Showing posts with label penyanderaan. Show all posts
Showing posts with label penyanderaan. Show all posts

Sunday, September 4, 2016

Kompas Edisi Minggu 4 September 2016

Kompas Edisi Minggu 4 September 2016
Kompas Edisi Minggu 4 September 2016

Pelaku Membuat Rencana Matang

Tersangka Mengaku Pengacara


JAKARTA, KOMPAS — Drama penyanderaan selama delapan jam lebih menimpa sebuah keluarga di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Sabtu (3/9). Empat korban diselamatkan dan dua pelaku ditangkap. Pelaku diketahui mempersiapkan tindakannya ini dengan matang.

 Puluhan polisi bersenjata lengkap, memakai tameng, rompi anti peluru, dan helm, serta sejumlah aparat lain berbaju sipil bersiaga penuh di sekitar rumah Asep Sulaiman di Jalan Bukit Indah IX Nomor 17, Pondok Indah, sejak pagi.

Rumah tersebut dimasuki dua orang bersenjata api pada pukul 05.30. Para pelaku kemudian mengancam empat orang di dalam rumah mantan petinggi ExxonMobil Indonesia tersebut.


Kerja Sama RI-Tiongkok

Presiden: Kemudahan Investasi Terus Dibenahi


SHANGHAI, KOMPAS — Presiden Joko Widodo mengatakan, langkah-langkah perbaikan birokrasi yang efektif dan layanan perizinan terus diperbaiki untuk memudahkan investasi dari mana pun, termasuk dari pengusaha Tiongkok. Untuk itu, pemerintah sudah melakukan sejumlah langkah perbaikan, di antaranya sejumlah Paket Kebijakan Ekonomi.

 ”Hingga kini, kami sudah mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi hingga yang ke-13, yang tujuannya untuk lebih mengefektifkan birokrasi dan membenahi layanan perizinan yang lebih cepat dan tak berbelit,” kata Presiden Jokowi sebagaimana dilaporkan wartawan Kompas, Andy Riza Hidayat, saat memberikan paparan mengenai langkah perbaikan ekonomi Indonesia di Forum Bisnis di Shanghai, Tiongkok, Sabtu (3/9).

Sebelum Presiden Jokowi, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Trikasih Lembong juga menyampaikan presentasi terkait peluang investasi. Dalam acara itu hadir pula Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.


Batik Tuban

"Ora Obah Ora Mamah"


Batik gedhog Tuban adalah tenunan dari helaian semangat dan goresan kerja keras rakyat. Selembar kain gedhog bercerita tentang daya melepaskan diri dari cengkeraman lapar sekaligus menunjukkan kemandirian warga terhadap pangan dan sandang.

 Siang itu, Kaspi duduk di atas dingklik di samping rumahnya yang berdinding papan jati dan beralas tanah. Ia memakai jarik dari kain gedhog yang ditenun sendiri. Kedua tangannya menarik seutas benang dari ingan, alat untuk mengurai benang kapas. Benang itu ia tarik dan wadahi ke dalam keranjang bambu hingga membentuk tumpukan gulungan benang, mirip berkilo-kilo bihun.

Benang itu hasil pintalannya sendiri dari kapas yang kemudian dilumuri nasi agar liat dan pekat. Benang selanjutnya akan ditenun menjadi kain gedhog sebelum dibatik. "Empat hari lagi baru bisa nenun karena masih harus ke ladang," kata Kaspi yang masih demikian cekatan di usia senja.

Monday, August 8, 2016

Kompas Edisi Senin 8 Agustus 2016

Kompas Edisi Senin 8 Agustus 2016
Kompas Edisi Senin 8 Agustus 2016

Peredaran Obat Tak Terkendali

Lebih dari 80 Persen Sarana Kefarmasian Menyalahi Aturan


JAKARTA, KOMPAS — Terkuaknya peredaran vaksin palsu sejatinya merupakan bagian dari masalah lebih besar, yakni tak terkendalinya distribusi obat. Banyak obat, termasuk obat keras, diperjualbelikan bebas oleh orang ataupun badan usaha yang tak berhak atau menyalahi aturan. Meski berlangsung puluhan tahun, upaya serius pemerintah menegakkan aturan distribusi obat belum nyata.

Penelusuran Kompas hingga Minggu (7/8) di sejumlah pasar, warung, minimarket, pedagang kaki lima, toko obat, toko daring, dan apotek di Jakarta, Bogor, dan Tangerang Selatan menunjukkan mudahnya memperoleh obat. Kemudahan itu membuka peluang besar peredaran obat palsu, obat kedaluwarsa, obat tanpa izin edar, hingga obat-obatan yang mengandung bahan berbahaya.

Salah satu jenis obat yang mudah diperoleh ialah penggugur kandungan. Obat itu dijual pedagang minuman di Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Meski dijual agak tersembunyi, banyak pedagang makanan dan minuman menawarkan jasa untuk mendapatkan obat itu.


Medali Penyemangat dari Sri Wahyuni


RIO DE JANEIRO, KOMPAS Tak gentar terhadap lawan, juga ketepatan strategi, mengantar lifter putri Sri Wahyuni berdiri di podium dengan kalungan medali perak Olimpiade Rio de Janeiro 2016, di cabang angkat besi kelas 48 kilogram. Prestasi Yuni dalam debutnya di Olimpiade ini bisa menjadi penyemangat bagi atlet Indonesia lainnya untuk menampilkan aksi terbaik.


Yuni merebut medali perak pada hari pertama cabang angkat besi. Di panggung Paviliun 2 Riocentro, Rio de Janeiro, Brasil, Sabtu (6/8) malam waktu setempat, Yuni menunjukkan ketangguhannya meski lalu kalah dari lifter Thailand, Sopita Tanasan.

"Medali ini saya persembahkan bagi Indonesia. Saat akan mengangkat beban, saya selalu ingat ini untuk Indonesia," ujar Yuni sambil memperlihatkan medali peraknya. Medali itu akan disimpan di lemari kaca di rumahnya bersama medali lain, termasuk saat juara dunia yunior pada 2014.


PERLINDUNGAN WARGA NEGARA

Penyanderaan WNI Makin Merajalela


JAKARTA, KOMPAS — Di tengah upaya pemerintah membebaskan 10 warga negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan, kini seorang WNI, Herman Bin Manggak (38), kembali disandera. Penyanderaan warga asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang jadi kapten kapal penangkap udang berbendera Malaysia ini merupakan peristiwa kelima dalam enam bulan terakhir.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu Lalu M Iqbal, Minggu (7/8), menuturkan, Kemlu sudah mengetahui penyanderaan itu sejak 5 Agustus. "Kapal itu berbendera Malaysia dan berpangkalan di kota Sandakan, Malaysia. Peristiwa terjadi di wilayah Malaysia, korban diperkirakan dilarikan ke Filipina," papar Iqbal.

Kantor berita Malaysia, Bernama, Sabtu (6/8), memberitakan, sebuah perahu nelayan khas Filipina yang berisi tiga pria berseragam loreng lusuh dengan senapan M-16 dan seorang pria tidak bersenjata menghadang kapal nelayan SN 6599/4/F yang berpangkalan di Sandakan. Peristiwa ini terjadi di perairan antara Sabah, Malaysia, dan Filipina selatan, Rabu (3/8) petang.