Wednesday, August 10, 2016

Kompas Edisi Rabu 10 Agustus 2016

Kompas Edisi Rabu 10 Agustus 2016
Kompas Edisi Rabu 10 Agustus 2016

Hasil Kerja Tim Ditunggu

Beberapa Lembaga Menelusuri Informasi Haris Azhar


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah lembaga membentuk tim untuk menindaklanjuti informasi Haris Azhar dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan terkait Freddy Budiman. Hasil kerja tim ini akan menunjukkan keseriusan lembaga terkait dalam memberantas narkoba.

Pembentukan tim ini antara lain dilakukan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Anggota tim independen yang dipimpin Inspektur Pengawasan Umum Polri Komisaris Jenderal Dwi Priyatno ini berasal dari internal Polri ataupun dari luar Polri, yaitu Hendardi dari Setara Institute, komisioner Komisi Kepolisian Nasional Poengky Indarti, dan pemerhati komunikasi Effendi Gazali,

Sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia juga telah membentuk tim untuk mengusut kebenaran isi tulisan Haris.


Salah Strategi, Eko Gagal Raih Emas


Rio de Janeiro, Kompas. Kesalahan strategi menggagalkan lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, meraih medali emas kelas 62 kilogram cabang angkat besi Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Eko meraih perak dengan angkatan total 312 kilogram dalam lomba di Paviliun 2 Riocentro, Rio de Janeiro, Brasil, Senin (8/8) malam waktu setempat. Dia kalah dari lifter Kolombia, Oscar Albeiro Figueroa Mosquera, dengan total angkatan 318 kilogram. Adapun perunggu didapat oleh lifter Kazakhstan, Farkhad Kharki (305 kilogram).

Selasa (9/8) dini hari WIB, kans emas pertama untuk Indonesia di Rio 2016 sebenarnya terbuka saat lifter asal Tiongkok, Chen Lijun, pesaing terberat Eko, mundur sebelum menuntaskan angkatan snatch karena cedera hamstring. Lijun merupakan pemegang rekor dunia untuk jenis clean and jerk dan total. Absennya juara bertahan Kim Un-guk (Korea Utara), karena skors terkait doping, juga membuka peluang ini.

Di atas panggung, Lijun "menggertak" dengan mematok angkatan snatch (barbel langsung ke atas kepala) terberat, yakni 145 kilogram (kg), tetapi gagal pada dua kesempatan pertama. Ia bahkan tak mampu mengangkat barbel setinggi lututnya. Pendukung Lijun terdiam saat melihat idolanya tak berdaya.


PARIWISATA

Mengubah Nasib Kawasan Terpencil


Pariwisata menjadi nadi ekonomi baru di Banyuwangi, Jawa Timur. Denyutnya menghidupkan perekonomian lokal di pelosok desa. Dari sektor itu, sebagian jalan menuju kesejahteraan warga ditemukan.

Bonjour! Je m'appelle Robixs. J'habite à Banyuwangi. Enchanté. (Halo! Nama saya Robixs. Saya tinggal di Banyuwangi. Senang bertemu dengan Anda)," sapa Robixs alias Muhammad Rofik (40), menyambut rombongan turis Perancis.

Robixs kala itu hanya bercelana pendek. Tangannya masih kotor dengan debu belerang yang ia bawa dari puncak. Peluh pun membasahi seluruh badannya. Namun, sang turis tak merasa terganggu. Ia malah semringah bertemu dengan Robixs. Saat menemukan ada petambang yang bisa bahasa mereka, tanpa berpikir dua kali, Robixs diajak jalan menemani mereka.

Tuesday, August 9, 2016

Kompas Edisi Selasa 9 Agustus 2016

Kompas Edisi Selasa 9 Agustus 2016
Kompas Edisi Selasa 9 Agustus 2016

Kesehatan Bangsa Tak Terlindungi

Bisnis Obat Menggiurkan, tapi Lemah Pengawasan


JAKARTA, KOMPAS — Tidak terkendalinya peredaran obat di Indonesia membuka peluang masuknya obat palsu, kedaluwarsa, dan obat yang diproduksi tak benar di masyarakat. Akibatnya, kesehatan bangsa tergadaikan dan kelanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional terancam. Namun, koordinasi dan penegakan aturan yang ada sangat lemah.

 Obat adalah komoditas khusus sehingga pengaturannya tak bisa disamakan dengan barang konsumsi lain. Dengan pengaturan produksi dan distribusi yang ketat, masuknya obat ilegal, termasuk di dalamnya obat palsu, di masyarakat bisa dicegah.

