Sunday, July 26, 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 26 Juli 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 26 Juli 2015

Distribusi Bantuan Terkendala

Pengiriman ke Kampung Terpaksa Dipikul

KUYAWAGE, KOMPAS Bantuan bahan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan anak bagi korban bencana cuaca ekstrem di Kabupaten Lanny Jaya, Papua, sudah sampai di sejumlah distrik atau kecamatan dan jumlahnya mencukupi. Meski demikian, distribusi bantuan ke kampung-kampung sulit dilakukan karena tak bisa dijangkau pesawat.
Kampung-kampung itu hanya bisa dijangkau helikopter. Namun, karena ketiadaan helikopter, distribusi bantuan ke kampung-kampung yang dilanda bencana cuaca ekstrem terpaksa mengandalkan tenaga angkut manusia dengan dipikul berjalan kaki semalam.

Berdasarkan pemantauan Kompas, bantuan untuk Kabupaten Lanny Jaya antara lain diturunkan di Lapangan Terbang Mume di Distrik Kuyawage. Lokasi ini juga dijadikan tempat pengungsian sementara warga dan posko kesehatan.

Dari Mume, bantuan disalurkan ke kampung-kampung di Distrik Kuyawage (8 kampung) dan Wano Barat (11 kampung). Penyaluran bantuan terpaksa menggunakan tenaga angkut manusia dengan jarak tempuh terjauh sekitar semalaman berjalan kaki.

PILKADA SERENTAK

Partai Politik Gagal Berikan Pembelajaran

JAKARTA, KOMPAS Fenomena calon tunggal dalam pemilihan umum kepala daerah serentak 9 Desember 2015 membuktikan kegagalan partai politik dalam menjalankan pembelajaran politik dan demokrasi kepada publik. Dugaan adanya mahar politik untuk calon ”boneka” mereduksi nilai demokrasi yang menjadi tujuan pilkada langsung.
Peneliti senior pada Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro, berpendapat, ada kesalahan dalam mekanisme pilkada langsung karena parpol tidak direformasi terlebih dahulu.

”Sejak awal, yang dibahas seputar sistem pemilihan langsung atau tidak langsung. Semestinya direformasi dulu parpolnya. Sebab, yang terjadi saat ini, proses demokratisasi terhambat. Tujuan dari rakyat, untuk rakyat yang diusung, putus di tengah jalan,” kata Siti di Jakarta, Sabtu (25/7).

Regulasi pilkada terbaru, yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 yang bertujuan mengoreksi praktik pilkada sebelumnya, juga belum mampu mengubah budaya politik lama. ”Sudah disebutkan dalam undang-undang baru, yang diketahui menggunakan mahar politik ada penaltinya. Namun, tampaknya UU baru belum mampu memangkas mata rantai money politics,” ujarnya.

Kecelakaan Cipali

Kesiapan Pengendara Jadi Kunci Selamat

MAJALENGKA, KOMPAS Kesiapan fisik pengendara pada arus mudik dan balik Lebaran menjadi kunci utama dalam menjamin keselamatan perjalanan. Pada Jumat (24/7) pukul 23.13 kembali terjadi kecelakaan yang menimpa pemudik di Tol Cikopo-Palimanan. Kecelakaan terjadi diduga karena pengemudi mengantuk.
Kecelakaan itu melibatkan minibus Toyota Innova dengan bus Setia Negara yang berjalan dari arah berlawanan. Tujuh penumpang minibus tewas dalam kecelakaan tersebut dan satu penumpang lainnya kritis.

Kecelakaan itu terjadi di wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yakni pada Kilometer (KM) 166. Lokasi tabrakan tepat berada di bawah jembatan layang Jatiwangi, Majalengka. Sebuah spanduk besar bertuliskan ”Ngebut = Maut” terpampang di sisi jembatan itu.

Sebelumnya, tidak jauh dari lokasi tersebut, yakni pada KM 178, masih di wilayah Majalengka, juga terjadi kecelakaan yang menewaskan tujuh pemudik akibat mobil Daihatsu Gran Max yang mereka tumpangi menabrak truk tangki yang sedang berhenti, 6 Juli. Penyebab kedua kecelakaan itu sama, yakni pengemudi yang mengantuk.

Kepala Kepolisian Daerah Jabar Inspektur Jenderal Moechgiyarto yang meninjau lokasi kecelakaan pada pagi harinya mengatakan, kejadian itu murni karena kelalaian pengemudi minibus. Pengemudi diperkirakan hilang konsentrasi karena kelelahan atau mengantuk.