Selasa, 21 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Selasa, 21 Oktober 2014


Kompas, Edisi, Selasa, 21 Oktober 2014

Bergerak Bersama demi Indonesia Raya


JAKARTA, KOMPAS — Joko Widodo-Jusuf Kalla telah sah menjadi Presiden-Wakil Presiden RI 2014-2019. Rakyat pun tumpah ruah di jalan melampiaskan kegembiraan. Mereka bergerak bersama menyambut datangnya harapan baru.

Sejak upacara pelantikan di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Senin (20/10) pagi hingga malam, rakyat merayakannya dengan penuh sukacita berjubel di jalan-jalan, bak lautan manusia.

Seusai pelantikan, saat Jokowi-JK menaiki kereta kencana menuju Istana Merdeka, warga berebut bersalaman. Sejumlah barisan parade juga memeriahkan arak-arakan. Masyarakat dengan senang menyaksikan pawai budaya tersebut.

Kendati petang sudah berubah menjadi panas dan pengap oleh aroma keringat, tak ada yang mau meninggalkan tempatnya berdiri. Kerumunan semakin padat bak lautan manusia. Mereka bergerombol menuju tugu Monas untuk menghadiri acara Syukuran Rakyat Konser Salam Tiga Jari.

SYUKURAN RAKYAT

”Kami Ingin Menjadi Saksi Sejarah...”


JAM menunjukkan pukul 13.30. Inilah saat yang ditunggu. Warga yang sudah berjam-jam menanti di Bundaran Hotel Indonesia langsung merangsek ke depan, sambil berteriak serentak, ”Jokowi... Jokowi....” Dari atas kereta kuda, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyalami rakyat yang menyemut di bawah terik matahari.

Di depan wakil rakyat di Gedung MPR/DPR/DPD, Jokowi-JK mengenakan jas. Di tengah rakyat, mereka melepas jas. Tinggallah baju ”kebesaran” putih, warna yang juga dikenakan ribuan warga di sekitarnya. Kereta kuda yang membawa mereka berjalan tersendat. Para petugas berupaya menyibak massa guna memberi ruang kepada kereta untuk lewat. Jokowi-JK melambaikan tangan sambil mengacungkan salam tiga jari ke arah massa. Sesekali keduanya mencoba meraih tangan-tangan yang berebut menyalami. Mereka yang berhasil bersalaman berteriak girang.

Di tengah massa yang berdesakan, Ramzani (46), pria asal Sulawesi Utara yang menggunakan kursi roda, larut dalam euforia. Ia datang ke Jakarta sendiri untuk menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Dengan peluh yang berlelehan di wajah, Ramzani mengibarkan bendera Merah Putih. ”Semoga pemerintahan Jokowi lebih peduli kepada warga yang cacat,” katanya.

TAJUK RENCANA

Saatnya Langsung Bekerja!


TRANSISI kekuasaan yang mulus disertai ungkapan syukur rakyat menyambut Jokowi-Jusuf Kalla sebagai pemimpin baru akan tercatat dalam sejarah bangsa.

Peristiwa politik 20 Oktober 2014 menandakan kian matangnya demokrasi Indonesia. Kita bersyukur sekaligus bangga atas capaian demokrasi itu semua. Pengucapan sumpah Joko Widodo sebagai Presiden dihadiri presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono, presiden kelima Megawati Soekarnoputri, dan presiden ketiga BJ Habibie. Semua ketua umum partai politik hadir, termasuk Prabowo Subianto, rival Joko Widodo dalam Pemilihan Umum Presiden 9 Juli 2014.

Transisi kekuasaan kali ini tidak hanya milik elite politik, tetapi juga milik masyarakat. Sejak pagi hingga siang hari lautan manusia berdiri di pinggir jalan untuk menyambut presiden dan wakil presiden pilihan rakyat, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, dalam perjalanan dari Gedung MPR ke Istana Merdeka dan Monas. Di Istana Merdeka, dilakukan lepas sambut Susilo Bambang Yudhoyono kepada Presiden Joko Widodo. Sebuah tradisi politik elegan.

