Thursday, December 3, 2015

Kompas Edisi Kamis 3 Desember 2015

Kompas Edisi Kamis 3 Desember 2015

Said Aqil: Rakyat Sangat Tersinggung

Maroef Sjamsoeddin Siap ke MKD


JAKARTA, KOMPAS — Isi rekaman pembicaraan yang diperdengarkan dalam sidang Mahkamah Kehormatan Dewan, Rabu (2/12), di Jakarta, menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj sangat menyinggung rakyat. Mereka yang bicara dalam rekaman itu tidak pantas lagi mewakili rakyat.

Said menuturkan, rakyat sangat tersinggung karena di tengah beratnya kehidupan rakyat saat ini, ada orang-orang, termasuk wakil rakyat, yang berambisi meraih keuntungan triliunan rupiah dari kekayaan alam Indonesia.

”Dia sudah kaya, tetapi sepertinya masih kurang terus. Sebenarnya kekayaan Indonesia cukup untuk menyejahterakan 250 juta rakyat Indonesia, tetapi kekayaan Indonesia tidak cukup untuk seorang yang tamak model seperti itu,” kata Said.


KECELAKAAN AIR ASIA QZ8501

95 Keluarga Belum Dapat Santunan


AKARTA, KOMPAS — Walaupun kecelakaan pesawat Airbus A320-200 dengan nomor penerbangan QZ8501 sudah hampir setahun, baru 67 keluarga korban yang mendapat santunan asuransi kecelakaan. Sisanya, 95 keluarga korban, belum mendapatkan santunan asuransi.

Menurut Head of Corporate Secretary and Communications Air Asia Indonesia Audrey Progastama Petriny, pembayaran santunan asuransi itu belum tuntas karena pihak keluarga belum memberikan surat ahli waris yang dibutuhkan oleh asuransi.

”Kami siap membayarkan santunan itu asalkan ada keterangan ahli waris yang sah. Surat keterangan itu berasal dari notaris atau kelurahan,” kata Audrey.


KEMANDIRIAN DESA

Menerbitkan Kesadaran dengan "Sakola Desa"


Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa membawa semangat baru dalam tata kelola pemerintahan yang lebih menguatkan peran desa. Kehadiran UU itu tak disia-siakan Desa Tanjungsari, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang tahun ini mengadakan sakola desa.

Sakola desa sejatinya merupakan upaya memetakan masalah dan mencari solusi atas persoalan di desanya. Sakola desa di Tanjungsari bukan kegiatan belajar-mengajar di ruang kelas atau tempat tertentu.

Sakola desa berupa wahana luas yang bisa berada di mana saja, kadang di warung kopi, rumah warga, tepi sawah, kebun, atau di kantor desa.

"Semua terlibat karena tidak ada yang menjadi guru dan murid. Semua saling bicara mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, lalu dicari benang merah persoalan, dan diinventarisasi," kata Tasrip (46), Kepala Desa Tanjungsari, Kamis (26/11), di ruangan kerjanya.

Wednesday, December 2, 2015

Kompas Edisi Rabu 2 Desember 2015

Kompas Edisi Rabu 2 Desember 2015
Kecelakaan Bukan akibat Cuaca

KNKT Umumkan Hasil Investigasi Jatuhnya Air Asia


JAKARTA, KOMPAS — Komite Nasional Keselamatan Transportasi telah menyelesaikan investigasi terhadap kecelakaan yang menimpa Air Asia Indonesia QZ8501 yang jatuh pada 28 Desember 2014. Dari investigasi diketahui, kecelakaan yang menewaskan 162 penumpang dan kru itu tidak disebabkan oleh satu faktor saja.

Penyelesaian investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) itu lebih cepat dibandingkan standar waktu yang ditetapkan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), yakni satu tahun.

Jumpa pers mengenai hasil investigasi kecelakaan pesawat yang diawaki kapten pilot Irianto dan kopilot Remi Emmanuel Plesel itu digelar di kantor KNKT, Jakarta, Selasa (1/12). Jumpa pers itu menyedot perhatian media, baik nasional maupun asing. Setidaknya 125 wartawan memadati ruang jumpa pers yang tidak terlalu luas.

Dalam laporan investigasi tersebut dikatakan, setidaknya ada lima faktor utama yang menjadi penyebab kecelakaan. ”Kecelakaan ini tidak disebabkan oleh human error ataupun cuaca, tetapi ada lima faktor yang lebih dominan. Kalau disebut human error, produk yang rusak juga bisa disebut humanerror karena dibuat oleh manusia,” kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.


