Sunday, October 18, 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 18 Oktober 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 18 Oktober 2015

Presiden: Jaga Ketertiban Laga Final

Junjung Tinggi Sportivitas


JAKARTA, KOMPAS — Final kejuaraan sepak bola Piala Presiden yang mempertemukan Sriwijaya FC dengan Persib Bandung bakal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (18/10). Presiden Joko Widodo pun mengajak warga menonton pertandingan itu dan menjaga ketertiban.

”Besok Minggu final Piala Presiden Sriwijaya FC versus Persib di GBK Senayan. Ayo kita nonton dan jaga ketertiban,” demikian pesan Joko Widodo melalui akun resmi Twitter-nya, @jokowi, Sabtu. Piala Presiden digelar untuk mengisi kekosongan kompetisi di Indonesia menyusul kemelut sepak bola yang salah satunya berujung pada pembekuan Liga Indonesia.

Laga final ini bakal dijaga ribuan personel Polri dengan dibantu TNI, satuan polisi pamong praja, dan pasukan pemadam kebakaran DKI Jakarta. Presiden dan Ny Iriana Joko Widodo dijadwalkan hadir menonton pertandingan itu.


KEBAKARAN LAHAN

Kabut Asap Pekat Melanda Timika dan Ambon


JAYAPURA, KOMPAS — Kabut asap pekat melanda Timika, ibu kota Kabupaten Mimika, Papua, dalam tiga hari terakhir. Asap berasal dari lahan yang terbakar di dua kabupaten wilayah Papua bagian selatan, yakni Merauke dan Mappi. Asap tertiup angin dari arah tenggara ke Timika.

Kabut asap terjadi di Timika sejak pekan lalu. Namun, kondisi ini semakin parah sejak Kamis (15/10). Jarak pandang pun hanya 400-500 meter pada Sabtu.

”Akibatnya, dua pesawat komersial yang rutin terbang ke Timika, yakni Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air, dengan jumlah penumpang 400 hingga 500 orang per hari tak bisa mendarat di Bandara Mozes Kilangin,” kata Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi Informatika Kabupaten Mimika John Rettob saat dihubungi dari Jayapura, Sabtu.

John mengatakan telah menyampaikan masalah ini kepada Pemerintah Provinsi Papua dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mimika agar segera ditanggulangi.


KREATIVITAS

Mencari Hidup dari Buku Komik


Di Indonesia, komikus tidak cukup sekadar piawai menuangkan cerita dalam gambar. Mereka juga dituntut paham bisnis dan pintar menjual karyanya. ”Kerja” tambahan itulah kiat para komikus ini bertahan hidup di tengah dominasi komik impor.

Meminjam istilah pengamat budaya pop Hikmat Darmawan, komikus Indonesia adalah orang dengan cinta yang keras kepala. Kecintaan itulah yang membuat komik Indonesia tetap hidup sampai kini.

Setelah berjaya pada era 1960-1970, komik Indonesia lama mati suri. Di tengah dominasi komik impor, komik Indonesia kini menggeliat lagi dan terus berkembang. Komikus Indonesia juga berkarya merespons tuntutan zaman digital. Namun, masih besar tantangan untuk membuatnya kembali jadi tuan di negeri sendiri.