Peralihan kekuasaan itu sendiri disambut positif pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada angka 5.040 atau naik 0,24 persen setelah mencapai angka 5.100 dan terkena aksi ambil untung. Meningkatnya IHSG dan menguatnya rupiah atas dollar AS itu menandakan tingginya ekspektasi publik terhadap pemerintahan baru.

Senin, 20 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Senin, 20 Oktober 2014

Kompas, Edisi, 20 Oktober 2014

Kekuasaan untuk Rakyat

HARI ini, Senin 20 Oktober 2014, pukul 10.00, Joko Widodo akan dilantik Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai Presiden RI periode 2014-2019. Kekuasaan, bagi sebagian orang, sering dianggap segala-galanya. Demi memuaskan nafsu berkuasa, tak sedikit pula yang menghalalkan segala cara memperebutkannya, lalu menyalahgunakannya.

Bagaimana Joko Widodo memaknai kekuasaan besar yang kini sudah ada dalam genggamannya itu?

Dalam bincang-bincang dengan redaksi Kompas, pekan lalu, Joko Widodo yang lahir dari rakyat biasa itu ternyata mempunyai pandangan-pandangan dengan perspektif yang berbeda dari politisi kebanyakan. Gayanya pun masih apa adanya. Meski akan menjadi RI-1, tidak banyak yang berubah darinya.

Perangainya ramah dan hangat, bicaranya masih apa adanya, tak jauh beda saat dia masih menjadi rakyat biasa, pengusaha kayu, menjadi Wali Kota Surakarta selama dua periode, ataupun saat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Kalaupun ada perubahan, hanya sedikit. Sekarang dia terkadang berpikir sejenak sebelum berbicara.


Pelantikan Jokowi Mempersatukan

Banyak Perwakilan Negara Akan Hadir


JAKARTA, KOMPAS — Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla hari ini, Senin (20/10), pukul 10.00, akan mempersatukan semua tokoh politik di negeri ini. Para presiden terdahulu dan semua ketua umum partai politik akan hadir dalam acara kenegaraan ini. Banyak pemimpin negara pun turut menyaksikan.
Berdasarkan informasi dari Sekretaris Jenderal MPR, dipastikan presiden ke-3 RI BJ Habibie, presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, dan presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono bisa hadir. Sementara itu, mendiang Presiden Abdurrahman Wahid diwakili Ny Sinta Nuriyah.

Para ketua umum partai politik juga hadir, yaitu Megawati Soekarnoputri (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), Aburizal Bakrie (Partai Golkar), Susilo Bambang Yudhoyono (Partai Demokrat), Hatta Rajasa (Partai Amanat Nasional), Muhaimin Iskandar (Partai Kebangkitan Bangsa), Anis Matta (Partai Keadilan Sejahtera), Romahurmuziy (Partai Persatuan Pembangunan), Surya Paloh (Partai Nasdem), Wiranto (Partai Hanura), dan Sutiyoso (Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia). Hanya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang belum ada kepastian.


Pelantikan Presiden 

Kisah Kereta, Kusir, dan Kudanya


JIKA rencana tak berubah, kereta kuda karya Anwar Muhtadi dipakai Joko Widodo pada pawai budaya seusai pelantikannya sebagai presiden ketujuh RI. Walaupun panitia belum memberi kepastian, hati Anwar sudah berbunga-bunga. Dia datang ke Jakarta melihat karyanya menjadi bagian peristiwa penting negeri ini.
Kereta itu saya buat sederhana. Bisa dibilang, bukan kereta kencana yang megah. Hanya kereta biasa saja yang bergaya modern. Bahkan, saya tidak memberi nama khusus,” kata Anwar, yang berdomisili di Solo, Jawa Tengah.

Kereta kuda karya Haji Anwar Muhtadi selama ini disimpan di Museum Seni Rupa dan Keramik, Kota Tua, Jakarta Barat. Satu kereta lagi disimpan di Anjungan Provinsi DKI Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Sebelum dipakai Jokowi, panitia Syukuran Rakyat menugaskan tim khusus kembali mengecek dan memugar beberapa bagian kereta. Persiapan yang berlangsung lebih dari sepekan itu dilakukan dengan menyapukan kuas di badan kereta, meronai kembali setiap sudut kereta dengan warna hitam dan kuning emas.