PEJABAT PUBLIK

Tak Mencapai Target, Dirjen Pajak Mundur


JAKARTA, KOMPAS — Direktur Jenderal Pajak Sigit Priadi Pramudito mengundurkan diri dari jabatannya per Rabu (2/12) ini. Untuk sementara, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Peraturan dan Penegakan Hukum Pajak Ken Dwijugiasteadi ditunjuk sebagai pelaksana tugas.

Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro melalui layanan pesan singkat (SMS), Selasa, di Jakarta, menyatakan sudah menerima surat pengunduran diri Sigit, Selasa pagi. Alasannya, realisasi penerimaan pajak jauh dari target.

Target penerimaan pajak tahun 2015, di luar pajak minyak dan gas, sebesar Rp 1.244 triliun. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pajak, penerimaan pajak hingga 27 November sebesar Rp 806 triliun atau 64,75 persen. Dengan demikian, realisasi terhadap target kurang Rp 438,72 triliun.


DUGAAN SUAP

KPK Tangkap Tangan Pejabat Banten


JAKARTA, KOMPAS — Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banten dan seorang petinggi badan usaha milik daerah, PT Banten Global Development, di sebuah restoran di kawasan Serpong, Tangerang, Selasa (1/12). Mereka diduga terlibat dalam suap terkait dengan pembentukan Bank Pembangunan Daerah Banten.

"Sekitar pukul 12.42, di sebuah restoran di kawasan Serpong, ada tiga orang yang diduga hendak melakukan tindak pidana korupsi. Di restoran ini terjadi serah terima uang dalam bentuk dollar Amerika Serikat dan rupiah," kata Pelaksana Tugas Wakil Ketua KPK Johan Budi SP.

Johan membenarkan, yang ditangkap KPK adalah dua anggota DPRD Banten dan petinggi suatu perusahaan. "Informasi yang saya terima, anggota DPRD-nya berinisial SMH dan TST, sementara direktur perusahaannya berinisial RT," ujarnya.

Tuesday, December 1, 2015

Kompas Edisi Selasa 1 Desember 2015

Kompas Edisi Selasa 1 Desember 2015

Dunia Bicarakan Masa Depan Iklim

Indonesia Bawa 60 Negosiator


PARIS, KOMPAS — Delegasi dari 195 negara, termasuk Indonesia, menghadiri pertemuan tahunan Konferensi Perubahan Iklim, di Paris, Perancis, 30 November-11 Desember 2015. Dunia berjuang menjaga kenaikan suhu Bumi tak lebih dari 2 derajat celsius sejak Revolusi Industri, 1850.

Pertemuan Para Pihak (COP) Ke-21 Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) kali ini amat menentukan. Di akhir konferensi yang dijaga ketat tentara dan polisi itu ditargetkan kesepakatan baru yang mengikat secara universal: penurunan emisi karbon dari 195 negara anggota UNFCCC.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, saat pidato pembukaan di Paris, Senin (30/11), menegaskan, ”Ini saatnya titik balik pembangunan rendah karbon, masa depan dunia yang tahan terhadap perubahan iklim.” Itu disampaikannya di hadapan 147 kepala negara dan pemerintahan yang diberi waktu pidato masing-masing 3 menit, termasuk Presiden Joko Widodo.


Daya Saing

Gas Mahal, Industri di Sumut Ambruk


MEDAN, KOMPAS — Komitmen Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah industri nasional melalui strategi hilirisasi industri tidak didukung oleh pelaku di sektor hulu. Terbukti, sampai kini, 53 perusahaan manufaktur di sektor hilir di Sumatera Utara yang berbahan baku gas harus kehilangan daya saing karena mahalnya harga jual gas.

Harga gas hasil kesepakatan PT Perusahaan Gas Negara dan PT Pertamina Gas di Sumut masih 12,22 dollar AS per juta metrik british thermal unit (MMBTU). Harga jual semahal itu pun sudah diturunkan 1,64 dollar AS per MMBTU dari harga semula 13,86 dollar AS per MMBTU.

Kesepakatan harga itu diambil setelah kalangan industri melakukan protes dan baru akan berlaku pada 10 Desember 2015. Padahal, dari 53 industri itu, sedikitnya ada 100.000 pekerja yang terlibat di dalamnya.


