Sunday, July 8, 2012

Kompas, Edisi, Minggu, 8 Juli 2012


Kompas, Edisi, Minggu, 8 Juli 2012
Kompas, Edisi, Minggu, 8 Juli 2012


Suasana kota Tripoli saat berlangsungnya pemilu untuk memilih anggota Majelis Nasional, Sabtu (7/7), bak sebuah pesta rakyat | 8 Juli 2012 | Hal 1 |

Adakah yang masih bisa dibanggakan dari Indonesia? Pertanyaan itu mengusik hati dan pikiran kaum muda di tengah hiruk-pikuk sosial politik di Tanah Air. Jawabannya: ada. Itu adalah kebudayaan. Tradisi musiknya | 8 Juli 2012 | Hal 1

Pengelola Pelabuhan Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, memberlakukan sistem buka dan tutup terhadap pelayaran kapal tujuan Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Timur, Sabtu (7/7) | 8 Juli 2012 | Hal 2

Sierra Soetedjo merasa telah menemukan cinta di dalam jazz. Ia bernyanyi di panggung di tengah kampung, di kafe-kafe, hingga di ajang festival | 8 Juli 2012 | Hal 25

Teresa Maria Ineke Turangan (48) merangkai aneka bentuk janur—dan sisipan bunga—lalu memuat model-model rangkaian itu dalam buku Janur, Introducing Tradition into Modern Style | 8 Juli 2012 | Hal 26

Di Kebun Bunga, sebuah lokasi wisata di Garut, terhampar bunga-bunga indah. Di sanalah para gadis model tinggi semampai berjalan melenggang di atas panggung peragaan busana | 8 Juli 2012 | Hal 27

”Love”. Kata itu tertempel di dinding kamar tidur Irianti Erningpraja (45) dalam ukuran cukup besar. Dia ingin kata pertama yang dia lihat dan ingat saat bangun tidur adalah cinta, cinta, dan cinta. Mengapa cinta? | 8 Juli 2012 | Hal 33

Bagi penggemarnya, sebuah jam tangan tak hanya menjadi penunjuk waktu. Desain, fungsi, sejarah, dan teknologi adalah beberapa faktor yang dinikmati para pencintanya | 8 Juli 2012 | Hal 34