Friday, September 4, 2015

Kompas, Edisi, Jumat, 4 September 2015

Kompas, Edisi, Jumat, 4 September 2015

Wilayah Sumatera Dikepung Asap

Gubernur Belum Angkat Tangan sebagai Bencana Nasional


MEDAN, KOMPAS — Kabut asap yang menutup seluruh wilayah Sumatera dan Kalimantan tidak hanya menurunkan kualitas udara, tetapi juga mengganggu mobilitas dan merugikan bisnis. Bahkan, kabut asap dari titik panas mulai mengganggu aktivitas di Singapura dan Malaysia.

 Kebakaran hutan dan lahan yang kini berdampak ke negara lain belum menjadi bencana nasional. Status bencana nasional berlaku bila gubernur di daerah kebakaran hutan dan lahan menyatakan angkat tangan.

”Kalau gubernur menetapkan tidak mampu menangani kebakaran, diserahkan kepada Presiden. Lalu, Presiden yang akan memerintahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengambil alih penanganan,” kata Raffles Brotestes Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kamis (3/9) malam.

Raffles menyatakan, meluasnya kebakaran juga terkait izin terbang helikopter pemadam kebakaran yang habis. Sudah seminggu ini diajukan ke Direktorat Kelaikan Udara (Pengoperasian Pesawat Udara) di Kementerian Perhubungan, tetapi izin belum juga turun.


KAPAL TENGGELAM

Belasan WNI Tewas, Puluhan Lain Hilang


KUALA LUMPUR, KAMIS — Empat belas warga negara Indonesia tewas dan puluhan lain hilang akibat kapal yang mengangkut mereka tenggelam di lepas pantai Malaysia, Kamis (3/9) pagi. Mereka sedang dalam pelayaran pulang ke Tanah Air.

Wakil Menteri Luar Negeri RI AM Fachir, semalam, membenarkan adanya musibah itu. Menurut informasi dari Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, semua penumpang kapal kayu itu adalah WNI. ”Sebanyak 14 orang tewas, 20 ditemukan selamat, dan petugas Malaysia sedang mencari korban lain,” ujar Fachir.

Keterangan Fachir juga dikonfirmasi Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Hermono. ”Semua korban tewas disemayamkan di Rumah Sakit Teluk Intan, Perak,” kata Hermono ketika dihubungi dari Batam, Kepulauan Riau.


Pekerja Kontrak

Memelihara Kota, Menumbuhkan Asa


 Terlihat noda lumpur hitam berbau selokan di baju seragam warna oranye yang dikenakan Muskarim (46). Rabu (26/8) siang, ia dan lima temannya mengeruk got di pertigaan Rawa Belong-Palmerah, Jakarta Barat.

Sedari pagi hingga soreitu, Muskarim bersama temannya mengeduk sejumlah titik selokan di sepanjang Jalan Rawa Belong. ”Sepertinya, selokan ini belum pernah dibersihkan selama belasan tahun. Pantas saja air tidak mengalir sehingga banjir,” ujar warga Kelurahan Palmerah tersebut.

Meskipun harus berurusan dengan selokan dan sampah, Muskarim bersyukur telah mendapatkan pekerjaan kontrak sebagai tenaga penanganan prasarana dan sarana umum(PPSU). Di tengah perekonomian yang melambat, menjadi tenaga PPSU adalah jalankeluar baginya. Setelah lima tahun tak bergaji, Muskarim kini berpendapatan Rp 2,7 juta per bulan.