Sunday, August 30, 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 30 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 30 Agustus 2015

Siswa SD-SLTA Diliburkan

Kabut Asap Semakin Pekat dan Meluas hingga Aceh


JAMBI, KOMPAS — Udara di Kota Jambi, Jambi, dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, tidak sehat lagi seiring makin pekatnya kabut asap akibat kebakaran lahan. Untuk mengantisipasi meluasnya dampak asap, kegiatan belajar-mengajar di sekolah di daerah itu diliburkan, Sabtu (29/8).

"Kondisi udara semakin buruk sehingga kami mengantisipasi dampak kesehatan anak sekolah dengan meliburkan sementara kegiatan belajar-mengajar," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Jambi Syaiful Huda, Sabtu.

Berdasarkan pengukuran kualitas udara, Badan Lingkungan Hidup Daerah Jambi mendeteksi indeks standar pencemar udara (ISPU) telah mencapai angka 126, alias berstatus tidak sehat. Sesuai pedoman teknis dan pelaporan serta informasi ISPU, dalam status di atas 101, kandungan particulate matter (PM) 10 yang tinggi telah dianggap sangat mengganggu jarak pandang dan mengakibatkan pengotoran debu di mana-mana. Kandungan nitrogennya dapat berdampak pada peningkatan reaktivitas pembuluh tenggorokan.


Thailand

Polisi Tangkap Seorang Tersangka Pengeboman


BANGKOK, SABTU — Pengungkapan kasus peledakan bom di Kuil Erawan, Bangkok, Thailand, mulai menunjukkan kemajuan. Kepolisian Thailand, Sabtu (29/8), menangkap seorang pria asing yang diduga terlibat dalam pengeboman kuil tersebut.

Juru Bicara Kepolisian Letnan Jenderal Prawut Thavornsiri menyatakan, pria itu, yang diperkirakan juga terlibat dalam ledakan sehari setelah pengeboman di Kuil Erawan, ditangkap di apartemen di pinggiran Bangkok. Sabtu siang, polisi menggerebek apartemen itu dan menemukan sejumlah bahan yang diduga untuk membuat bom, yang mungkin digunakan dalam serangan di Kuil Erawan pada 17 Agustus lalu.

Menurut Prawut, pria yang ditangkap itu kelihatan cocok dengan sosok yang diburu polisi. ”Polisi juga menemukan begitu banyak bahan yang dapat digunakan sebagai bom,” ujarnya.


Kehidupan Spiritual

Air untuk Kemakmuran Bali


Bagi umat Hindu Bali, air merupakan sumber kehidupan yang wajib dipelihara. Begitu pula Danau Batur dan Gunung Batur yang dipercaya sebagai istana Dewi Danu, dewi pelindung pertanian. Tak heran, Danau Batur dipagari banyak pura dengan dupa persembahyangan yang tak henti untuk kemakmuran Bali.

 ”I rika Sang Gnijaya mawarah-warah ring wong Bali kabeh: mangke angenemu mretha. Aywa sira lupa, nunas mretha ring hulundanu, apan manira ngamrethanin wong Bali kabeh, tan paran mapinunas mretha ring parahyangan ira ring hulundanu ngawe gemuh ikangrat... (Di sini, Sang Gnijaya bersabda kepada rakyat Bali: sekarang kalian mendapatkan air sumber kehidupan. Jangan lupa mohon amertha di Hulundanu, sebab akulah yang menghidupi masyarakat Bali semua. Barang siapa memohon amertha kepadaku niscaya akan memperoleh kemakmuran...).”

Kutipan kalimat dari prasasti tua itu dipajang di papan besar di bagian muka Pura Hulundanu Batur di tepi Danau Batur di Desa Pakraman Songan, Bangli. Pura Hulundanu Batur merupakan stana (kediaman) Dewi Danu yang dibangun tahun 380 Saka atau 458 Masehi oleh adiknya, Sang Hyang Gnijaya, yang beristana di Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Putrajaya yang bermukim di Besakih, Gunung Agung.