Minggu, 19 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Minggu, 19 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Minggu, 19 Oktober 2014


Pawai Pelantikan Presiden

Gelaran Pesta Rakyat dari Rakyat

Antusiasme berbagai kelompok masyarakat terlibat dalam acara Syukuran Rakyat mengantar presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla menuju Istana Negara begitu tinggi. Mereka datang tidak hanya dengan sumbangan ide kreatif dan tenaga, tetapi juga makanan dan kebutuhan lain.
Relawan Jokowi Presiden Wong Cilik menyumbang konsumsi berupa 25.000 nasi bungkus, 10.000 dus air mineral gelas, 50 peti buah jeruk dengan setiap peti seberat 16-20 kilogram, dan 5.000 bungkus makanan ringan. Total nilai sumbangan mencapai Rp 385 juta. Konsumsi tersebut akan dibagikan kepada masyarakat saat acara syukuran.

Ketua Umum Relawan Jokowi Presiden Wong Cilik Aminudin, di Jakarta, Kamis (16/10), mengatakan, sumbangan itu dikumpulkan dari sekitar 1.000 relawan yang berasal dari seluruh Indonesia. Mereka antara lain dari kalangan nelayan, petani, dan wiraswasta.

Geladi Bersih

Jokowi Ulangi Sejumlah Adegan

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah adegan dalam geladi bersih pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019 Joko Widodo dan Jusuf Kalla, Sabtu (18/10), harus diulang. Pengulangan itu atas permintaan Jokowi.
Adegan yang dikoreksi dan diulang antara lain saat penandatanganan berita acara serah terima jabatan. Jokowi meminta agar di atas mimbar tidak perlu ada petugas protokoler dan ajudan.

Demikian juga saat penutupan pelantikan ketika petugas protokoler hanya menyebut jabatan presiden dan wakil presiden. Jokowi meminta agar namanya dan nama Jusuf Kalla disebut. Saat pembacaan sumpah presiden, ajudan yang tadinya selalu menempel diminta tetap berada di belakang kursi.

Dalam acara di Gedung MPR itu hadir Ketua MPR Zulkifli Hasan serta para wakil ketua MPR, yakni EE Mangindaan, Hidayat Nur Wahid, Oesman Sapta, dan Mahyudin. Pada geladi bersih sebelum pelantikan Senin besok itu, Jokowi meminta penambahan sesi bersalaman dengan para ketua fraksi seusai pembacaan doa. Saat ditanya wartawan, Jokowi mengatakan tidak ada persiapan khusus kecuali banyak makan dan minum.

Untuk Sang Presiden

Menjelang pesta Syukuran Rakyat, Senin besok, Olga Lydia deg-degan. Ia sibuk wara-wiri menghubungi para artis untuk terlibat dalam acara ini. Semua dikerjakan dari hati. Begitu juga Nia Dinata. Ia langsung terjun terlibat meskipun masih jet lag dari perjalanan keliling Eropa. Sruti Respati pun punya cerita. Jokowi hampir membantunya mengangkat koper. Semua sayang Jokowi. Semua berharap pada Sang Presiden.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Sabtu, 18 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Sabtu, 18 Oktober 2014

Jokowi-Prabowo Beri Optimisme

Persatuan Bangsa Terjalin Kembali


JAKARTA, KOMPAS — Pertemuan presiden terpilih Joko Widodo dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang juga rivalnya dalam Pemilu Presiden 2014, melahirkan optimisme baru. Pertemuan itu menunjukkan, ketegangan politik telah mencair dan persatuan bangsa terjalin kembali.

Pertemuan Prabowo dan Joko Widodo, Jumat (17/10), berlangsung penuh keakraban di kediaman keluarga Prabowo di Jalan Kertanegara Nomor 4, Jakarta. Ini merupakan pertemuan pertama kedua orang itu seusai bertarung di kancah Pemilu Presiden 2014.

Dalam pertemuan itu, Prabowo mengucapkan selamat kepada Joko Widodo dan menyampaikan akan berusaha keras untuk datang ke acara pelantikan Joko Widodo-Jusuf Kalla, 20 Oktober mendatang.

