Saturday, October 11, 2014

Kompas, Edisi, Sabtu, 11 Oktober 2014

 
Kompas, Edisi, Sabtu, 11 Oktober 2014

Ebola Mencemaskan Dunia

Beberapa Negara di Asia Siap Bantu Afrika Barat


WASHINGTON DC, KOMPAS — Wabah ebola Afrika Barat menjalar liar dan mencemaskan dunia. Sejumlah negara memeriksa ketat arus manusia di bandara, hotel, dan lokasi yang disinggahi orang yang terjangkit ebola. Di Jakarta, Kementerian Kesehatan menegaskan siap mengantisipasi penanganan penyakit akibat virus ebola.

Rasa cemas tak hanya terlihat di negara-negara Afrika, tetapi juga di Amerika, Eropa, bahkan Asia. Warga Taiwan mulai khawatir setelah otoritas kesehatan mengisolasi seorang perempuan asal Nigeria di Rumah Sakit Taoyuan, Kamis (9/10), untuk memastikan status kesehatannya.

Wartawan Kompas, Dewi Indriastuti, dari Washington DC, AS, melaporkan, Presiden Bank Dunia Jim Yong-kim menyerukan tindakan cepat mengendalikan wabah ebola. Sierra Leone, Liberia, dan Guinea sudah merasakan dampak ekonomi.
Sedikitnya 6 juta anak tak bisa bersekolah. Tanpa aksi segera, masa depan Afrika terancam.

HADIAH NOBEL PERDAMAIAN

Penerima Termuda, Pejuang Hak-hak Anak


OSLO, JUMAT — Aktivis muda asal Pakistan, Malala Yousafzai (17), dan pejuang hak-hak anak asal India, Kailash Satyarthi (60), berbagi Hadiah Nobel Perdamaian 2014. Mereka layak mendapatkan penghargaan prestisius itu berkat perjuangan melawan penindasan terhadap anak-anak dan pembelaan akan hak-hak pendidikan bagi anak-anak di dunia.

Dalam pengumuman peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2014 di Oslo, Norwegia, Jumat (10/10), Komite Nobel Norwegia menyatakan, penghormatan terhadap hak-hak anak dan pemuda adalah prasyarat bagi pembangunan global yang damai.

”Anak-anak harus bersekolah dan tidak dieksploitasi secara finansial. Di negara-negara miskin di dunia, 60 persen dari populasi mereka saat ini berusia di bawah 25 tahun,” ungkap komite yang bertanggung jawab memilih peraih Hadiah Nobel Perdamaian setiap tahun itu di laman resmi nobelprize.org.

Kreativitas

Perempuan-perempuan ”Super” asal Malang


 SUKSES seorang diri tidak lebih membanggakan dibandingkan dengan menyukseskan banyak orang. Sukses mengajak orang lebih berdaya adalah keberhasilan yang tidak ternilai. Rasa itulah yang menjadi dasar para perempuan dari Kota Malang ini tidak ingin sukses sendirian.

Mereka mengajak perempuan-perempuan lain, khususnya pekerja rumahan atau bahkan yang tidak memiliki pekerjaan, untuk mandiri. Peny Budi Astuti (45), ibu rumah tangga asal Plaosan Timur, Kota Malang, Jawa Timur, adalah salah satu sosok tersebut. Sejak melepaskan pekerjaannya sebagai karyawan teladan di hipermarket di Kota Malang, atas permintaan suami dan tuntutan keluarga, Peny harus membiasakan diri tidak memiliki aktivitas lain, selain menjadi ibu rumah tangga.

Saat tiga anaknya beranjak dewasa, rasa sepi mulai mengisi hari-hari Peny. Itu sebabnya, tahun 2007, Peny mulai belajar membuat kerajinan tangan dari bahan manik-manik, seperti yang diajarkan tetangganya. Tidak lama, Peny membuka kursus gratis untuk mengajari orang membuat manik-manik. Usaha manik-manik ibu tiga anak itu terus berkembang.