”Obat ilegal berpotensi tidak aman, juga palsu, karena tak ada penilaian obyektif dan ilmiah dari ahli atau lembaga kompeten. Kemanjuran dan keamanannya pun tak terjamin,” kata Guru Besar Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinis Universitas Gadjah Mada Zullies Ikawati yang dihubungi dari Jakarta, Senin (8/8).


Riau Ega Taklukkan Juara Dunia


RIO DE JANEIRO, KOMPAS Atlet putra Indonesia, Riau Ega Agatha Salsabila, menyita perhatian penonton dan kontingen lain di Sambodrome, arena panahan Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, Senin (8/8). Ega menaklukkan juara dunia, Kim Woo-jin (Korea Selatan), di babak kedua, dengan skor 6-2.


 Kim adalah juara dunia panahan 2011 dan 2015. Tiga hari sebelumnya, Kim, yang peringkat pertama dunia, memecahkan rekor dunia perolehan poin individu ketika baru memasuki babak penentuan peringkat.

Dalam perlombaan itu, Ega berhasil mengatasi rasa gugupnya dan menaklukkan Kim dalam tiga dari empat set perlombaan. Setiap set yang dimenangi memberi Ega dua poin.


PRODUK FARMASI

Ancaman Kesehatan Sedekat Ujung Jari


Teknologi gawai pintar kian memudahkan aktivitas manusia. Dengan sentuhan jari saja, kita bisa membeli barang yang kita inginkan. Namun, dalam membeli produk farmasi, kemudahan pembelian secara daring tanpa pemahaman risikonya justru bisa menjadi ancaman bagi kesehatan diri sendiri.

"Nanya dijawab, malah enggak percaya. Itu sudah teruji sesuai petunjuk pemakaian," ujar seseorang dengan nama akun Ferry Mustagfirin, dalam percakapan via layanan Blackberry Messenger (BBM), Sabtu (6/8) lalu. Ia menjawab pertanyaan Kompas seputar obat bermerek Cialis yang dijualnya secara daring, termasuk ada atau tidaknya efek samping obat.

Cialis merupakan obat keras berisi zat aktif tadalafil, yang dipakai untuk terapi pria dengan disfungsi ereksi. Para penjual dengan izin tak jelas mempromosikannya sebagai obat kuat bagi pria. "Artis banyak lho yang beli, ha-ha-ha..... Tapi (nama-nama artis itu) rahasia," kata Ferry, berupaya meyakinkan.

Monday, August 8, 2016

Kompas Edisi Senin 8 Agustus 2016

Kompas Edisi Senin 8 Agustus 2016
Kompas Edisi Senin 8 Agustus 2016

Peredaran Obat Tak Terkendali

Lebih dari 80 Persen Sarana Kefarmasian Menyalahi Aturan


JAKARTA, KOMPAS — Terkuaknya peredaran vaksin palsu sejatinya merupakan bagian dari masalah lebih besar, yakni tak terkendalinya distribusi obat. Banyak obat, termasuk obat keras, diperjualbelikan bebas oleh orang ataupun badan usaha yang tak berhak atau menyalahi aturan. Meski berlangsung puluhan tahun, upaya serius pemerintah menegakkan aturan distribusi obat belum nyata.

Penelusuran Kompas hingga Minggu (7/8) di sejumlah pasar, warung, minimarket, pedagang kaki lima, toko obat, toko daring, dan apotek di Jakarta, Bogor, dan Tangerang Selatan menunjukkan mudahnya memperoleh obat. Kemudahan itu membuka peluang besar peredaran obat palsu, obat kedaluwarsa, obat tanpa izin edar, hingga obat-obatan yang mengandung bahan berbahaya.

Salah satu jenis obat yang mudah diperoleh ialah penggugur kandungan. Obat itu dijual pedagang minuman di Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Meski dijual agak tersembunyi, banyak pedagang makanan dan minuman menawarkan jasa untuk mendapatkan obat itu.


Medali Penyemangat dari Sri Wahyuni


RIO DE JANEIRO, KOMPAS Tak gentar terhadap lawan, juga ketepatan strategi, mengantar lifter putri Sri Wahyuni berdiri di podium dengan kalungan medali perak Olimpiade Rio de Janeiro 2016, di cabang angkat besi kelas 48 kilogram. Prestasi Yuni dalam debutnya di Olimpiade ini bisa menjadi penyemangat bagi atlet Indonesia lainnya untuk menampilkan aksi terbaik.