Rekonsiliasi nasional

Pasar Kian Yakin pada Pemerintahan Baru


JAKARTA, KOMPAS — Respons positif di lantai Bursa Efek Indonesia terjadi sejak awal perdagangan ketika tersiar kabar akan ada pertemuan Joko Widodo-Prabowo Subianto, Jumat (17/10). Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan sempat turun ke level terendah, yaitu 4.953,49, saat perdagangan berlangsung 37 menit sebelum kemudian berbalik arah hingga penutupan. Kondisi ini membuat investor makin yakin dengan masa depan pemerintahan baru.

Indeks pun kembali menembus level psikologis 5.000. Pada akhir perdagangan, indeks naik 77,33 poin (1,56 persen) ke level 5.028,95. Perdagangan lebih ramai daripada biasanya dengan nilai mencapai Rp 8,05 triliun.

Perdagangan didominasi investor domestik dengan angka persentase sebesar 55 persen. Di tengah perburuan saham investor domestik, investor asing mencatat penjualan bersih sebesar Rp 691 miliar sehingga menyisakan pembelian bersih Rp 42,36 triliun jika dilihat sejak awal tahun ini.

PELANTIKAN Presiden

Bu Noto yang Apa Adanya


 AKTIF , mandiri, dan sederhana. Itulah kesan yang muncul dari sosok Sudjiatmi Notomihardjo (72). Penampilan dan pembawaannya tetap apa adanya seperti biasa. Begitu pula suasana di rumahnya. Dua hari lagi, anak sulungnya, Joko Widodo, akan dilantik sebagai presiden ketujuh RI.

Sehari menjelang keberangkatannya ke Jakarta, perempuan yang akrab disapa Bu Noto ini masih jalan kaki keliling Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/10) pagi. Kostumnya berupa seragam kaus hitam dan celana panjang hitam yang dipadu kerudung ungu dan sepatu kets putih buatan dalam negeri. Langkahnya cepat yang menunjukkan ia terbiasa berolahraga dan cukup bugar untuk orang seusianya.

Jalan kaki pada Jumat pagi adalah acara rutinnya setiap pekan. Begitu juga pengajian setiap Kamis malam, yang digelar di rumahnya di Kelurahan Sumber, Banjarsari, Solo. Hanya saja, pengajian malam itu diikuti kerabat, tetangga, anak yatim piatu, serta santri dan kiai dari sejumlah pondok pesantren.

Selasa, 14 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Selasa, 14 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Selasa, 14 Oktober 2014


Asap Kian Resahkan Warga

Sektor Transportasi Merugi Puluhan Miliar Rupiah


PALEMBANG, KOMPAS — Warga Palembang, Sumatera Selatan, makin resah oleh gangguan kabut asap yang dalam dua pekan terakhir kian parah. Kualitas udara memburuk hingga beberapa kali berstatus berbahaya bagi makhluk hidup dengan indeks standar pencemaran udara di atas 300.

Kondisi serupa dari pengamatan Kompas sepekan terakhir terjadi di Riau, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Kabut asap seperti tak tertangani karena beragam upaya pemadaman oleh pemerintah tak berhasil dan makin merugikan masyarakat.

”Hidup di Palembang dua pekan terakhir ini mengerikan. Untuk bernapas saja sulit,” ujar Dinda Wulandari, karyawan swasta, di Palembang, Senin (13/10). Ia mengkhawatirkan dampak asap yang tersusun dari sejumlah zat kimia dan abu sisa pembakaran itu berdampak pada pertumbuhan janin di kandungannya.

Teknologi Informasi

Miliarder Kelas Dunia ”Blusukan” ke Tanah Abang


KEBIASAAN Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo blusukan tersiar ke penjuru dunia. Walau bukan hal baru, pendekatan langsung ke rakyat ini menjadi ikon Jokowi yang kini berstatus presiden terpilih negara ini. Beberapa pejabat negara asing penasaran dengan model pendekatan itu. Kali ini pendiri media sosial Facebook, Mark Zuckerberg, pun penasaran.