REKLAMASI

Luka Mustaya yang Tak Kunjung Kering


Sejak peristiwa 2 September 2012, Mustaya (38) dan keluarga selalu curiga kepada setiap orang yang datang menanyakan kisahnya. Cerita tentang protes nelayan atas penambangan pasir laut itu berujung luka. Ada sisa nyeri akibat luka di paha kanan Mustaya. Tak hanya itu, dia pun trauma.

Di Desa Lontar, sekitar 20 kilometer utara pusat Kabupaten Serang, Banten, Kamis (19/11) siang, beberapa pria bercengkerama di dekat perahu nelayan yang tengah diperbaiki. Di sudut lain, warga menjahit jala.

Memasuki lorong kampung, Marini (35), istri Mustaya, berdiri di toko kelontong yang ia bangun di beranda rumah di RT 018, RW 004, Desa Lontar. Di sana, Marini menjual minuman kemasan, mi instan, juga gorengan. Toko ini menjadi sumber penghasilan utama keluarga setelah Mustaya jarang melaut.

”Melaut hanya sesekali ketika memang tidak ada kerjaan lain. Kakinya masih sering nyeri,” kata ibu dua anak ini.

Monday, November 30, 2015

Kompas Edisi Senin 30 November 2015

Kompas Edisi Senin 30 November 2015

Reklamasi Ubah Wajah Jakarta

Dua Dekade Pro-Kontra Penataan Halaman Depan Ibu Kota


JAKARTA, KOMPAS — Wajah Teluk Jakarta mulai berubah dengan dibangunnya pulau-pulau reklamasi. Namun, pro dan kontra masih terus mengemuka. Sejumlah pihak mendesak pemerintah transparan dan meminta jaminan kepastian ada antisipasi dampak buruk sejak awal.

Perubahan fisik di Teluk Jakarta mulai terjadi tiga tahun lalu. Dengan perahu nelayan, Kompas menelusuri perairan itu, mulai dari perairan Kamal Muara di perbatasan DKI Jakarta dan Kabupaten Tangerang hingga Tanjung Priok, Jakarta Utara, pertengahan November 2015.

Hasilnya, perubahan wajah laut Jakarta benar terasa. Daratan baru hasil reklamasi telah terbentuk di tiga lokasi, yakni di Kamal Muara, Pluit, dan Ancol.

Mayoritas warga Jakarta barangkali belum tahu ada proyek besar di halaman depan kotanya ini. Selain letak proyek-proyek itu di tengah perairan, tak sembarang orang bebas menapaki lokasinya. Petugas keamanan siaga di sejumlah tempat.


ASIAN GAMES

Persiapan Indonesia Baru di "Level Dua"


JAKARTA, KOMPAS — Dewan Olimpiade Asia (OCA) mendesak Pemerintah Republik Indonesia menggenjot persiapan Asian Games 2018, khususnya terkait pengadaan arena dan sarana fisik, seperti wisma atlet. OCA menilai persiapan Indonesia baru berada di "level dua", dari maksimal lima.

"Hal krusial yang dihadapi Indonesia adalah waktu. Saat ini situasinya mencemaskan. Anda bisa saja punya banyak anggaran, tetapi jika tak segera dimulai, uang besar tak bisa menolong. Perlu langkah cepat dan komitmen pemerintah," ujar Direktur Departemen Asian Games OCA Haider Farman, Minggu (29/11), di Jakarta. Tertundanya pengerjaan sarana fisik, ungkap pejabat OCA asal Kuwait itu, juga pernah terjadi di Incheon, Korea Selatan, yang menggelar Asian Games 2014. Apalagi, anggaran Asian Games di Incheon sempat dipangkas.

Namun, keterbatasan anggaran itu mampu ditutupi oleh perencanaan dan koordinasi baik antara Pemerintah Korsel dan otoritas lokal di Incheon. Menurut Haider, arena dan sarana fisik hanya salah satu unsur yang harus disiapkan tuan rumah. Hal lain yang harus siap, antara lain, manajemen panitia, relawan, transportasi, sarana teknologi dan informasi, dan akomodasi panitia.


