Saturday, September 12, 2015

Kompas, Edisi, Sabtu, 12 September 2015

Kompas, Edisi, Sabtu, 12 September 2015

Kebijakan Cegah PHK Harus Jadi Prioritas

Pengusaha Yakin Berdampak


JAKARTA, KOMPAS — Kalangan dunia usaha mengharapkan implementasi paket kebijakan ekonomi dari kementerian teknis mampu mendorong pertumbuhan sektor usaha di dalam negeri. Paket itu juga harus mampu mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja.

Sejumlah kalangan yang ditemui dan dihubungi Kompas, Jumat (11/9) di Jakarta, mengatakan, pemutusan hubungan kerja (PHK) harus dicegah. Apabila tidak dicegah, PHK akan mempunyai dampak yang meluas.

”PHK harus dicegah karena akan menurunkan daya beli. Masyarakat yang terkena PHK tidak lagi mendapat penghasilan,” kata Ketua Komite Tetap Industri Makanan dan Minuman Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Thomas Darmawan.

PENEMBAKAN

Pelaku Diduga Pakai Senjata Rakitan


JAKARTA, KOMPAS — Kepolisian Daerah Metro Jaya membentuk satuan tugas guna mengungkap kasus penembakan ruangan kerja staf khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Hasil penyelidikan sementara, pelaku menggunakan pistol rakitan dari arah jalan layang non-tol Casablanca.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian, Jumat (11/9) di Jakarta, menyatakan, penembakan ruangan staf khusus Menteri ESDM, Widhyawan Prawiraatmadja, terjadi pada Kamis sekitar pukul 12.00. Saat itu ruangan kosong. Widhyawan tengah keluar untuk makan siang.

Penembakan mengakibatkan kaca jendela ruangan pecah dan berlubang dengan diameter sekitar 12 sentimeter. Di ruangan itu ditemukan satu proyektil peluru dari senjata laras pendek.

"Diduga penembakan itu berasal dari jalan layang Casablanca yang jaraknya lebih kurang hampir 40 meter dari gedung ESDM. Dari kaliber peluru, diduga tembakan keluar dari senjata jenis pistol. Kemungkinan besar jenis rakitan, dilihat dari alur dan galangannya," tutur Tito. Dengan jarak sekitar 40 meter, tidak perlu orang profesional untuk menembak menggunakan pistol dengan target kaca gedung.


MUSIK

Merayakan Kehidupan dengan Bon Jovi


Lagu-lagu Bon Jovi, band asal New Jersey, Amerika Serikat, itu seperti menjadi perayaan kehidupan bagi penggemarnya. Sekitar 40.000 penonton memadati Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (11/9) malam, dalam konser Bon Jovi Live.

Dan lihatlah, begitu lagu "You Give Love a Bad Name" terdengar menggemuruh, penonton usia 25-40-an tahun pun bersorak histeris. Mereka melakukan koor massal lagu yang populer pada paruh kedua era 1980-an itu. Itulah "ledakan" pertama dalam konser yang digelar promotor Live Nation Indonesia itu.

Ledakan histeria kedua terdengar pada lagu "It's My Life" yang populer di sini pada awal tahun 2000 dan menjadi salah satu "lagu wajib" Bon Jovi.

Puluhan ribu penonton itu sudah cukup sabar menunggu sejak pukul 17.00 saat mereka memasuki Gelora Bung Karno. Baru sekitar pukul 20.30 mereka melihat Jon Bon Jovi dan kawan-kawan beraksi di panggung. Sebelumnya tampil artis pembuka, yaitu Sam Tsui (26), penyanyi Amerika Serikat keturunan Hongkong. Disambung dengan Judika, penyanyi lulusan Indonesian Idol yang membawakan lagu wajib "Indonesia Raya".