Zuckerberg mengetahui informasi itu dari pemberitaan media. Saat bertemu Jokowi di Balai Kota Jakarta, Senin (13/10), Zuckerberg menanyakan langsung. ”Apa istilah untuk menyebut aktivitas Bapak turun ke masyarakat?” tanya Zuckerberg kepada Jokowi dalam bahasa Inggris.

Jokowi menjelaskan aktivitas itu disebut dengan blusukan. ”Apa? Blesekan?” kata Zuckerberg. ”Bukan, blu-su-kan,” ujar Jokowi membenarkan.

Perundungan

M Nuh Minta Sekolah Dikenai Sanksi


JAKARTA, KOMPAS — Kasus perundungan (bullying) terhadap DAN (12), siswa kelas V SD Trisula Perwari, di Bukittinggi, Sumatera Barat, oleh teman-temannya menunjukkan pengelola sekolah lalai mengawasi siswa saat jam pelajaran sekolah berlangsung. Oleh karena itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh meminta Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi memberikan sanksi kepada pengelola SD Trisula Perwari.

”Kami tidak akan lepas tangan. Segera Dinas Pendidikan (Bukittinggi) kami perintahkan untuk memanggil kepala sekolah dan guru untuk menjelaskan duduk perkaranya. Mereka juga harus diberi sanksi,” kata Nuh, di Jakarta, Senin (13/10).

DAN menjadi korban perundungan teman-temannya pada 18 September 2014. Namun, kasusnya baru mencuat setelah videonya muncul di Youtube, Sabtu lalu (Kompas, 13/10).

Sabtu, 11 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Sabtu, 11 Oktober 2014

 
Kompas, Edisi, Sabtu, 11 Oktober 2014

Ebola Mencemaskan Dunia

Beberapa Negara di Asia Siap Bantu Afrika Barat


WASHINGTON DC, KOMPAS — Wabah ebola Afrika Barat menjalar liar dan mencemaskan dunia. Sejumlah negara memeriksa ketat arus manusia di bandara, hotel, dan lokasi yang disinggahi orang yang terjangkit ebola. Di Jakarta, Kementerian Kesehatan menegaskan siap mengantisipasi penanganan penyakit akibat virus ebola.

Rasa cemas tak hanya terlihat di negara-negara Afrika, tetapi juga di Amerika, Eropa, bahkan Asia. Warga Taiwan mulai khawatir setelah otoritas kesehatan mengisolasi seorang perempuan asal Nigeria di Rumah Sakit Taoyuan, Kamis (9/10), untuk memastikan status kesehatannya.

Wartawan Kompas, Dewi Indriastuti, dari Washington DC, AS, melaporkan, Presiden Bank Dunia Jim Yong-kim menyerukan tindakan cepat mengendalikan wabah ebola. Sierra Leone, Liberia, dan Guinea sudah merasakan dampak ekonomi.
Sedikitnya 6 juta anak tak bisa bersekolah. Tanpa aksi segera, masa depan Afrika terancam.

HADIAH NOBEL PERDAMAIAN

Penerima Termuda, Pejuang Hak-hak Anak


OSLO, JUMAT — Aktivis muda asal Pakistan, Malala Yousafzai (17), dan pejuang hak-hak anak asal India, Kailash Satyarthi (60), berbagi Hadiah Nobel Perdamaian 2014. Mereka layak mendapatkan penghargaan prestisius itu berkat perjuangan melawan penindasan terhadap anak-anak dan pembelaan akan hak-hak pendidikan bagi anak-anak di dunia.

Dalam pengumuman peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2014 di Oslo, Norwegia, Jumat (10/10), Komite Nobel Norwegia menyatakan, penghormatan terhadap hak-hak anak dan pemuda adalah prasyarat bagi pembangunan global yang damai.

”Anak-anak harus bersekolah dan tidak dieksploitasi secara finansial. Di negara-negara miskin di dunia, 60 persen dari populasi mereka saat ini berusia di bawah 25 tahun,” ungkap komite yang bertanggung jawab memilih peraih Hadiah Nobel Perdamaian setiap tahun itu di laman resmi nobelprize.org.