Yuni merebut medali perak pada hari pertama cabang angkat besi. Di panggung Paviliun 2 Riocentro, Rio de Janeiro, Brasil, Sabtu (6/8) malam waktu setempat, Yuni menunjukkan ketangguhannya meski lalu kalah dari lifter Thailand, Sopita Tanasan.

"Medali ini saya persembahkan bagi Indonesia. Saat akan mengangkat beban, saya selalu ingat ini untuk Indonesia," ujar Yuni sambil memperlihatkan medali peraknya. Medali itu akan disimpan di lemari kaca di rumahnya bersama medali lain, termasuk saat juara dunia yunior pada 2014.


PERLINDUNGAN WARGA NEGARA

Penyanderaan WNI Makin Merajalela


JAKARTA, KOMPAS — Di tengah upaya pemerintah membebaskan 10 warga negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan, kini seorang WNI, Herman Bin Manggak (38), kembali disandera. Penyanderaan warga asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang jadi kapten kapal penangkap udang berbendera Malaysia ini merupakan peristiwa kelima dalam enam bulan terakhir.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu Lalu M Iqbal, Minggu (7/8), menuturkan, Kemlu sudah mengetahui penyanderaan itu sejak 5 Agustus. "Kapal itu berbendera Malaysia dan berpangkalan di kota Sandakan, Malaysia. Peristiwa terjadi di wilayah Malaysia, korban diperkirakan dilarikan ke Filipina," papar Iqbal.

Kantor berita Malaysia, Bernama, Sabtu (6/8), memberitakan, sebuah perahu nelayan khas Filipina yang berisi tiga pria berseragam loreng lusuh dengan senapan M-16 dan seorang pria tidak bersenjata menghadang kapal nelayan SN 6599/4/F yang berpangkalan di Sandakan. Peristiwa ini terjadi di perairan antara Sabah, Malaysia, dan Filipina selatan, Rabu (3/8) petang.

Sunday, August 7, 2016

Kompas Edisi Minggu 7 Agustus 2016

Kompas Edisi Minggu 7 Agustus 2016
Kompas Edisi Minggu 7 Agustus 2016

Pesan Lestari dari Olimpiade Rio

Warga Brasil Kurang Antusias, Temer Dicemooh


RIO de JANEIRO, KOMPAS Dengan anggaran terbatas, pembukaan Olimpiade Rio de Janeiro 2016 tak bisa dibandingkan dengan kecanggihan dan kemegahan Olimpiade London 2012 dan Beijing 2008. Namun, pembukaan Olimpiade Rio membawa pesan membumi tentang alam dan kemanusiaan.

Harian Kompas dari Rio de Janeiro, Brasil, melaporkan, pembukaan Olimpiade Rio berlangsung di stadion kebanggaan Brasil, Maracana, Jumat (5/8) malam waktu setempat atau Sabtu pagi di Indonesia. Sejak awal, mereka yang terlibat dalam tim upacara pembukaan menjanjikan membuat acara yang meninggalkan kesan di hati meski dengan anggaran terbatas.

Media internasional memberitakan, anggaran untuk upacara pembukaan Rio itu 10 kali lebih kecil daripada anggaran upacara pembukaan Olimpiade London 2012 yang mencapai 41,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 546 miliar.


KEAMANAN REGIONAL

Terorisme Ancaman Besar ASEAN


JAKARTA, KOMPAS — Terbongkarnya rencana serangan kelompok teroris Katibah Gonggong Rebus ke Singapura semakin menguatkan dugaan bahwa terorisme merupakan ancaman besar bagi negara-negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Oleh karena itu, negara anggota ASEAN akan terus meningkatkan koordinasi dalam pencegahan terorisme, antara lain di bidang intelijen.

Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengemukakan hal itu seusai membuka Muktamar Nasional Rabithah Alawiyah di Jakarta, Sabtu (6/8). ”Selain itu, tiap-tiap negara juga mempunyai tugas memperkuat masyarakat, terutama dalam bidang perekonomian dan pendidikan,” kata Kalla.

Seperti diberitakan, Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri menangkap enam terduga teroris Katibah Gonggong Rebus (KGR) di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (5/8). Mereka adalah GRD (31), TS (46), ES (35), TAR (21), HGY (20), dan MTS (19). GRD merupakan bagian kelompok teror asal Solo, Jawa Tengah, yang memiliki hubungan baik dengan Bahrun Naim, salah seorang pemimpin sayap militer Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) asal Indonesia (Kompas, 6/8).


