Tuesday, October 7, 2014

Kompas, Edisi, Selasa, 7 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Selasa, 7 Oktober 2014

DPD dan PPP Jadi Penentu

Saldi: Pimpinan MPR Sangat Strategis, Pilih dengan Kebijaksanaan


JAKARTA, KOMPAS — Pemilihan calon pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang awalnya dijadwalkan Senin (6/10) malam akhirnya ditunda menjadi Selasa ini mulai pukul 10.00. Dalam pemilihan ini, posisi politik Dewan Perwakilan Daerah akan sangat menentukan.
Berdasarkan komposisi kursi di MPR, kelompok DPD memiliki jumlah kursi paling besar, yaitu 132. Setelah itu disusul PDI-P (109), Golkar (91), Gerindra (73), Demokrat (61), PAN (48), PKB (47), PKS (40), PPP (39), Nasdem (36), dan Hanura (16).

Rapat Paripurna DPD, semalam, juga menyepakati memilih Oesman Sapta Odang sebagai calon unsur pimpinan MPR mewakili DPD. Pada tahun 1994-2004, Oesman Sapta pernah menjabat Wakil Ketua MPR. Dalam pemilu presiden lalu, Oesman mendukung pencalonan Joko Widodo.

LEGISLATIF

Berbaktilah kepada Rakyat


JAKARTA, KOMPAS — Para wakil rakyat, baik di Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, maupun Dewan Perwakilan Daerah, diharapkan lebih berbakti kepada rakyat yang diwakilinya ketimbang memperjuangkan kepentingan koalisi, partai, atau pribadi. Begitu pula pemerintahan baru di bawah presiden-wakil presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla diminta serius mewujudkan janji menyejahterakan rakyat.
Harapan itu disampaikan mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid, yang dihubungi secara terpisah dari Jakarta, Senin (6/10). Menurut keduanya, Pemilu Presiden 2014 telah usai dan semua pihak diminta menerima hasilnya dengan legawa. Kini, semua kelompok politik hendaknya kembali bersatu untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan mendorong kemajuan bangsa Indonesia.

PREDIKSI CUACA

Kekeringan Berakhir Awal November


JAKARTA, KOMPAS — Kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia diperkirakan berakhir pada awal November. Kondisi ini sesuai dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada Agustus lalu. Akibatnya, petani terlambat memulai musim tanam pertama.
Kepala Bidang Informasi Iklim BMKG Evi Lutfiati, di Jakarta, Senin (6/10), mengatakan, kondisi ini terjadi karena suhu muka air laut di perairan selatan Pulau Jawa terpantau dingin. Sementara angin muson timur bergerak kuat. Akibatnya, hujan belum turun di wilayah seperti Jawa, Bali, dan sebagian Nusa Tenggara. ”Tak perlu khawatir karena perhitungannya memang antara Oktober dan November,” kata Evi.