Kreativitas

Perempuan-perempuan ”Super” asal Malang


 SUKSES seorang diri tidak lebih membanggakan dibandingkan dengan menyukseskan banyak orang. Sukses mengajak orang lebih berdaya adalah keberhasilan yang tidak ternilai. Rasa itulah yang menjadi dasar para perempuan dari Kota Malang ini tidak ingin sukses sendirian.

Mereka mengajak perempuan-perempuan lain, khususnya pekerja rumahan atau bahkan yang tidak memiliki pekerjaan, untuk mandiri. Peny Budi Astuti (45), ibu rumah tangga asal Plaosan Timur, Kota Malang, Jawa Timur, adalah salah satu sosok tersebut. Sejak melepaskan pekerjaannya sebagai karyawan teladan di hipermarket di Kota Malang, atas permintaan suami dan tuntutan keluarga, Peny harus membiasakan diri tidak memiliki aktivitas lain, selain menjadi ibu rumah tangga.

Saat tiga anaknya beranjak dewasa, rasa sepi mulai mengisi hari-hari Peny. Itu sebabnya, tahun 2007, Peny mulai belajar membuat kerajinan tangan dari bahan manik-manik, seperti yang diajarkan tetangganya. Tidak lama, Peny membuka kursus gratis untuk mengajari orang membuat manik-manik. Usaha manik-manik ibu tiga anak itu terus berkembang.

Jumat, 10 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Jumat, 10 Oktober 2014

Kompas, Edisi,Jumat, 10 Oktober 2014

Letusan Sinabung

Tiga Penerbangan Batal, Belasan Ditunda


KARO, KOMPAS — Tiga penerbangan dibatalkan dan belasan penerbangan ditunda di Bandara Internasional Kualanamu, Kamis (9/10), akibat aktivitas Gunung Sinabung. Kemarin terjadi 24 kali guguran awan panas di Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pukul 00.00 hingga 18.00.

”Hingga Kamis petang masih ada pesawat yang terlambat datang,” kata Dewandono Prasetyo Nugroho dari Humas PT Angkasa Pura I di Medan, kemarin. Jarak Bandara Kualanamu sekitar 100 kilometer dari Sinabung.

Di Bandara Kualanamu, Kamis dini hari hingga subuh, petugas menyemprot landasan. Tiga pesawat Garuda Indonesia jurusan Jeddah dan dua pesawat Bombardier dibersihkan.

Masalah Bangsa Sangat Besar

Pasar Akan Merespons Positif apabila Dua Kepentingan Bertemu


JAKARTA, KOMPAS — Mereka yang terlibat dalam manuver politik perlu duduk bersama apabila ingin pasar dan pebisnis merespons positif. Masalah bangsa sangat besar dan kompleks sehingga tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu kelompok.

Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung dalam pidato peluncuran buku Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru, di Jakarta, Kamis (9/10), mengatakan, bangsa Indonesia terlalu besar, terlalu majemuk, dan terlalu kompleks kalau hanya dibangun oleh satu kelompok. Dengan demikian, kerja sama semua pihak menjadi keniscayaan.

Zamannya sekarang, menurut Chairul, perlu ada kerja sama antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pemerintah tidak mungkin jalan sendiri tanpa dukungan legislatif dan yudikatif.

”Fragmentasinya sekarang sudah tidak masuk akal. Saya harus bicara karena saya tidak ada di kanan dan di kiri. Saya harus bicara sebagai anak bangsa,” kata Chairul.

Tanggul Laut

Pemerintah Terbuka untuk Dievaluasi


JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah membuka peluang evaluasi pada pembangunan tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta pada tahap II dan III. Detail desain dimungkinkan berubah jika terbukti salah atau kurang tepat. Kini, pemerintah fokus pada penguatan dan peninggian tanggul di pesisir pantai tahap I.

”Detailnya terus diperbaiki, ditinjau, dan disesuaikan perkembangannya. Bersama dengan dimulainya tahap I ini, pemerintah juga memperbaiki hulu dan aliran sungai-sungai yang mengalir di Jakarta agar air yang masuk semakin baik,” kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak seusai mencanangkan pembangunan tanggul laut tahap I di Muara Baru, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (9/10).

Turut hadir Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana, serta Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Sarwo Handayani.