Tuesday, September 15, 2015

Kompas, Edisi, Selasa, 15 September 2015

Kompas, Edisi, Selasa, 15 September 2015

Hukum Masih Tebang Pilih

Petinggi dan Korporasi yang Terlibat Pembakaran Diminta Diusut Tuntas


PONTIANAK, KOMPAS — Penegakan hukum yang tegas terhadap pihak yang terlibat dalam perambahan dan pembakaran hutan merupakan kunci mengatasi bencana asap yang sudah setengah abad tidak pernah tuntas. Saat ini, penegakan hukum dirasakan masih retorika dan tebang pilih.

 Berdasarkan pengamatan dan informasi yang dihimpun Kompas dalam beberapa pekan ini, lemahnya penegakan hukum itu masih terjadi di semua wilayah yang saat ini terkena bencana asap.

Di Kalimantan Barat, misalnya, kondisi itu terlihat kasatmata. Ribuan lahan yang terbakar terlihat jelas, baik di lahan konsesi perkebunan sawit, di lahan gambut, maupun di lahan gambut yang terkena rembetan kebakaran.

Lahan itu terletak tidak jauh dari Kota Pontianak. Terlihat jelas melalui udara, melalui darat pun tidak sulit dijangkau. Kendaraan berat yang bekerja di wilayah konsesi berjejer sehingga sangat mudah mencari pelaku pembakaran, baik perseorangan maupun skala korporasi. Namun, tidak ada tindak lanjut penegakan hukum.


PERBANKAN

Pembajakan ”Internet Banking” Kian Serius


JAKARTA, KOMPAS — Kejahatan yang memanfaatkan celah-celah dalam transaksi perbankan melalui internet kian parah. Korban terus bermunculan dengan kerugian puluhan miliar. Pekan lalu, Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap dua warga Ukraina, Oleksandr Sulima (28) dan Dmitry Gryadskiy (35), yang terlibat dalam kasus pembelokan transaksi perbankan melalui internet sejumlah nasabah bank dengan kerugian sekitar Rp 40 miliar.

Ahli forensik digital Ruby Alamsyah, Senin (14/9), mengatakan, pelaku kejahatan ini adalah organisasi kriminal transnasional asal Ukraina yang sangat mengerti seluk-beluk kebijakan perbankan di Indonesia. ”Yang mengerikan, cara mereka terus berevolusi. Mereka selalu mencari celah keamanan,” katanya.

Ia mengingatkan, warga jangan sembarangan mengklik atau mengunduh file karena pelaku bisa menyusupkan file malware ke komputer korban untuk membelokkan transaksi perbankan yang dilakukan ke rekening pelaku.


Gejolak Pasar Belum Mereda

IHSG pada Level 4.390,37


JAKARTA, KOMPAS — Gejolak pasar global belum mereda, tetapi kian menekan nilai tukar negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Nilai tukar rupiah kembali melemah pada awal pekan ini setelah sempat menguat pada akhir pekan lalu.

Nilai tukar rupiah, menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), pada Senin (14/9), sebesar Rp 14.322 per dollar AS. Akhir pekan lalu, rupiah sempat menguat menjadi Rp 14.306 per dollar AS.

Di laman bank dan penukaran uang, nilai tukar rupiah bervariasi. Di laman PT Bank Central Asia Tbk, kurs jual dollar AS sebesar Rp 14.350 per dollar AS, sedangkan kurs beli Rp 14.330 per dollar AS. Di laman penukaran yang VIP, kurs jual dollar AS sebesar Rp 14.345 per dollar AS, sedangkan kurs beli Rp 14.320 per dollar AS.

Petugas Pemadam Api

Bot Diisi Air sampai Dikejar Api


 M Gandi (32) dan Budiman (34) yang menyebut diri sebagai buruh siram memasukkan sekitar satu gelas air ke dalam sepatu bot masing-masing. Dengan suara kecipak di tiap langkah, mereka memasuki lahan gambut yang mengepulkan asap. Bot berisi air itu menjadi senjata mereka satu-satunya untuk menangkal panas lahan gambut yang habis terbakar. Teknik sederhana ini mampu menyelamatkan kaki mereka dari panas yang menyengat karena terlalu lama berada di lahan gambut yang terbakar.

Warga Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, sudah terlibat dalam pemadaman api sejak sepekan terakhir. Mereka disewa dengan upah sekitar Rp 75.000 per hari oleh salah satu perusahaan perkebunan sawit di Pedamaran, Ogan Komering Ilir. Tugas mereka menyiram lahan gambut yang masih mengepulkan asap setelah terbakar.

Tujuannya mencegah api muncul kembali di lahan-lahan yang masih menyimpan bara di lapisan bawah. Tiap hari, mereka mulai memasuki lahan gambut yang terbakar sekitar pukul 06.00 dan selesai sekitar pukul 17.00.

”Sudah beberapa tahun terakhir kami kerja menyiram begini kalau ada kebakaran lahan,” kata Gandi yang sehari-hari merupakan petani karet dan padi itu.