Senin, 27 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Senin, 27 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Senin, 27 Oktober 2014

 

Saatnya Bekerja


JAKARTA, KOMPAS — Setelah enam hari dilantik, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Minggu (26/10), akhirnya mengumumkan susunan kabinetnya di Istana Kepresidenan. Senin siang ini, 34 menterinya itu akan dilantik. Banyak pihak pun berharap pemerintahan baru ini segera bekerja mewujudkan janji-janjinya.
Kemarin, saat mengumumkan kabinetnya, Presiden Joko Widodo menekankan kepada jajaran kabinetnya untuk bekerja. Jokowi bahkan menamakan kabinetnya tersebut dengan nama Kabinet Kerja.

Pengumuman kabinet pun digelar jauh dari suasana formal. Semua menteri mengenakan baju putih lengan panjang yang tergulung setengah lengan.

Saat memperkenalkan menterinya dan memanggil satu per satu untuk berdiri berjejer di sampingnya, Presiden bahkan beberapa kali meminta menterinya itu untuk langsung berlari. ”Lari, Pak, lari...,” kata Presiden.

Pada acara pelantikan hari ini pun, berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas, Presiden Jokowi tidak mengharuskan para menteri mengenakan jas, tetapi cukup mengenakan batik karena diminta langsung segera bekerja.

KABINET KERJA

Partai Non-pemerintah Meragukan


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah politisi dari partai politik yang bukan anggota koalisi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla mempertanyakan pemilihan menteri dan penyusunan nomenklatur di Kabinet Kerja. Mereka mengingatkan, harapan masyarakat terhadap pemerintahan JKW-JK amat tinggi.
Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR Edhie Baskoro Yudhoyono, Minggu (26/10), bahkan mempertanyakan beberapa hal mendasar dalam Kabinet Kerja.

”Ketika Kementerian Kehutanan digabung dengan Kementerian Lingkungan Hidup, apa logika dan alasannya? Ketika terjadi tantangan perubahan iklim, mengapa justru peran Kementerian Lingkungan Hidup dikecilkan?” ujar Edhie Baskoro yang biasa dipanggil Ibas itu.

Ibas, yang merupakan putra presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, juga mempertanyakan pembagian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi dua kementerian serta penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) ke Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi. ”Bagaimana pengaturan anggaran pendidikan?” katanya.

ANGGOTA KABINET

Air Mata bagi Susi


AIR mata Jeje Wiradinata menetes di wajahnya yang sangar saat menatap layar televisi. Ia tidak pernah menyangka temannya sejak kecil, Susi Pudjiastuti (49), dipilih Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, Minggu (26/10). Melihat kegigihan Susi, ia tak khawatir menatap masa depan perikanan dan kelautan untuk lima tahun ke depan.
”Jangan disia-siakan. Ini saatnya membagikan pengalaman mengangkat kesejahteraan pelaku usaha kelautan dan perikanan di Indonesia,” kata Jeje, yang kini menjabat Wakil Bupati Ciamis, Jawa Barat, Minggu.

Susi, kata Jeje, memulai usaha sebagai pengepul ikan yang gigih dari pantai selatan Jawa Barat. Ia mengumpulkan ikan dari beberapa tempat pendaratan ikan yang tak mudah dijangkau, mulai Palabuhanratu, Cidaun, Ujung Genteng, Pameungpeuk, Rancabuaya, dan Pangandaran di Jawa Barat, Gombong di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, hingga Prigi, Sendang Biru, dan Pacitan di Jawa Timur.

TAJUK RENCANA

Kerja, Kerja, dan Kerja!


MASA penantian publik itu akhirnya berakhir hari Minggu, 26 Oktober 2014, saat Presiden Joko Widodo mengumumkan ke-34 nama menteri.
Ke-34 menteri, enam di antaranya perempuan dan merupakan gabungan dari politisi dan profesional, dilantik Presiden Jokowi hari Senin, 27 Oktober. Penyusunan kabinet yang diwarnai dengan tarik-menarik kekuatan politik baru bisa rampung enam hari setelah Jokowi dilantik sebagai Presiden.

Ditinjau dari sisi waktu, enam hari menyusun kabinet sebenarnya sama dengan waktu yang dipakai Presiden KH Abdurrahman Wahid saat mengumumkan Kabinet Persatuan Nasional tahun 1999. Sementara pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri dibutuhkan waktu 15 hari untuk menyusun Kabinet Gotong Royong. Adapun pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berlangsung cepat dan diumumkan sehari setelah Yudhoyono dilantik.

