 sebenarnya terbuka saat lifter asal Tiongkok, Chen Lijun, pesaing terberat Eko, mundur sebelum menuntaskan angkatan snatch karena cedera hamstring. Lijun merupakan pemegang rekor dunia untuk jenis clean and jerk dan total. Absennya juara bertahan Kim Un-guk (Korea Utara), karena skors terkait doping, juga membuka peluang ini.

Di atas panggung, Lijun "menggertak" dengan mematok angkatan snatch (barbel langsung ke atas kepala) terberat, yakni 145 kilogram (kg), tetapi gagal pada dua kesempatan pertama. Ia bahkan tak mampu mengangkat barbel setinggi lututnya. Pendukung Lijun terdiam saat melihat idolanya tak berdaya.


PARIWISATA

Mengubah Nasib Kawasan Terpencil


Pariwisata menjadi nadi ekonomi baru di Banyuwangi, Jawa Timur. Denyutnya menghidupkan perekonomian lokal di pelosok desa. Dari sektor itu, sebagian jalan menuju kesejahteraan warga ditemukan.

Bonjour! Je m'appelle Robixs. J'habite à Banyuwangi. Enchanté. (Halo! Nama saya Robixs. Saya tinggal di Banyuwangi. Senang bertemu dengan Anda)," sapa Robixs alias Muhammad Rofik (40), menyambut rombongan turis Perancis.

Robixs kala itu hanya bercelana pendek. Tangannya masih kotor dengan debu belerang yang ia bawa dari puncak. Peluh pun membasahi seluruh badannya. Namun, sang turis tak merasa terganggu. Ia malah semringah bertemu dengan Robixs. Saat menemukan ada petambang yang bisa bahasa mereka, tanpa berpikir dua kali, Robixs diajak jalan menemani mereka.