SELISIK BATIK

Api Kecil dari Ciamis


Batik dari tanah Priangan adalah simbol daya hidup dan keuletan. Pernah mengantarkan Priangan menuju kejayaan, tetapi nyaris lenyap digulung serbuan tekstil motif batik. Meski demikian, generasi penerusnya tetap keras kepala mempertahankan eksistensi batik dari gigitan kepunahan.

Hampir setengah abad setelah keruntuhan batik di Ciamis, daya hidup dan keuletan kini kembali muncul dari sebuah sudut tak terlihat di Ciamis, Jawa Barat. Di sebuah tempat pembuatan batik di kompleks Koperasi Rukun Batik di Jalan Raya Ciamis, pembatik berjibaku demi kebangkitan batik.

Di sana, ada Jojoh (49), warga Sindangsari, yang bersama tiga orang lainnya, khusyuk membatik ditemani dakwah ustazah lewat siaran radio lokal. Panas dan kepulan asap pembakaran malam membuat keringat menetes tanpa henti, tetapi tak pernah menghentikan semangat mereka.

Saturday, August 6, 2016

Kompas Edisi Sabtu 6 Agustus 2016

Kompas Edisi Sabtu 6 Agustus 2016
Kompas Edisi Sabtu 6 Agustus 2016

Persaingan Atlet Dunia Dimulai

Indonesia Berpeluang Meraih Medali


Rio de Janeiro, Kompas Persaingan duta olahraga dari 207 delegasi di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 akan dimulai dengan upacara pembukaan yang digelar Jumat (5/8) malam waktu setempat atau Sabtu pagi waktu Indonesia. Sebanyak 28 atlet Indonesia menjadi bagian dari sekitar 10.000 atlet yang akan berkompetisi hingga 21 Agustus.

Atlet panahan, rowing, dan angkat besi akan memulai penampilan pada Sabtu. Mereka, terutama trio pemanah putra, Riau Ega Agata Salsabila, Muhammad Hanif Wijaya, dan Hendra Purnama, serta lifter putri Sri Wahyuni mengemban asa bangsa Indonesia untuk meraih medali pertama bagi Merah Putih.

Riau, Hanif, dan Hendra akan tampil di nomor beregu putra. Nomor ini menyelenggarakan babak penyisihan hingga final dengan sistem gugur sepanjang hari Sabtu ini.


Pertumbuhan

Momentum Perbaikan Ekonomi Terus Dijaga


JAKARTA, KOMPAS — Pertumbuhan ekonomi menguat. Tren ini tampak pada capaian triwulan II-2016. Agenda berikutnya adalah menjaga momentum dan meningkatkan kepercayaan agar investasi bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi.

”Yang paling penting sekarang adalah momentum ini harus terus dijaga,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Jumat (5/8), ketika ditanya pengumuman pertumbuhan ekonomi terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan data BPS, semua kegiatan ekonomi nasional pada triwulan II-2016 menghasilkan produk domestik bruto (PDB) senilai Rp 3.086,6 triliun. Dengan demikian, dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, terjadi pertumbuhan ekonomi 5,18 persen. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2014 dan 2015, masing-masing 4,96 persen dan 4,66 persen. Pertumbuhan triwulan II di atas perkiraan beberapa kalangan. Mereka memperkirakan mendekati 5 persen.


Kreativitas Masyarakat

Pijar Peradaban di Kaki Perbukitan Menoreh


Sebagai pusar budaya, Candi Borobudur, mahakarya Dinasti Syailendra, tak hanya menghidupi, tetapi juga menghidupkan pijar peradaban warga sekitarnya. Destinasi baru dicipta lewat kreasi warga memanfaatkan elok alam perbukitan Menoreh. Repihan kue pariwisata global itu pun perlahan memeratakan sejahtera.

Dua pasang remaja tanggung seolah berlomba swafoto di tengah hening puncak Punthuk Setumbu, Kecamatan Borobudur, suatu pagi, di cerahnya bulan Juni. Di Punthuk Setumbu ini, Rangga dan Cinta menyongsong matahari terbit dalam satu adegan film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2.

"Sudah lama dengar (Punthuk Setumbu), tetapi benar-benar pengin ke sini setelah nonton AADC 2. Katanya romantis. Walau harus naik bukit, enggak nyesel deh," ujar Keizia Nurmala (18), wisatawan asal Purwokerto, yang diamini Dendi Faizal (18), pasangannya.