Lamanya pembentukan kabinet Jokowi-Jusuf Kalla selain karena tarik-menarik kepentingan juga karena Presiden Jokowi meminta rekomendasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tentang rekam jejak calon menteri. Beberapa calon menteri yang diandalkan mendapat catatan dari KPK. Pelibatan KPK dan PPATK adalah tradisi baru yang dilakukan Jokowi untuk menciptakan kabinet yang bersih.

Jumat, 24 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Jumat, 24 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Jumat, 24 Oktober 2014


Gunakan Optimal Hak Prerogatif

Kelompok Kepentingan Jangan Recoki Presiden


JAKARTA, KOMPAS — Tiga hari setelah pelantikan, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla belum juga menyelesaikan pembentukan kabinet. Tarik-menarik kepentingan diduga menjadi penyebabnya. Presiden Jokowi diminta mengoptimalkan hak prerogatifnya.
Partai-partai politik, kelompok-kelompok kepentingan, atau orang-orang yang berada di sekeliling JKW-JK diharapkan memberikan keleluasaan bagi Presiden untuk menggunakan hak prerogatifnya dalam menyusun kabinet, jangan merecoki.

”Kompromi mungkin terjadi dalam pembentukan kabinet, tetapi transaksi harus diharamkan. Partai hanya berhak memberikan nama sebagai input dan proses seleksi harus tetap diberikan sepenuhnya kepada presiden terpilih,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya, Kamis (23/10).

Di tengah harapan besar masyarakat dan dukungan minoritas di parlemen, JKW-JK dituntut membangun kabinet yang kuat dan dipercaya publik sehingga bisa tercipta program-program pro rakyat yang akan ”memaksa” parlemen mendukungnya.

Gerakan Ekstrem

Kanada Bertekad Tumpas Terorisme


OTTAWA, KAMIS — Perdana Menteri Kanada Stephen Harper hari Kamis (23/10) bertekad akan menggandakan upaya menumpas organisasi teroris setelah ibu kota Ottawa diguncang aksi teror yang dilakukan seorang pria bersenjata yang mengamuk di gedung Parlemen Kanada. PM Harper mengatakan, Kanada tidak akan terintimidasi oleh aksi teror tersebut.
Sesaat setelah seorang pria bersenjata menembak mati seorang tentara di Monumen Perang Nasional di pusat kota Ottawa pada Rabu pagi, pria yang membawa senjata tersebut kemudian memasuki gedung Parlemen Kanada dan dikejar oleh polisi. Pria bersenjata itu tewas setelah diberondong puluhan peluru tak begitu jauh dari posisi PM Harper yang saat itu sedang rapat dengan anggota parlemen.

Ini merupakan serangan yang kedua pada pekan ini dengan target personel militer Kanada karena Kanada turut bergabung dengan Amerika Serikat untuk menumpas militan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). ”Kanada tak akan pernah terintimidasi,” kata Harper dalam tayangan televisi setelah penembakan tersebut.

Pendidikan

Kawah Candradimuka ”Atlet” Olimpiade Sains


SERUPA atlet bintang, murid-murid berbakat sains direkrut dan dilatih jauh-jauh hari. Merekalah ”pasukan khusus” yang akan turununtuk bertarung di arena ”olimpiade otak” lokal, nasional, dan internasional.
Samuel Henry Kurniawan (17), murid SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, duduk tenang di kelas. Matanya melekat ke rumus yang tertera di papan tulis. Siswa Brilliant Class (BC) XII alias kelas brilian yang pada Juli silam memperoleh medali emas Olimpiade Biologi Internasional itu bertanya kepada guru Kimia, Wira Reppi, tentang rumus tersebut. Dua murid lain ikut menyimak Wira yang kemudian menjelaskan. Hanya ada mereka berempat di kelas itu.

”Kelas khusus persiapan olimpiade, muridnya sedikit,” kata Wira di Serpong, beberapa waktu lalu. Totalnya ada 16 siswa BC X, 8 siswa BC XI, dan 10 siswa BC XII.

”Karena jumlah murid sedikit, ditambah kecerdasan yang tinggi, metode belajar mereka dengan berdiskusi,” ujar Wakil Kepala Sekolah Koordinator BC Dewi Widiananda. Kelas brilian dibentuk sejak 2008. Murid dengan kecerdasan sains di atas rata-rata dihimpun.