KELAUTAN

Dialog Bahas Pungutan Hasil Ikan


JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah diminta membuka ruang dialog dengan pengusaha perikanan tangkap untuk menyelesaikan polemik pungutan hasil perikanan. Kenaikan tarif pungutan hasil perikanan untuk perikanan tangkap hingga 1.000 persen menuai penolakan dari pengusaha penangkapan ikan dalam negeri.

Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Arif Satria, saat dihubungi di Jakarta, Minggu (29/11), mengemukakan, ruang dialog diperlukan untuk menumbuhkan transparansi antara pemerintah dan pelaku usaha.

Kekisruhan terkait penetapan kenaikan pungutan hasil perikanan (PHP) dinilai tidak perlu terjadi jika pemerintah menjelaskan dasar perhitungan dan pelaku usaha terbuka dengan pelaporan hasil tangkapan.

Sunday, November 29, 2015

Kompas Edisi Minggu 29 November 2015

Kompas Edisi Minggu 29 November 2015

OCA Cemaskan Kesiapan Indonesia


JAKARTA, KOMPAS — Dewan Olimpiade Asia mencemaskan kesiapan Indonesia menggelar pesta olahraga akbar Asian Games yang, menurut rencana, digelar Agustus 2018. OCA akan memantau ketat realisasi renovasi arena, khususnya pembangunan wisma atlet di Kemayoran, yang terus tertunda.

"Itu (persiapan arena dan infrastruktur pendukung Asian Games), terus terang, memang mengkhawatirkan. Ini sebuah acara besar, bukan program kecil. Kami masih percaya, masalah-masalah itu bisa diatasi. Mudah-mudahan tidak terlalu lama karena bisa berdampak besar pada keberlangsungan Asian Games," kata Direktur Departemen Asian Games Dewan Olimpiade Asia (OCA), Haider Farman, di sela-sela Forum Regional OCA, di Jakarta, Sabtu (28/11). 

Indonesia ditunjuk OCA menjadi tuan rumah Asian Games ke-18 menggantikan Vietnam yang mengundurkan diri, sejak September 2014. Namun, hingga kini, renovasi arena tanding di Jakarta dan Palembang, Sumatera Selatan, belum berjalan. Peletakan batu pertama pembangunan Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta, yang seharusnya September lalu, gagal dilakukan dan diundur ke Februari 2016.

LIGA SPANYOL 

Neymar Semakin Bersinar, Barcelona Terus Menggelegar


BARCELONA, SABTU — Neymar Jr semakin bersinar dan membawa Barcelona terus menggelegar di puncak klasemen Liga Spanyol. Neymar mencetak 2 gol dan 1 asis sehingga Barcelona menekuk Real Sociedad dengan skor 4-0, Sabtu (28/11), di Stadion Nou Camp, Barcelona, Spanyol.

Dengan tambahan dua gol, Neymar menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Spanyol dengan 14 gol.  Produktivitas penyerang Brasil itu juga melebihi pemain terbaik Eropa tahun ini sekaligus rekan setimnya, Lionel Messi. 

Neymar bersinar saat Messi absen dua bulan karena cedera. Saat Messi kembali ke lapangan, sinar Neymar tidak kunjung redup dan justru kian mengilap. 

KEBINEKAAN 

Merdeka Berbudaya dalam Zapin


Tari dan musik zapin membuktikan bahwa dialog dan pergaulan budaya tumbuh di negeri ini. Zapin yang berasal dari Timur Tengah, direspons oleh seniman di sejumlah daerah menjadi zapin yang mengindonesia. Temu Zapin Nasional di Jakarta, 28-29 November, merayakan kemerdekaan berbudaya itu.

Ekspresi zapin dalam Temu Zapin yang berlangsung di Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, amat beragam, baik dari sisi busana, musik, maupun gerakan. Simak, misalnya, penampilan Zapin Darussalam dari Sumatera Selatan. Penampil zapin, yang digunakan dalam berdakwah ini, mengenakan baju serba putih serta melantunkan lagu-lagu berbahasa Arab. Dengan gerakan-gerakan tenang dan lembut, mereka menari sambil bernyanyi. 

Berbeda dengan penampilan zapin yang dibawakan penari dari Sanggar Permata Ije Jela, Kalimantan Selatan. Dengan pakaian serba merah yang berhias pernak-pernik berkilau, mereka menari secara rancak. Mereka memadukan beberapa gerakan seperti susun sirih, langkah lima, dan buang anak. Gerakan bertempo lamban, sedang, kemudian cepat memukau penonton.