Thursday, September 10, 2015

Kompas, Edisi, Kamis, 10 September 2015

Kompas, Edis, Kamis, 10 September 2015

Perekonomian Digerakkan

Beberapa Kalangan Sambut Positif Paket Kebijakan Pemerintah


JAKARTA, KOMPAS — Untuk menggerakkan ekonomi dan melindungi masyarakat berpendapatan rendah akibat pelemahan ekonomi, pemerintah meluncurkan paket kebijakan ekonomi tahap I. Paket kebijakan ini akan disusul dengan paket kebijakan berikutnya. Beberapa kalangan menilai kebijakan itu tepat untuk menggerakkan ekonomi.

Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (9/9) petang, menyampaikan paket kebijakan ekonomi tahap I. Presiden mengatakan, paket kebijakan ekonomi tersebut bertujuan untuk menggerakkan kembali sektor riil yang diharapkan dapat memberi fondasi bagi lompatan kemajuan ekonomi Indonesia di masa datang.

Dalam penyampaian paket kebijakan itu, Presiden Jokowi didampingi Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan menteri lainnya.



Kereta Ringan

Transportasi Massal Tak Bisa Ditunda-tunda Lagi


JAKARTA, KOMPAS — Satu lagi tonggak sejarah pembangunan transportasi massal modern di Indonesia ditancapkan dengan peletakan batu pertama proyek kereta ringan di Jakarta oleh Presiden Joko Widodo, Rabu (9/9). Presiden menegaskan, pembangunan transportasi massal di Indonesia tak bisa ditunda-tunda lagi.

”Indonesia masih tertinggal dalam pembangunan infrastruktur, utamanya transportasi massal. Sesuatu yang tertunda cukup lama, harus segera kita mulai,” kata Presiden Jokowi di lokasi pembangunan stasiun KA ringan (light rail transit/LRT) di tepi Tol Jagorawi, tepat di seberang Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Kereta ringan yang terkoneksi dengan moda transportasi massal di Jakarta ini ditargetkan selesai pada 2018. Kehadirannya diharapkan turut mengurai kemacetan akut di Jakarta.


Dampak Kebakaran

Muram di Bawah Naungan Asap


Setiap langit pagi Palembang mulai suram oleh kabut asap, keluarga Agus Mulyono (39) pun mulai dirundung gelisah. Kabut asap menjadi pertanda sulitnya kehidupan keluarga mereka hingga nanti musim asap berakhir.

Musim asap, begitulah sebagian warga Palembang menyebut hari-hari berkabut asap di kota mereka karena gangguan asap rutin berulang setiap tahun. Tujuh belas tahun ini, kabut asap selalu datang ibarat musim baru di puncak kemarau.

Agus pun hanya bisa pasrah setiap musim asap tiba. Baginya, musim asap adalah musim paceklik. Sejak asap melanda Palembang sekitar dua pekan lalu, tukang bangunan itu lima hari tidak bekerja karena asmanya kambuh.

"Setiap menghirup asap begini, saya jadi sesak napas, batuk, kepala pening, dan badan langsung lemas. Padahal, kuli modalnya hanya tenaga, beda dengan pegawai kantoran," kata Agus di rumahnya di kawasan Sako, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (8/9).