Kamis, 23 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Kamis, 23 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Kamis, 23 Oktober 2014


Enam Kementerian Diubah

KPK Minta Calon Bertanda ”Merah” dan ”Kuning” Jangan Dipilih


JAKARTA, KOMPAS — Jelang finalisasi penyusunan menteri Kabinet Indonesia Hebat, Presiden Joko Widodo meminta pertimbangan DPR dalam perubahan nomenklatur terhadap enam nama kementerian. Selain untuk meningkatkan kinerja, juga proporsionalitas beban tugas pemerintah.
Dalam surat Presiden Jokowi kepada Ketua DPR Setya Novanto tertanggal 21 Oktober 2014 disebutkan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perumahan Rakyat yang selama ini terpisah digabung menjadi satu dengan nama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Adapun Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif diubah menjadi Kementerian Pariwisata saja. Namun, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset dan Teknologi dipecah menjadi Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar, dan Menengah serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

PELEPASAN JOKOWI

Dari Taman Suropati ke Istana


ACARA pelepasan Joko Widodo dari rumah dinas Gubernur DKI Jakarta ke Istana Kepresidenan terasa berbeda. Keakraban pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta luntur oleh protokoler istana. Mereka datang ke rumah di Jalan Taman Suropati Nomor 7 Jakarta dengan mimik tegang.
Tidak banyak pejabat yang sempat tersenyum saat melintasi pintu pemeriksaan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Wajah kaku juga ditampakkan Deputi Gubernur DKI Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Sarwo Handayani. Sarwo menjalani pemeriksaan seperti semua tamu lain yang masuk ke rumah peninggalan Belanda tersebut.

Hal serupa terjadi pada Kepala Dinas Perhubungan DKI M Akbar. Pria yang biasanya ramah itu tak banyak bicara. Wartawan yang menyapanya hanya mendapat respons sepotong-sepotong. Sarwo, Akbar, dan semua pejabat DKI seperti buru-buru mengejar waktu.

ANGGARAN DAERAH

Mobil Mewah untuk Ketua DPRD Riau


PEKANBARU, KOMPAS — Pemerintah Provinsi Riau sedang melakukan proses lelang pengadaan ratusan mobil mewah untuk kendaraan dinas anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Riau serta pejabat eselon dua dan tiga. Setidaknya anggaran pengadaan itu tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan 2014 Provinsi Riau senilai Rp 70 miliar.
Menurut Usman, Koordinator Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran Riau, Rabu (22/10), dalam mata anggaran itu disebutkan, Ketua DPRD Riau Suparman akan mendapat dua mobil dinas mewah senilai Rp 4,9 miliar. Dua mobil tersebut terdiri dari satu Toyota Land Cruiser dan satu sedan Toyota Crown. Adapun untuk 54 anggota DPRD lainnya dipersiapkan jenis mobil SUV yang pagu anggarannya masing-masing mencapai Rp 500 juta.

”Luar biasa pemborosan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Riau ini. Untuk seorang pejabat saja, anggaran mobil dinasnya hampir Rp 5 miliar. Pemerintah Provinsi Riau memang belum sadar menggunakan dana APBD secara efisien dan efektif untuk kepentingan rakyat,” kata Usman.

Selasa, 21 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Selasa, 21 Oktober 2014


Kompas, Edisi, Selasa, 21 Oktober 2014

Bergerak Bersama demi Indonesia Raya


JAKARTA, KOMPAS — Joko Widodo-Jusuf Kalla telah sah menjadi Presiden-Wakil Presiden RI 2014-2019. Rakyat pun tumpah ruah di jalan melampiaskan kegembiraan. Mereka bergerak bersama menyambut datangnya harapan baru.

Sejak upacara pelantikan di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Senin (20/10) pagi hingga malam, rakyat merayakannya dengan penuh sukacita berjubel di jalan-jalan, bak lautan manusia.

Seusai pelantikan, saat Jokowi-JK menaiki kereta kencana menuju Istana Merdeka, warga berebut bersalaman. Sejumlah barisan parade juga memeriahkan arak-arakan. Masyarakat dengan senang menyaksikan pawai budaya tersebut.

Kendati petang sudah berubah menjadi panas dan pengap oleh aroma keringat, tak ada yang mau meninggalkan tempatnya berdiri. Kerumunan semakin padat bak lautan manusia. Mereka bergerombol menuju tugu Monas untuk menghadiri acara Syukuran Rakyat Konser Salam Tiga Jari.

SYUKURAN RAKYAT

”Kami Ingin Menjadi Saksi Sejarah...”


