Monday, September 28, 2015

Kompas, Edisi, Senin, 28 September 2015

Kompas, Edisi, Senin, 28 September 2015

Perbaiki Manajemen Haji

34 Anggota Jemaah RI Jadi Korban Musibah Mina


JAKARTA, KOMPAS — Musibah di Mina, Arab Saudi, dengan 769 korban, pekan lalu, hendaknya menjadi momen untuk memperbaiki manajemen penyelenggaraan haji. Selain mencegah peristiwa serupa terulang, pembenahan perlu untuk menjamin jemaah dapat beribadah dengan khusyuk dan aman.

Pelaksanaan ibadah haji pada tahun 2015 (1436 Hijriah) ini diwarnai beberapa insiden. Ambruknya mesin derek (crane) di Masjidil Haram, Mekkah, 12

September 2015, menyebabkan 111 anggota jemaah meninggal dan 331 orang luka-luka. Diantara mereka, terdapat 11 anggota jemaah asal Indonesia yang meninggal dan 42 orang luka-luka.

Pada puncak haji, Kamis (24/9), terjadi insiden saling desak yang menyebabkan 769 orang dari sejumlah negara meninggal, termasuk 34 orang (angka sementara) dari Indonesia, sebagaimana dilaporkan wartawanKompas,Rakaryan Sukarjaputra, dari Mekkah.


KABUT ASAP

Evakuasi Warga Mendesak Dilakukan


PALANGKARAYA, KOMPAS — Kabut asap pekat pada tingkat berbahaya dalam seminggu ini di Kota Palangkaraya mendorong Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalimantan Tengah meminta pemerintah daerah untuk serius memperhatikan kesehatan warga. Evakuasi warga ke tempat yang aman pun mendesak dilakukan.

”Saat ini, yang paling penting adalah pemerintah fokus pada korban asap. Pertama, pemerintah harus menyiapkan posko kesehatan, obat, dan oksigen bagi warga. Kedua, pemerintah harus membuat skenario evakuasi,” kata Direktur Eksekutif Walhi Kalteng Arie Rompas, Minggu (27/9), di Palangkaraya.

Arie mengatakan, skenario evakuasi itu, antara lain, adalah menyiapkan gedung-gedung pemerintah yang memiliki pendingin udara (AC) untuk menampung warga yang rentan terhadap asap, misalnya anak balita, anak-anak, dan warga lanjut usia. ”Fokus pada manusia adalah hal yang paling penting karena sudah seminggu ini konsentrasi partikulat sudah berlipat mencapai tujuh kali dari ambang bahaya,” ujarnya.


PERCEPATAN BELAJAR

Anak Belia di Bangku Kuliah


Saat anak-anak usia 15 tahun lainnya masih mengenakan seragam putih biru atau abu-abu, mereka sudah duduk di bangku kuliah, menghadapi buku-buku teks tebal. Kemampuan belajar yang tinggi membuat mereka lebih cepat mencicipi pendidikan tinggi. Inilah para pelompat kelas.

Seragam putih berbalut jaket kuning cocok melekat di badan Muhammad Faiz yang tingginya sekitar 170 sentimeter itu. Jaket itu baru saja diterimanya di Balairung Universitas Indonesia (UI). Bersama teman seangkatannya, Faiz riang memakai jaket kampus barunya, akhir Agustus lalu.

Faiz merasa makin sah sebagai mahasiswa program sarjana kelas paralel Ilmu Komputer Fakultas Ilmu Komputer UI. Jangan ”tertipu” tinggi tubuhnya. Usia Faiz terbilang belia, 15 tahun. Para mahasiswa seangkatannya rata-rata berusia 18 tahun. ”Tentu saja senang dengan umur muda saya mencapai pendidikan tinggi,” katanya.