Friday, September 9, 2016

Kompas Edisi Jumat 9 September 2016

Kompas Edisi Jumat 9 September 2016
Kompas Edisi Jumat 9 September 2016

Negara Belum Sepenuhnya Hadir

Keteladanan Elite Ditunggu


JAKARTA, KOMPAS — Berbagai persoalan yang belakangan ini menerpa bangsa Indonesia mengindikasikan negara belum sepenuhnya hadir di tengah masyarakat. Negara belum mampu melindungi masyarakat dan belum bisa menegakkan supremasi hukum.

 Padahal, kehadiran negara ini menjadi poin pertama dari sembilan agenda prioritas Joko Widodo-Jusuf Kalla yang disebut dengan Nawacita. Poin pertama dari Nawacita itu adalah menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara.

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra, Kamis (8/9), mengatakan, negara sebenarnya sudah hadir, tetapi belum signifikan dan belum cukup mampu menegakkan nilai-nilai penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pejabat publik yang seharusnya memberi teladan justru menunjukkan adanya persoalan integritas dan persoalan kejujuran.


KTT ASIA TIMUR

Keamanan Kawasan Jadi Perhatian


VIENTIANE, KOMPAS — Masalah keamanan kawasan menjadi perhatian serius para pemimpin ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Vientiane, Laos, yang berakhir Kamis (8/9). KTT berlangsung mulus, dengan diwarnai riak-riak kecil akibat retorika Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang menyita perhatian.

Meski tidak menyebut secara eksplisit sengketa di Laut Tiongkok Selatan, pernyataan Ketua ASEAN menyebutkan, ketegangan di kawasan saat ini menjadi "perhatian serius" pemimpin ASEAN. Masalah itu juga disampaikan Presiden Joko Widodo di KTT Asia Timur (EAS), dengan anggota 18 negara, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia.

"Kita melihat masih terdapat ketidakpercayaan di antara negara-negara anggota EAS. Oleh karena itu, Presiden menekankan, kalau hal ini terus terjadi, kawasan ini sulit mempertahankan sebagai pusat pertumbuhan," kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, seperti dilaporkan wartawan Kompas, MH Samsul Hadi, dari Vientiane.


PARIWISATA

Pebisnis Wisata Bali Bergulat Melawan Bisnis Daring


Mungkin 10 tahun lalu banyak orang hanya bisa bermimpi untuk berlibur ke Bali karena mahalnya biaya. Mereka harus mengeluarkan uang cukup banyak untuk bisa mengunjungi ”pulau surga” itu.

 Namun, kini, dengan modal Rp 2 juta, Anda bisa berwisata ke Bali, menginap selama dua hari, dan mengunjungi sejumlah obyek wisata. Biaya bisa semakin murah jika berangkat berombongan dan pandai mengatur perjalanan.

Rini (39), ibu empat anak asal Jakarta, misalnya, penasaran ingin tamasya ke Bali. Ia tergiur oleh cerita rekannya yang hanya bermodal Rp 2 juta bisa berlibur ke Bali tiga hari dua malam bersama teman-teman. Ia pun segera merencanakan perjalanannya dengan matang.