JAM menunjukkan pukul 13.30. Inilah saat yang ditunggu. Warga yang sudah berjam-jam menanti di Bundaran Hotel Indonesia langsung merangsek ke depan, sambil berteriak serentak, ”Jokowi... Jokowi....” Dari atas kereta kuda, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyalami rakyat yang menyemut di bawah terik matahari.

Di depan wakil rakyat di Gedung MPR/DPR/DPD, Jokowi-JK mengenakan jas. Di tengah rakyat, mereka melepas jas. Tinggallah baju ”kebesaran” putih, warna yang juga dikenakan ribuan warga di sekitarnya. Kereta kuda yang membawa mereka berjalan tersendat. Para petugas berupaya menyibak massa guna memberi ruang kepada kereta untuk lewat. Jokowi-JK melambaikan tangan sambil mengacungkan salam tiga jari ke arah massa. Sesekali keduanya mencoba meraih tangan-tangan yang berebut menyalami. Mereka yang berhasil bersalaman berteriak girang.

Di tengah massa yang berdesakan, Ramzani (46), pria asal Sulawesi Utara yang menggunakan kursi roda, larut dalam euforia. Ia datang ke Jakarta sendiri untuk menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Dengan peluh yang berlelehan di wajah, Ramzani mengibarkan bendera Merah Putih. ”Semoga pemerintahan Jokowi lebih peduli kepada warga yang cacat,” katanya.

TAJUK RENCANA

Saatnya Langsung Bekerja!


TRANSISI kekuasaan yang mulus disertai ungkapan syukur rakyat menyambut Jokowi-Jusuf Kalla sebagai pemimpin baru akan tercatat dalam sejarah bangsa.

Peristiwa politik 20 Oktober 2014 menandakan kian matangnya demokrasi Indonesia. Kita bersyukur sekaligus bangga atas capaian demokrasi itu semua. Pengucapan sumpah Joko Widodo sebagai Presiden dihadiri presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono, presiden kelima Megawati Soekarnoputri, dan presiden ketiga BJ Habibie. Semua ketua umum partai politik hadir, termasuk Prabowo Subianto, rival Joko Widodo dalam Pemilihan Umum Presiden 9 Juli 2014.

Transisi kekuasaan kali ini tidak hanya milik elite politik, tetapi juga milik masyarakat. Sejak pagi hingga siang hari lautan manusia berdiri di pinggir jalan untuk menyambut presiden dan wakil presiden pilihan rakyat, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, dalam perjalanan dari Gedung MPR ke Istana Merdeka dan Monas. Di Istana Merdeka, dilakukan lepas sambut Susilo Bambang Yudhoyono kepada Presiden Joko Widodo. Sebuah tradisi politik elegan.

Peralihan kekuasaan itu sendiri disambut positif pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada angka 5.040 atau naik 0,24 persen setelah mencapai angka 5.100 dan terkena aksi ambil untung. Meningkatnya IHSG dan menguatnya rupiah atas dollar AS itu menandakan tingginya ekspektasi publik terhadap pemerintahan baru.

Senin, 20 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Senin, 20 Oktober 2014

Kompas, Edisi, 20 Oktober 2014

Kekuasaan untuk Rakyat

HARI ini, Senin 20 Oktober 2014, pukul 10.00, Joko Widodo akan dilantik Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai Presiden RI periode 2014-2019. Kekuasaan, bagi sebagian orang, sering dianggap segala-galanya. Demi memuaskan nafsu berkuasa, tak sedikit pula yang menghalalkan segala cara memperebutkannya, lalu menyalahgunakannya.

Bagaimana Joko Widodo memaknai kekuasaan besar yang kini sudah ada dalam genggamannya itu?

Dalam bincang-bincang dengan redaksi Kompas, pekan lalu, Joko Widodo yang lahir dari rakyat biasa itu ternyata mempunyai pandangan-pandangan dengan perspektif yang berbeda dari politisi kebanyakan. Gayanya pun masih apa adanya. Meski akan menjadi RI-1, tidak banyak yang berubah darinya.

Perangainya ramah dan hangat, bicaranya masih apa adanya, tak jauh beda saat dia masih menjadi rakyat biasa, pengusaha kayu, menjadi Wali Kota Surakarta selama dua periode, ataupun saat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Kalaupun ada perubahan, hanya sedikit. Sekarang dia terkadang berpikir sejenak sebelum berbicara.


Pelantikan Jokowi Mempersatukan

Banyak Perwakilan Negara Akan Hadir


JAKARTA, KOMPAS — Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla hari ini, Senin (20/10), pukul 10.00, akan mempersatukan semua tokoh politik di negeri ini. Para presiden terdahulu dan semua ketua umum partai politik akan hadir dalam acara kenegaraan ini. Banyak pemimpin negara pun turut menyaksikan.
Berdasarkan informasi dari Sekretaris Jenderal MPR, dipastikan presiden ke-3 RI BJ Habibie, presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, dan presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono bisa hadir. Sementara itu, mendiang Presiden Abdurrahman Wahid diwakili Ny Sinta Nuriyah.

Para ketua umum partai politik juga hadir, yaitu Megawati Soekarnoputri (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), Aburizal Bakrie (Partai Golkar), Susilo Bambang Yudhoyono (Partai Demokrat), Hatta Rajasa (Partai Amanat Nasional), Muhaimin Iskandar (Partai Kebangkitan Bangsa), Anis Matta (Partai Keadilan Sejahtera), Romahurmuziy (Partai Persatuan Pembangunan), Surya Paloh (Partai Nasdem), Wiranto (Partai Hanura), dan Sutiyoso (Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia). Hanya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang belum ada kepastian.


Pelantikan Presiden 

Kisah Kereta, Kusir, dan Kudanya


JIKA rencana tak berubah, kereta kuda karya Anwar Muhtadi dipakai Joko Widodo pada pawai budaya seusai pelantikannya sebagai presiden ketujuh RI. Walaupun panitia belum memberi kepastian, hati Anwar sudah berbunga-bunga. Dia datang ke Jakarta melihat karyanya menjadi bagian peristiwa penting negeri ini.
Kereta itu saya buat sederhana. Bisa dibilang, bukan kereta kencana yang megah. Hanya kereta biasa saja yang bergaya modern. Bahkan, saya tidak memberi nama khusus,” kata Anwar, yang berdomisili di Solo, Jawa Tengah.

Kereta kuda karya Haji Anwar Muhtadi selama ini disimpan di Museum Seni Rupa dan Keramik, Kota Tua, Jakarta Barat. Satu kereta lagi disimpan di Anjungan Provinsi DKI Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Sebelum dipakai Jokowi, panitia Syukuran Rakyat menugaskan tim khusus kembali mengecek dan memugar beberapa bagian kereta. Persiapan yang berlangsung lebih dari sepekan itu dilakukan dengan menyapukan kuas di badan kereta, meronai kembali setiap sudut kereta dengan warna hitam dan kuning emas.

Minggu, 19 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Minggu, 19 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Minggu, 19 Oktober 2014


Pawai Pelantikan Presiden

Gelaran Pesta Rakyat dari Rakyat

Antusiasme berbagai kelompok masyarakat terlibat dalam acara Syukuran Rakyat mengantar presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla menuju Istana Negara begitu tinggi. Mereka datang tidak hanya dengan sumbangan ide kreatif dan tenaga, tetapi juga makanan dan kebutuhan lain.
Relawan Jokowi Presiden Wong Cilik menyumbang konsumsi berupa 25.000 nasi bungkus, 10.000 dus air mineral gelas, 50 peti buah jeruk dengan setiap peti seberat 16-20 kilogram, dan 5.000 bungkus makanan ringan. Total nilai sumbangan mencapai Rp 385 juta. Konsumsi tersebut akan dibagikan kepada masyarakat saat acara syukuran.

Ketua Umum Relawan Jokowi Presiden Wong Cilik Aminudin, di Jakarta, Kamis (16/10), mengatakan, sumbangan itu dikumpulkan dari sekitar 1.000 relawan yang berasal dari seluruh Indonesia. Mereka antara lain dari kalangan nelayan, petani, dan wiraswasta.

Geladi Bersih

Jokowi Ulangi Sejumlah Adegan

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah adegan dalam geladi bersih pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019 Joko Widodo dan Jusuf Kalla, Sabtu (18/10), harus diulang. Pengulangan itu atas permintaan Jokowi.
Adegan yang dikoreksi dan diulang antara lain saat penandatanganan berita acara serah terima jabatan. Jokowi meminta agar di atas mimbar tidak perlu ada petugas protokoler dan ajudan.

Demikian juga saat penutupan pelantikan ketika petugas protokoler hanya menyebut jabatan presiden dan wakil presiden. Jokowi meminta agar namanya dan nama Jusuf Kalla disebut. Saat pembacaan sumpah presiden, ajudan yang tadinya selalu menempel diminta tetap berada di belakang kursi.

Dalam acara di Gedung MPR itu hadir Ketua MPR Zulkifli Hasan serta para wakil ketua MPR, yakni EE Mangindaan, Hidayat Nur Wahid, Oesman Sapta, dan Mahyudin. Pada geladi bersih sebelum pelantikan Senin besok itu, Jokowi meminta penambahan sesi bersalaman dengan para ketua fraksi seusai pembacaan doa. Saat ditanya wartawan, Jokowi mengatakan tidak ada persiapan khusus kecuali banyak makan dan minum.

Untuk Sang Presiden

Menjelang pesta Syukuran Rakyat, Senin besok, Olga Lydia deg-degan. Ia sibuk wara-wiri menghubungi para artis untuk terlibat dalam acara ini. Semua dikerjakan dari hati. Begitu juga Nia Dinata. Ia langsung terjun terlibat meskipun masih jet lag dari perjalanan keliling Eropa. Sruti Respati pun punya cerita. Jokowi hampir membantunya mengangkat koper. Semua sayang Jokowi. Semua berharap pada Sang Presiden.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Sabtu, 18 Oktober 2014

Kompas, Edisi, Sabtu, 18 Oktober 2014

Jokowi-Prabowo Beri Optimisme

Persatuan Bangsa Terjalin Kembali


JAKARTA, KOMPAS — Pertemuan presiden terpilih Joko Widodo dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang juga rivalnya dalam Pemilu Presiden 2014, melahirkan optimisme baru. Pertemuan itu menunjukkan, ketegangan politik telah mencair dan persatuan bangsa terjalin kembali.

Pertemuan Prabowo dan Joko Widodo, Jumat (17/10), berlangsung penuh keakraban di kediaman keluarga Prabowo di Jalan Kertanegara Nomor 4, Jakarta. Ini merupakan pertemuan pertama kedua orang itu seusai bertarung di kancah Pemilu Presiden 2014.

Dalam pertemuan itu, Prabowo mengucapkan selamat kepada Joko Widodo dan menyampaikan akan berusaha keras untuk datang ke acara pelantikan Joko Widodo-Jusuf Kalla, 20 Oktober mendatang.

Rekonsiliasi nasional

Pasar Kian Yakin pada Pemerintahan Baru


JAKARTA, KOMPAS — Respons positif di lantai Bursa Efek Indonesia terjadi sejak awal perdagangan ketika tersiar kabar akan ada pertemuan Joko Widodo-Prabowo Subianto, Jumat (17/10). Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan sempat turun ke level terendah, yaitu 4.953,49, saat perdagangan berlangsung 37 menit sebelum kemudian berbalik arah hingga penutupan. Kondisi ini membuat investor makin yakin dengan masa depan pemerintahan baru.

Indeks pun kembali menembus level psikologis 5.000. Pada akhir perdagangan, indeks naik 77,33 poin (1,56 persen) ke level 5.028,95. Perdagangan lebih ramai daripada biasanya dengan nilai mencapai Rp 8,05 triliun.

Perdagangan didominasi investor domestik dengan angka persentase sebesar 55 persen. Di tengah perburuan saham investor domestik, investor asing mencatat penjualan bersih sebesar Rp 691 miliar sehingga menyisakan pembelian bersih Rp 42,36 triliun jika dilihat sejak awal tahun ini.

PELANTIKAN Presiden

Bu Noto yang Apa Adanya


 AKTIF , mandiri, dan sederhana. Itulah kesan yang muncul dari sosok Sudjiatmi Notomihardjo (72). Penampilan dan pembawaannya tetap apa adanya seperti biasa. Begitu pula suasana di rumahnya. Dua hari lagi, anak sulungnya, Joko Widodo, akan dilantik sebagai presiden ketujuh RI.

Sehari menjelang keberangkatannya ke Jakarta, perempuan yang akrab disapa Bu Noto ini masih jalan kaki keliling Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/10) pagi. Kostumnya berupa seragam kaus hitam dan celana panjang hitam yang dipadu kerudung ungu dan sepatu kets putih buatan dalam negeri. Langkahnya cepat yang menunjukkan ia terbiasa berolahraga dan cukup bugar untuk orang seusianya.

Jalan kaki pada Jumat pagi adalah acara rutinnya setiap pekan. Begitu juga pengajian setiap Kamis malam, yang digelar di rumahnya di Kelurahan Sumber, Banjarsari, Solo. Hanya saja, pengajian malam itu diikuti kerabat, tetangga, anak yatim piatu, serta santri dan kiai dari sejumlah pondok pesantren.